Naskah
Teater:
“MATA AIR AIR MATA”
Karya: Anselmus D. Atasoge
Synopsis:
Dunia zaman sekarang bagaikan dunia homo
homoni lupus, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lain.
Perbedaan-perbedaan latar belakang adat budaya, agama, suku, pilihan politis,
arah kepentingan ekonomis dan lain-lainnya menjadi latar belakang lahirnya
keadaan yang demikian? Siapa yang memulai? Siapa yang bertanggungjawab? Siapa
yang mengakhirinya?
Jika manusia itu sendiri tidak mengakhirinya,
maka air matanya terus tertumpah. Dan pada saatnya, air mata-air mata yang satu
akan melahirkan konflik. Dan, konflik yang satu pada akhirnya
melahirkan konflik yang lain, hingga air mata berubah menjadi sungai air mata
yang terus melahirkan konflik-konflik baru.
Konflik-konflik sejatinya membuat manusia
ditendang ke titik nol. Di sana ada kekacauan, di sana tak ada kedamaian. Yang
ada hanyalah kesengsaraan dan kesusahan. Susah mencari pekerjaan, susah mencari
makan. Dan pada akhirnya manusia-manusia yang demikian terdepak dalam
“kekeringan kehidupan”. Di sana air matapun tertumpah!
(Bunyi
genderang perang bertalu)
Adegan: Muncullah 6 orang, terpisah dalam 2 kelompok. Masing-masing mereka meliliti kelompoknya dengan selembar kain
hitam dan bergerak mengelilingi panggung dua kali sembari berterik histeris, saling menuding,
mencemooh, hingga pada putaran ketiga terjadi baku hantam antara mereka.
Orang-orang berguguran. Dan mereka berusaha menegakkan tubuh mereka.
Aktor : [bergerak
mengelilingi orang-orang pelan-pelan
seperti sedang berpantomim. Dia meneteng sebuah lantera dan
seakan mencari sesuatu yang tengah hilang dari pandangannya.Di tengah panggung
ia seolah berkotbah]
Jiwa pertiwiku meratapi kepergian kecerahannya.
Air matanya membasahi beribu tanah hati membentuk alur berkelok-kelok.
Aku tenggelamkan jiwa
murniku ke dasar alur itu.
Dan…sesudahnya… bukit-bukit pertiwiku tenggelam oleh air mata.
Kata terakhir menyadarkan orang-orang itu dan serentak berseru bersama:
Orang-Orang:
AIR MATA????
Orang-orang yang terkapar seolah-olah bergerak.
Lalu bangkit sempoyongan. Tapi mereka seakan berada di dunia lain. Bingung,
heran, seakan tak tahu apa yang baru terjadi dan apa yang akan terjadi
selanjtunya.
Orang
1 : Air mata siapa?
Orang
2 : Air mata manusia?
Aktor : B u k a n !!!!!
Orang
3 : Air mata binatang?
Aktor : B u k a n !!!!!
Orang
4 : Air mata setan?
Aktor : B u k a n !!!!!
Orang
5 : Air mata langit?
Aktor : B u k a n !!!!!
Orang 6
: Kalau demikian air mata apa
itu?
Aktor : Air mata dari mata beribu jiwa yang mengalir ke tanah kita.
Dan….. dari tanah ini ia
akan diteteskan pada nurani kita.
Sesungguhnya bumi kami tengah kehabisan mata
air.
Yang ada hanyalah mata air air mata.
Dan kini…..mata air air mata sedang mengaliri
jiwa-jiwa di negeri ini.
Yah….jiwa-jiwa yang tak terhindarkan dari kesibukan yang
tak terbantahkan
Jiwa-jiwa yang telah remuk di tebing-tebing waktu
Jiwa-jiwa yang terdepak dari kegagahan kekuasaan
dan jiwa-jiwa yang kalah lari dari kejaran badai zaman
Orang-orang
: Tiiiiiddddaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!
Terdengar
bunyi gendang dan gong tak rapih, tindis-menindis, seakan memekakan telinga.
Orang-orang menutup telinga rapat-rapat.
Dua gadis dari arah yang berlawanan muncul
sambil menjujung bambu berisi air. Bergerak mengelilingi orang-orang dan sang
actor. Actor lalu bergerak mengikuti arah gerak mereka sambil menyinari mereka
dengan lanteranya dari arah belakang.
Gadis 1: [tengadah ke langit/Dinyanyikan]
Ratu Tuan
Rera Wulan
Pencipta
Langit Dan Bumi
Berilah Kami
Kekuatan
untuk mempertahankan hidup di dunia ini
Gadis 2: [tengadah ke langit/Dinyanyikan]
Beribu abad bumi kami amat subur
Kampung kami indah damai
Hanya satu
kesulitan kami
Bambu-bambu kami telah lama mengering
Yang ada hanyalah air mata
[kedua gadis menghilang ke kiri dan kanan
panggung.
Sang actor mengambil posisi di tengah-tengah
panggung. Duduk bersila membaca mantra sambil membakar kemenyan]
Actor: [ucapkan cepat-cepat.
Pada saat itu orang-orang bergerak mengelilingi
sang aktor]
Tobo naeng teti kelen lolong/Ia berdiam di atas awan
Teti wang pulu pito/Pada tingkat yang ketujuh puluh
Tobo naeng ia ekang miteng/Tinggal di tempat gelap
Pae naeng teti rung bada/Di atas langit yang gulita
Teti wang pulu pito/Di atas tingkat awan ke tujuh
puluh
Lali wade pulu lema/Di bawah bumi yang ke lima
puluh
Teti Esa lein
lodo/Yang di atas turunlah
Lali sorong limang
gere /Yang di bawah kemarilah
Denge koda baing
kiring/Dengarlah apa yang kami katakan
Denge umeng baing lamak /Dengarlah apa yang kami pinta
[orang-orang bangkit satu per satu. Bergerak
mengelilingi sang actor]
Actor:
Negeri
kita di ambang kocar kacir. Orang-orang
saling menuduh. Politikus saling unjuk jago…ya….jago bikin ulah, jago bikin bisnis
proyek…….. padahal aku dan kau tengah dihinggapi kekeringan dan kelaparan memanggil
bersahut-sahutan. Mereka juga
sebenarnya …..jago korupsi.
Orang-orang:
Hahahahahahaaaaaaaa……
Actor:
Ssttttt……..jangan ketawa keras-keras.
Orang-orang:
Kenapa?
Actor:
Jika kalian tertawa keras-keras….matamu bisa
berkaca-kaca, lalu menerawang jauh…ya….jauh dari diri kalian hingga air matamu
tertumpah dan membasahi pipimu dan tanah ini…….ketika dia tertumpah kalian
mesti tahu akibatnya…..
Orang-orang:
[serentak]
Apa akibatnya??????
Actor:
Air matamu akan melahirkan konflik.
Ya konflik antar penduduk. Dia pasti memecah dengan gagah dan orang-orang di tanah yang telah mengering beribu abad ini akan kehilangan harta dan nyawa. Namun di tengah
kekocar-kaciran itu orang-orang dengan gagah berani bangkit berebut kekuasaan
dan hak serta harta orang lain. Mereka ingin memuaskan dirinya di atas tanah yang telah kehabisan mata air ini. Haruskah semuanya ini berlalu begitu saja?
Setujukah kita dengan semuanya ini? Mari kita menabuh genderang perang atasnya
dan menggendongnya ke pelataran mata
air kita yang telah mengering. Padanya tak pernah ada air mata.
[dua
gadis muncul dengan bambu di kepala. Orang-orang merapat ke sang actor. Adegan
terakhir berlangsung sambil kedua gadis menumpahkan isi bambu ke atas sang
actor dan orang-orang]
Aktor: [berlutut sambil menengadah ke langit]
Tak
ada yang menjadi tuan atas tanah di bumi ini. Kami adalah satu. Janganlah kami
dipecah-pecahkan. Kami berkumpul bersama karena disatukan oleh nasih yang sama.
Orang-orang
merapat , saling merangkul.
Aktor: “Kami adalah
makluk-makluk yang terkulai di atas bukit batu setelah kami lukisi langit
pertiwi dengan berdarah jari”
Semua Orang:
Kasihanilah kami semua!!!!
Aktor: Kami
putera-puteri korban politik adu domba,
baik kami ini domba maupun bukan, dengan ini menyatakan tak mau lagi diadu
domba. Kami tak mau lagi diobok-obok.
Semua
Orang: Kasihanilah kami semua!!!!
Aktor: Kami putera-puteri
korban politik adu domba, baik kami ini
domba atau bukan dengan in menyatakan berbangsa satu, bangsa bebas dari politik
pecah-pecah. Bertanah air satu, tanah air bebas dari politik baku hantam.
Berbahasa satu, bahasa bebas dari politik tuduh-menuduh.
Semua
Orang: Kasihanilah kami semua!!!
Orang-orang bangun
berdiri bersejajar. Barisan disejajarkan!
Lagu : Hanya Debulah Aku
Hanya debulah aku
Di alas kakimu Langit
Hauskan mata air
Sabda penuh ampun
Tak layak aku tengadah menatap cahyaMu
Tak layak aku tengadah di depan tahtaMu
Aktor : (Pada saat lagu didengungkan…….)
Mari
kita tinggalkan tanah yang
penuh air mata ini!
Kita pergi menanami beribu
harapan pada mata air kita
Kita hiasi air mata
sahabat-sahabat kita dengan harapan-harapan itu
Dan…kita taburkan
sebagiannya pada kekeringan di
tanah ini
Agar kita tidak
terus meratapi kepergian kecerahannya.
Orang-Orang:
Aminnnnn…….!!!!
Aminnnnn……..!!!!
Aminnnnn……..!!!!
(sambil tinggalkan
panggung)
Larantuka, bulan passio
pada sebuah tengah malam di awal
Maret 2013
Izin mau dipentaskan di gereja yaa..
ReplyDelete