Tuesday, January 13, 2015

Menjadi Lelehan



 Prolog

Ketika nagi kumpul tuang lilen

Mama-mama kami bersua cepat-cepat

dan berdendang

Mari jemput rumah lebah

Biar dia diberi arti

Buat Pembebas dan Jiwa kita

Mama kami memanas air

Merebus rumah lebah

Menuang gagah dengan mata kedap-kedip

Di sampingnya, tetua kami menyembul senyum

San Juan tinggal sejengkal langkah

Jangan lupa gendong benang

Biar tuang di tempat pasti

Jangan budi melalang-buana

Biar tak tumpah di pinggiran lain

Tangan-tangan menekan cepat-cepat

Jangan sampai dia terkaku tanpa sentuhan

Mari jemari buang langkah

Ketika nagi kembali kumpul peresa lilen

Mama-mama kami kembali bersua

Lilen disiap buat parade seribu lilin

Parade bermandi cahaya hingga Nagi terang benderang

Jangan jiwa bersembunyi wajah

Biar derita menindih-nindih

Mari kita menjemput Terang yang datang pasti di gelap kita

Jika San Juan tiba dengan gagah

Menegak berbaris pada kukung bambu

Memutih pandang di senja tiba

Memerah nyala pada malam syukur

Menyambut Pembebas yang lewat gagah

Mengiring langkah-langkah yang berbeban

Memandang segala hingga terpandang dalam

Mengangkat kami hingga dihinggap wajah bermandi terang

Tantum ergo memecah sunyi

Terang lilen menyembul pada sumbu

Meleleh panas hingga melebar jarak

Memandang ziarah sejuta soal:

Tangis rintih para janda yang hilang suami

Rintihan mereka yang tak punya bekal buat secuil kebutuhan perut

Gelisah mereka yang berjemur di Pasar Inpres

Gundah mereka yang kehilangan pembeli di Pasar Senja

Tarikan nafas para kaum buruh di emperan took

Seribu dendang minta maaf para tukang ojek yang terkejar setoran

Makian ibu-ibu muda tak kala sang suami bermuka dua setelah menegak alkohol yang bertumpah-rua

Teriakan para orang tua yang suaranya tak terdengar para kekasih hatinya

Kini…..

Sembulan lilen menyambut segalanya, memberi arti yang enggan pudar

Lilen sebatang, lilen memandang pada adaku

Lilen segenggam, lilen memandang pada ada kita

Lilen sejuta, lilen memandang pada dunia

Jangan kami cuma menunggu serah punto dama

Jadi saksi terang pembebas

Biar San Juan tak terus bersorak di padang gurun

Dan…..

Kristus tak terus merintih dengan perut yang kosong

Dari Sarang Lebah

ke Sejuta Soal

24 Juni adalah saat yang dirindukan kedatangannya dan kehadirannya. Saat Orang-Orang San Juan memperingati hari jadi pelindung parokinya: San Juan (Santo Yohanes Pembabtis). Yang membuat hari itu jadi lain dari hari-hari peringatan seorang santo-santa dalam gereja katolik adalah bentuk dan gaya peringatannya. Tiga hari sebelum hari ‘H’ ada triduum di tiap-tiap gabungan (komunitas umat basis). Setelah perayaan ekaristi pada 24 Juni pagi, Orang-Orang San Juan bergegas sibuk untuk menyiapkan acara prosesi (persisan) di malam harinya. Prosesi ini disebut prosesi San Juan. Dalam prosesi ini patung Yohanes Pembabtis diarak bersama Sakramen Mahakudus melewati 7 armida (tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan dan disembah) yang disiapkan oleh 7 lingkungan yang ada di Paroki San Juan (Kampung Tengah, Gege, Lebao, Riang Nyiur, Tabali, Weri, Kota Sau-Rowido). Prosesi dimulai dari Gereja San Juan melewati 7 armida yang dibangun di 4 lingkungan (Kampung Tengah, Lebao, Riang Nyiur, Tabali; tidak di Gege, Weri, Kota Sau-Rowido yang letak lingkungannya dirasa terlalu jauh dan panjang kalau rute persisan harus juga melewati lingkungan-lingkungan ini) dan berakhir kembali di Gereja. Patung Yohanes Pembabtis berada pada posisi depan Sakramen Mahakudus. Orang-Orang San Juan diingatkan bahwa Yohanes Pembabtis adalah penyiap datangnya Yesus Tuhan, Juruselamat dan Pembebas.

Malam persisan adalah malam penuh gemerlap. Hiasan warna-warni terpampang di sana-sini, mulai dari dalam Gereja sampai di armida-armida dan sepanjang rute perjalanan Sakramen Mahakudus dan San Juan. Ribuan lilin diikat jejer, baris-berbaris indah dan rapih pada pagar-pagar (dari kayu yang disebut kukung dan bambu) yang disiapkan khusus untuknya pada setiap kiri dan kanan badan jalan. Lilin-lilin menyembulkan cahaya yang jika dipandang dalam-dalam menghantar para peziarah (semua mereka yang ikut dalam barisan persisan: mereka adalah Orang-Orang San Juan) untuk menyatukan dirinya dengan bumi yang sedang dipijaki dan langit di atas sana yang sedang menyaksikan parade religius yang khusyuk itu.



Epilog

“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku,

ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan

mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12)

dan …..

“Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh. 9:5)

Maka dari itu, wahai saudara-saudariKu,

anak-anakKu, murid-muridKu,

Orang-Orang San JuanKu,

Para Peziarah yang sedang Sendiri-Sendiri,

Yang Remuk-Redam

dan

yang sedang berziarah dalam kegelapan………

kalian semua yang mengikuti Aku, Terang Sejati dan Sempurna………

“Kamu adalah (juga) terang dunia.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,

Supaya mereka melihat perbuatanmu

Yang baik

Dan,

Memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14.16)

Datanglah berbaris sejurus tanpa takut dan malu

Mari KITA bercahaya di dalam kegelapan hingga KITA menguasainya

Janganlah takut hatimu sebab,

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,

sedang datang ke dalam dunia” (Yoh. 1:9)

duniamu, dunianya dan dunia KITA.

Lebao, Mei 2011

No comments:

Post a Comment