Prolog
Ketika nagi kumpul tuang lilen
Mama-mama kami bersua cepat-cepat
dan berdendang
Mari jemput rumah lebah
Biar dia diberi arti
Buat Pembebas dan Jiwa kita
Mama kami memanas air
Merebus rumah lebah
Menuang gagah dengan mata kedap-kedip
Di sampingnya, tetua kami menyembul senyum
San Juan tinggal sejengkal langkah
Jangan lupa gendong benang
Biar tuang di tempat pasti
Jangan budi melalang-buana
Biar tak tumpah di pinggiran lain
Tangan-tangan menekan cepat-cepat
Jangan sampai dia terkaku tanpa sentuhan
Mari jemari buang langkah
Ketika nagi kembali kumpul peresa lilen
Mama-mama kami kembali bersua
Lilen disiap buat parade seribu lilin
Parade bermandi cahaya hingga Nagi terang benderang
Jangan jiwa bersembunyi wajah
Biar derita menindih-nindih
Mari kita menjemput Terang yang datang pasti di gelap kita
Jika San Juan tiba dengan gagah
Menegak berbaris pada kukung bambu
Memutih pandang di senja tiba
Memerah nyala pada malam syukur
Menyambut Pembebas yang lewat gagah
Mengiring langkah-langkah yang berbeban
Memandang segala hingga terpandang dalam
Mengangkat kami hingga dihinggap wajah bermandi terang
Tantum ergo memecah sunyi
Terang lilen menyembul pada sumbu
Meleleh panas hingga melebar jarak
Memandang ziarah sejuta soal:
Tangis rintih para janda yang hilang suami
Rintihan mereka yang tak punya bekal buat secuil kebutuhan perut
Gelisah mereka yang berjemur di Pasar Inpres
Gundah mereka yang kehilangan pembeli di Pasar Senja
Tarikan nafas para kaum buruh di emperan took
Seribu dendang minta maaf para tukang ojek yang terkejar setoran
Makian ibu-ibu muda tak kala sang suami bermuka dua setelah
menegak alkohol yang bertumpah-rua
Teriakan para orang tua yang suaranya tak terdengar para kekasih
hatinya
Kini…..
Sembulan lilen menyambut segalanya, memberi arti yang enggan pudar
Lilen sebatang, lilen memandang pada adaku
Lilen segenggam, lilen memandang pada ada kita
Lilen sejuta, lilen memandang pada dunia
Jangan kami cuma menunggu serah punto dama
Jadi saksi terang pembebas
Biar San Juan tak terus bersorak di padang gurun
Dan…..
Kristus tak terus merintih dengan perut yang kosong
Dari Sarang Lebah
ke Sejuta Soal
24 Juni adalah saat yang dirindukan
kedatangannya dan kehadirannya. Saat Orang-Orang San Juan memperingati hari
jadi pelindung parokinya: San Juan (Santo Yohanes Pembabtis). Yang membuat hari
itu jadi lain dari hari-hari peringatan seorang santo-santa dalam gereja
katolik adalah bentuk dan gaya peringatannya. Tiga hari sebelum hari ‘H’ ada
triduum di tiap-tiap gabungan (komunitas umat basis). Setelah perayaan ekaristi
pada 24 Juni pagi, Orang-Orang San Juan bergegas sibuk untuk menyiapkan acara
prosesi (persisan) di malam harinya. Prosesi ini disebut prosesi San Juan.
Dalam prosesi ini patung Yohanes Pembabtis diarak bersama Sakramen Mahakudus
melewati 7 armida (tempat Sakramen Mahakudus ditahtakan dan disembah) yang
disiapkan oleh 7 lingkungan yang ada di Paroki San Juan (Kampung Tengah, Gege,
Lebao, Riang Nyiur, Tabali, Weri, Kota Sau-Rowido). Prosesi dimulai dari Gereja
San Juan melewati 7 armida yang dibangun di 4 lingkungan (Kampung Tengah,
Lebao, Riang Nyiur, Tabali; tidak di Gege, Weri, Kota Sau-Rowido yang letak
lingkungannya dirasa terlalu jauh dan panjang kalau rute persisan harus juga
melewati lingkungan-lingkungan ini) dan berakhir kembali di Gereja. Patung
Yohanes Pembabtis berada pada posisi depan Sakramen Mahakudus. Orang-Orang San
Juan diingatkan bahwa Yohanes Pembabtis adalah penyiap datangnya Yesus Tuhan,
Juruselamat dan Pembebas.
Malam persisan adalah malam penuh
gemerlap. Hiasan warna-warni terpampang di sana-sini, mulai dari dalam Gereja
sampai di armida-armida dan sepanjang rute perjalanan Sakramen Mahakudus dan
San Juan. Ribuan lilin diikat jejer, baris-berbaris indah dan rapih pada
pagar-pagar (dari kayu yang disebut kukung dan bambu) yang disiapkan khusus
untuknya pada setiap kiri dan kanan badan jalan. Lilin-lilin menyembulkan
cahaya yang jika dipandang dalam-dalam menghantar para peziarah (semua mereka
yang ikut dalam barisan persisan: mereka adalah Orang-Orang San Juan) untuk
menyatukan dirinya dengan bumi yang sedang dipijaki dan langit di atas sana
yang sedang menyaksikan parade religius yang khusyuk itu.
Epilog
“Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku,
ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan
mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12)
dan …..
“Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia” (Yoh. 9:5)
Maka dari itu, wahai saudara-saudariKu,
anak-anakKu, murid-muridKu,
Orang-Orang San JuanKu,
Para Peziarah yang sedang Sendiri-Sendiri,
Yang Remuk-Redam
dan
yang sedang berziarah dalam kegelapan………
kalian semua yang mengikuti Aku, Terang Sejati dan Sempurna………
“Kamu adalah (juga) terang dunia.
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
Supaya mereka melihat perbuatanmu
Yang baik
Dan,
Memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14.16)
Datanglah berbaris sejurus tanpa takut dan malu
Mari KITA bercahaya di dalam kegelapan hingga KITA menguasainya
Janganlah takut hatimu sebab,
“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,
sedang datang ke dalam dunia” (Yoh. 1:9)
duniamu, dunianya dan dunia KITA.
Lebao, Mei 2011
No comments:
Post a Comment