Sunday, January 25, 2015

naskah teater



Naskah Teater:
MATA AIR AIR MATA”
Karya: Anselmus D. Atasoge

Synopsis:
Dunia zaman sekarang bagaikan dunia homo homoni lupus, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lain. Perbedaan-perbedaan latar belakang adat budaya, agama, suku, pilihan politis, arah kepentingan ekonomis dan lain-lainnya menjadi latar belakang lahirnya keadaan yang demikian? Siapa yang memulai? Siapa yang bertanggungjawab? Siapa yang mengakhirinya?
Jika manusia itu sendiri tidak mengakhirinya, maka air matanya terus tertumpah. Dan pada saatnya, air mata-air mata yang satu akan melahirkan konflik. Dan, konflik yang satu pada akhirnya melahirkan konflik yang lain, hingga air mata berubah menjadi sungai air mata yang terus melahirkan konflik-konflik baru.
Konflik-konflik sejatinya membuat manusia ditendang ke titik nol. Di sana ada kekacauan, di sana tak ada kedamaian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kesusahan. Susah mencari pekerjaan, susah mencari makan. Dan pada akhirnya manusia-manusia yang demikian terdepak dalam “kekeringan kehidupan”. Di sana air matapun tertumpah!

(Bunyi genderang perang bertalu)
Adegan: Muncullah 6 orang, terpisah dalam 2 kelompok. Masing-masing mereka meliliti kelompoknya dengan selembar kain hitam dan bergerak mengelilingi panggung dua kali sembari berterik histeris, saling menuding, mencemooh, hingga pada putaran ketiga terjadi baku hantam antara mereka. Orang-orang berguguran. Dan mereka berusaha menegakkan tubuh mereka.

Aktor   : [bergerak mengelilingi orang-orang pelan-pelan seperti sedang berpantomim. Dia meneteng sebuah lantera dan seakan mencari sesuatu yang tengah hilang dari pandangannya.Di tengah panggung ia seolah berkotbah]
Jiwa pertiwiku meratapi kepergian kecerahannya.
Air matanya membasahi beribu tanah hati membentuk alur berkelok-kelok.
Aku tenggelamkan  jiwa murniku ke dasar alur itu.
Dan…sesudahnya… bukit-bukit pertiwiku tenggelam oleh air mata.
Kata terakhir menyadarkan orang-orang itu dan serentak berseru bersama:
Orang-Orang: AIR MATA????
Orang-orang yang terkapar seolah-olah bergerak. Lalu bangkit sempoyongan. Tapi mereka seakan berada di dunia lain. Bingung, heran, seakan tak tahu apa yang baru terjadi dan apa yang akan terjadi selanjtunya.

Orang 1  : Air mata siapa?
Orang 2  : Air mata manusia?
Aktor       : B u k a n !!!!!
Orang 3  : Air mata binatang?
Aktor       : B u k a n !!!!!
Orang 4  : Air mata setan?
Aktor       : B u k a n !!!!!
Orang 5  : Air mata langit?
Aktor       : B u k a n !!!!!
Orang 6  : Kalau demikian air mata apa itu?
Aktor       : Air mata dari mata beribu jiwa yang mengalir ke tanah kita.
Dan….. dari tanah ini ia akan diteteskan pada nurani kita.
Sesungguhnya bumi kami tengah kehabisan mata air.
Yang ada hanyalah mata air air mata.
Dan kini…..mata air air mata sedang mengaliri jiwa-jiwa di negeri ini.
Yah….jiwa-jiwa yang tak terhindarkan dari kesibukan yang tak terbantahkan
Jiwa-jiwa  yang telah remuk di tebing-tebing waktu
Jiwa-jiwa  yang terdepak dari kegagahan kekuasaan
dan jiwa-jiwa  yang kalah lari dari kejaran badai zaman


Orang-orang : Tiiiiiddddaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!!!!!
Terdengar bunyi gendang dan gong tak rapih, tindis-menindis, seakan memekakan telinga. Orang-orang menutup telinga rapat-rapat.

Dua gadis dari arah yang berlawanan muncul sambil menjujung bambu berisi air. Bergerak mengelilingi orang-orang dan sang actor. Actor lalu bergerak mengikuti arah gerak mereka sambil menyinari mereka dengan lanteranya dari arah belakang.

Gadis 1: [tengadah ke langit/Dinyanyikan]
Ratu Tuan Rera Wulan
Pencipta Langit Dan Bumi
Berilah Kami Kekuatan
untuk mempertahankan hidup di dunia ini

Gadis 2: [tengadah ke langit/Dinyanyikan]
Beribu abad bumi kami amat subur
Kampung kami indah damai
Hanya satu kesulitan kami
Bambu-bambu kami telah lama mengering
Yang ada hanyalah air mata

[kedua gadis menghilang ke kiri dan kanan panggung.
Sang actor mengambil posisi di tengah-tengah panggung. Duduk bersila membaca mantra sambil membakar kemenyan]

Actor: [ucapkan cepat-cepat.
Pada saat itu orang-orang bergerak mengelilingi sang aktor]

Tobo naeng teti kelen lolong/Ia berdiam di atas awan
Teti wang pulu pito/Pada tingkat yang ketujuh puluh
Tobo naeng ia ekang miteng/Tinggal di tempat gelap
Pae naeng teti rung bada/Di atas langit yang gulita
Teti wang pulu pito/Di atas tingkat awan ke tujuh puluh
Lali wade pulu lema/Di bawah bumi yang ke lima puluh
Teti Esa lein lodo/Yang di atas turunlah
Lali sorong limang gere    /Yang di bawah kemarilah
Denge koda baing kiring/Dengarlah apa yang kami katakan
Denge umeng baing lamak    /Dengarlah apa yang kami pinta

[orang-orang bangkit satu per satu. Bergerak mengelilingi sang actor]

Actor:
Negeri kita di ambang kocar kacir. Orang-orang saling menuduh. Politikus saling unjuk jago…ya….jago bikin ulah, jago bikin bisnis proyek…….. padahal aku dan kau tengah dihinggapi kekeringan dan kelaparan memanggil bersahut-sahutan. Mereka juga sebenarnya …..jago korupsi.
Orang-orang:
Hahahahahahaaaaaaaa……
Actor:
Ssttttt……..jangan ketawa keras-keras.
Orang-orang:
Kenapa?

Actor:
Jika kalian tertawa keras-keras….matamu bisa berkaca-kaca, lalu menerawang jauh…ya….jauh dari diri kalian hingga air matamu tertumpah dan membasahi pipimu dan tanah ini…….ketika dia tertumpah kalian mesti tahu akibatnya…..
Orang-orang: [serentak]
Apa akibatnya??????
Actor:
Air matamu akan melahirkan konflik. Ya konflik antar penduduk. Dia pasti memecah dengan gagah dan orang-orang di tanah yang telah mengering beribu abad ini akan kehilangan harta dan nyawa. Namun di tengah kekocar-kaciran itu orang-orang dengan gagah berani bangkit berebut kekuasaan dan hak serta harta orang lain. Mereka ingin memuaskan dirinya di atas tanah yang telah kehabisan mata air ini. Haruskah semuanya ini berlalu begitu saja? Setujukah kita dengan semuanya ini? Mari kita menabuh genderang perang atasnya dan menggendongnya ke pelataran mata air kita yang telah mengering. Padanya tak pernah ada air mata.
[dua gadis muncul dengan bambu di kepala. Orang-orang merapat ke sang actor. Adegan terakhir berlangsung sambil kedua gadis menumpahkan isi bambu ke atas sang actor dan orang-orang]

Aktor: [berlutut sambil menengadah ke langit]
Tak ada yang menjadi tuan atas tanah di bumi ini. Kami adalah satu. Janganlah kami dipecah-pecahkan. Kami berkumpul bersama karena disatukan oleh nasih yang sama.
Orang-orang merapat , saling merangkul.
Aktor: “Kami adalah makluk-makluk yang terkulai di atas bukit batu setelah kami lukisi langit pertiwi dengan berdarah jari”

Semua Orang: Kasihanilah kami semua!!!!

Aktor: Kami putera-puteri  korban politik adu domba, baik kami ini domba maupun bukan, dengan ini menyatakan tak mau lagi diadu domba. Kami tak mau lagi diobok-obok.

Semua Orang: Kasihanilah kami semua!!!!

Aktor: Kami putera-puteri korban  politik adu domba, baik kami ini domba atau bukan dengan in menyatakan berbangsa satu, bangsa bebas dari politik pecah-pecah. Bertanah air satu, tanah air bebas dari politik baku hantam. Berbahasa satu, bahasa bebas dari politik tuduh-menuduh.

Semua Orang: Kasihanilah kami semua!!!

Orang-orang bangun berdiri bersejajar. Barisan disejajarkan!

Lagu : Hanya Debulah Aku
Hanya debulah aku
Di alas kakimu Langit
Hauskan mata air
Sabda penuh ampun
Tak layak aku tengadah menatap cahyaMu
Tak layak aku tengadah di depan tahtaMu


Aktor : (Pada saat lagu didengungkan…….)
Mari kita tinggalkan tanah yang penuh air mata ini!
Kita pergi menanami beribu harapan pada mata air kita
Kita hiasi air mata sahabat-sahabat kita dengan harapan-harapan itu
Dan…kita taburkan sebagiannya pada kekeringan di tanah ini
Agar kita tidak terus meratapi kepergian kecerahannya.

Orang-Orang:
Aminnnnn…….!!!!
Aminnnnn……..!!!!
Aminnnnn……..!!!!

(sambil tinggalkan panggung)

Larantuka, bulan passio
pada sebuah tengah malam di awal Maret 2013

1 comment: