Wednesday, January 28, 2015

Feature_Flores Pos


Feature:
Semana Santa di Larantuka: Dari Ritual Menuju Praksis
Oleh Anselmus Atasoge

Setiap tahun, sekitar seminggu menjelang Paskah, kota Larantuka di Flores Timur dengan khidmat merayakan Minggu Suci yang dikenal sebagai Semana Santa. Merupakan Prosesi puncak pada hari Jumat Agung atau Sesta Vera. Pusat perayaan diadakan di dua patung suci, yaitu patung Yesus Kristus (secara lokal dinamai Tuan Ana) dan patung Perawan Maria (secara lokal dinamai Tuan Ma). Kedua patung tersebut dibawa oleh misionaris Portugis Gaspardo EspĂ­rito Santo dan Agostinhode Madalena pada abad 16.

Terletak di wilayah paling timur pulau Flores, Larantuka juga dikenal dengan Kota Reinha atau Tana Nagi, yang merupakan ibu kota kabupaten Flores Timur. Kota ini memiliki pengaruh kuat kolonial Portugis dan dikenal sebagai salah satu tempat dimana agama Katolik berkembang di Indonesia. Lebih dari lima abad, kawasan ini telah mewarisi tradisi Katolik melalui peran masyarakat umum. Raja Larantuka, misionaris, persaudaraan para rasul dari rakyat biasa (Confreria), suku Semana, dan suku Kakang (suku Kakang Lewo Pulo), serta suku Pou (Suku Lema) telah memainkan peran penting dalam pengembangan Katolik di wilayah Larantuka.

Dalam acara Pekan Suci ini, kota Larantuka yang biasanya tenang berubah ramai karena disesaki peziarah dan jemaat dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Semana Santa dimulai dengan Trewa Rabu pada pertengahan minggu Paskah. Pada hari ini, berkumpul di Kapel Devotees dan berdoa untuk mengenang pengkhianatan Yudas Iskariot yang menyebabkan penangkapan Yesus dan shackling. Ini adalah saat dimana kota Larantuka berubah menjadi Kota Berkabung, tenggelam dalam kekhidmatan dan refleksi pemurnian jiwa.

Pada hari Kamis Putih, kegiatan-kegiatan dan upacara tradisional didahului dengan perayaan ekaristi sekaligus Uskup Larantuka memberkati minyak krisma, minyak suci dan minyak permandian serta pembaruan janji ketaatan para imam kepada Uskup.

Sementara itu, Tuan Mardomu bersama kaum keluarganya, handai tolan dan umat melaksanakan “tikam turo”, tiang dari kayu kukung dengan rantai bambu tempat pasang lilin untuk devosi Prosesi Jumad Agung serta persipan-persiapan untuk membuat armida.

Sesudah perayaan ekaristi, di kapela Tuan Ma, Conferia melaksanakan upacara “muda tuan” yaitu membersihkan, memandikan dan merias Patung Maria Dolorosa. Dalam busana biru lasuardi Patung Maria Mater Dolorosa (Tuan Ma) diletakkan di atas tumba (usungan) di tengah ruang kapela. Devosi dan ziarah imanpun dimulai.

Sang Bunda dicium oleh para devoter. Pertama-tama Raja dan Keluarga Raja, Badan Pemerintah Confereia dan selanjutnya pintu Kapela Tuan ma dibuka untuk peziarah-peziarah iman.

Setiap peziarah yang hendak mencium Tuan Ma sebelum masuk ke dalam kapela harus melepaskan alas kakinya dan berjalan dengan berlutut sampai di depan Tumba Tuan ma.
 
Suasana ziarah iman cium Tuan Ana dan cium Tuan Ma berlangsung sepanjang hari, semalam suntuk sampai dengan hari Jumad siang. Pada malam hari sesudah perayaan Ekaristi perjamuan Tuhan diadakan upacara ibadat penyembahan Sakramen Mahakudus (Adorasi) di Gereja Katedral. Semalam suntuk sampai pagi hari umat mengadakan ziarah ke Gereja Katedral untuk menyembah Sakramen Maha Kudus.

Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan Semana Santa (pekan suci) Paskah. Prosesi ini menempatkan Yesus sebagai pusat ritual dan menempatkan Ibu Maria sebagai ibu yang berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan Yesus anaknya sebelum dan saat disalib.

Pagi sebelum puncak acara, arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus) dilakukan lewat laut dengan “Bero” (sampan pakai kate) dari Kapela Tuan Meninu di Paroki San Juan Lebao ke pantai Kuce di Pohon Sirih dan selanjutnya diarak ke Armida Tuan Meninu. Siang harinya dilanjutkan arak-arakan Tuan Ma dan Tuan Anna menuju Katedral. Dari titik inilah prosesi Sesta Vera dengan jutaan lilin dimulai. Selama malam Jumat Agung, lilin dinyalakan sepanjang 2 km di jalan dan di depan rumah penduduk yang dilalui prosesi.

Pada hari berikutnya, Sabtu pagi, diadakanlah devosi proses mengantar kembali tuan ana dan tuan ma ke Kapela Tuan Ana dan Kapela Maria. Devosi ini adalah kelanjutan dari Semana Santa. Suasana suka cita mulai terasa lewat lagu-lagu gembira Vergen Mai De Deo. Umat peziarah masih diberi kesempatan cium Tuan Ana dan Tuan Ma.

Kemudian konfreria melaksanakan “KESUMI” baik di Kapela Maria maupun di Kapela Tuan Ana. Patung Tuan Ma (Maria Mater Dolorosa) dan Tuan Ana disimpan kembali pada tempatnya semula. Sesudah kesumi di Kapela Tuan Ana dilangsungkan upacara tradisional “SERAH PUNTO DAMA” dari Tuan Mardomu Promesa tahun berikutnya. Pada sore hari (malam hari diadakan perayaan Ekaristi kebangkitan Yesus Kristus semeriah-meriahnya di Gereja Katedral.

Pada hari minggu paskah diadakan prosesi Alleluya. Pada jam 16.00 patung Maria Alleluya diarak dari kapela Maria ke Gereja Reinha Rosari oleh Confreria dan umat lingkungan sekitarnya. Setibanya di Gereja, patung Maria Alleluya ditahtakan di samping Altar, dan pada jam 17.00 dirayakan Ekaristi Kudus.

Perayaan misa Paskah bersama Maria Alleluya ini merupakan kegiatan akhir sepanjang semana santa baik liturgi maupun devosi. Kehadiran Maria Alleluya, Maria bersuka cita bersama umat yang merayakan ekaristi mulia kegembiraan kebangkitan ini, sebagai wujud turut bersuka cita atas kemenangan dan kebangkitan putra tunggalnya Yesus Kristus dari alam maut setelah mengalami penderitaan maha dahsyat yang berakhir dengan Wafat di kayu salib.

Perayaan ekaristi berakhir dengan perarakan patung Maria Alleluya kembali ke kapela Maria. Setibanya di kapela Maria, upacara devosi berakhir dengan nyanyian  “VERGEN MAI DE DEO” (PERAWAN DAN BUNDA ALLAH).  Pimpinan Confreria menutupnya dengan doa singkat. Setelah itu imam keluar dan mengambil tempat di depan pintu kapela, dan dengan salib imam memberikan berkat akhirnya kepada umat yang hadir memenuhi pelataran kapela, juga bagi semua umat yang telah mengikuti upacara kebaktian sepanjang Semana Santa.

Semoga semana santa tahun ini semakin berdaya sapa dan berdaya guna bagi setiap insan yang terlibat di dalamnya. Semoga “ia” berdaya menyapa wajah perpolitikan di daerah ini. Semoga “ia” membingkai praksis semua insan di kota ini yang tengah “memperjuangkan” keadilan dan kebenaran bagi orang-orang kecil yang telah dimanipulasi haknya untuk bersaksi tentang hal dan peristiwa yang sesungguhnya.

Maria menjadi Mater Dolorosa karena membawa dirinya seutuhnya dalam kisah penderitaan Puteranya. Semoga, setiap insan yang “menghadirkan dirinya” di dalam semana santa boleh mengambil bagian di dalam penderitaan sesamanya, dan bukannya menjauhinya dari “seberang jalan lain”.

No comments:

Post a Comment