Wednesday, January 28, 2015

Artikel


“Aku Masih Punya Mimpi”

Oleh: Anselmus Atasoge

 

Apakah aku masih punya mimpi?/Mimpi untuk menghapus duka/Mimpi untuk memetik kembang kedamaian/Mimpi untuk meraih pucuk kebahagiaan/Di atas hitamnya goresan takdir! Penggalan puisi sarat makna itu meluncur dengan terbata-bata dari bibir Ibu Stevania U.P di hadapan seribu lilin di kaki tugu pelataran Kantor Bupati Flores Timur, Senin malam, 1 Desember 2014. 

Meski dengan terbata, Stevania, yang adalah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dengan tegar mengucapkan kata-kata itu. Stevania tegar meski sang suami “telah tiada” dan sejumlah stigma telah dilekatkan pada dirinya. Malam itu, sejumlah ODHA mengapitinya. Seribu lilin meneranginya. Seribu lilin, seribu pengharapan akan “perubahan” yang lebih baik.

“Malam Renungan dan Seribu Lilin Bersama ODHA” memperingati hari AIDS Sedunia di Flores Timur dihadiri Bupati Flores Timur, Wakil Bupati Flores Timur, anggota muspida, para pejabat di lingkup pemerintah Kabupaten Flores Timur, para tokoh agama, orang-orang muda dan para ODHA. “Semalam bersama ODHA Flores Timur ini” menjadi medan penuh refleksi. Refleksi tentang jati diri orang dengan HIV/AIDS, permenungan tentang eksistensinya di pusaran kehidupan yang penuh tantangan.

Di mata bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos, para ODHA adalah insan-insan manusia yang perlu diberi “ruang” untuk bisa hidup, ada bersama dan menyatu dengan sesamanya. “Secara moril, dengan memberi ruang, kita memberi spirit bagi mereka untuk bisa bertahan hidup lebih lama lagi,” kata bupati Flotim.  Bupati Flores Timur juga menghimbau para tokoh agama untuk tak henti-hentinya menjadikan “mimbar” sebagai sarana untuk mengajak umatnya untuk hidup dan berperilaku secara benar agar terhindar dari virus yang mematikan itu dan tidak mengucilkan sesama yang sudah terjangkit HIV/AIDS.

Malam seribu lilin tidak menjadi “pilihan” tontonan khalayak Flores Timur. Tak banyak undangan yang hadir. Menurut Bupati Flotim, banyak pejabatpun tidak mengindahkan 300-an undangan yang telah disebarkan oleh pihak penyelenggara. Tak banyak pula khalayak Flores Timur yang mengetahui secara pasti “makhluk” apa HIV/AIDS itu. Biasanya, orang pada kaget dan sadar ketika “makluk” itu sudah menyatu dalam “darah” manusia, kata Bapak Anis, mantan perantau yang kini hidup dengan HIV/AIDS.

Data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun penderita AIDS Flores Timur semakin meninggkat. Hingga tahun 2014, sudah sebanyak 169 warga Flores Timur yang telah terjangkit HIV/AIDS. Delapan puluh sembilannya sudah meninggal dunia, 138 sudah terkena AIDS dan 31-nya sedang HIV. Penderita terbanyak adalah kaum laki-laki (107 orang). Sisanya 62 orang adalah kaum perempuan.

Malam seribu lilin yang terselenggara berkat kerjasama Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores Timur dan Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka yang didukung oleh Childfund Indonesia dan KLPAMF Flores ini menjadi malam kenangan akan “insan-insan” yang telah jadi korban HIV/AIDS. Malam seribu lilinpun boleh jadi malam “penggalangan kekuatan” untuk menangkis seribu virus yang tengah menanti di depan mata. Maka, benarlah kata Romo Marianus Dewantoro Welan, Pr yang malam itu tampil dengan renungan reflektifnya. “Kenalilah dirimu supaya mimpi-mimpimu tentang kehidupan ini boleh kau wujudkan!” Dan, Stevania pun menutupi puisinya: Dalam keremangan malam ini/Kumohon kekuatan padaMu Tuhan/Karna aku masih punya mimpi/Dan kupinta padamu sekalian/Jangan pernah tinggalkan aku seorang diri!

No comments:

Post a Comment