“Aku Masih Punya Mimpi”
Oleh: Anselmus Atasoge
Apakah aku
masih punya mimpi?/Mimpi untuk menghapus duka/Mimpi untuk memetik kembang
kedamaian/Mimpi untuk meraih pucuk kebahagiaan/Di atas hitamnya goresan takdir!
Penggalan puisi sarat makna itu meluncur dengan terbata-bata dari bibir
Ibu Stevania U.P di hadapan seribu lilin di kaki tugu pelataran Kantor Bupati
Flores Timur, Senin malam, 1 Desember 2014.
Meski dengan terbata, Stevania, yang adalah seorang ODHA (Orang
Dengan HIV/AIDS) dengan tegar mengucapkan kata-kata itu. Stevania tegar meski
sang suami “telah tiada” dan sejumlah stigma telah dilekatkan pada dirinya.
Malam itu, sejumlah ODHA mengapitinya. Seribu lilin meneranginya. Seribu lilin,
seribu pengharapan akan “perubahan” yang lebih baik.
“Malam Renungan dan Seribu Lilin Bersama ODHA” memperingati
hari AIDS Sedunia di Flores Timur dihadiri Bupati Flores Timur, Wakil Bupati
Flores Timur, anggota muspida, para pejabat di lingkup pemerintah Kabupaten
Flores Timur, para tokoh agama, orang-orang muda dan para ODHA. “Semalam
bersama ODHA Flores Timur ini” menjadi medan penuh refleksi. Refleksi tentang
jati diri orang dengan HIV/AIDS, permenungan tentang eksistensinya di pusaran
kehidupan yang penuh tantangan.
Di mata bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos,
para ODHA adalah insan-insan manusia yang perlu diberi “ruang” untuk bisa
hidup, ada bersama dan menyatu dengan sesamanya. “Secara moril, dengan memberi
ruang, kita memberi spirit bagi mereka untuk bisa bertahan hidup lebih lama
lagi,” kata bupati Flotim. Bupati Flores
Timur juga menghimbau para tokoh agama untuk tak henti-hentinya menjadikan
“mimbar” sebagai sarana untuk mengajak umatnya untuk hidup dan berperilaku
secara benar agar terhindar dari virus yang mematikan itu dan tidak mengucilkan
sesama yang sudah terjangkit HIV/AIDS.
Malam seribu lilin tidak menjadi “pilihan” tontonan khalayak
Flores Timur. Tak banyak undangan yang hadir. Menurut Bupati Flotim, banyak
pejabatpun tidak mengindahkan 300-an undangan yang telah disebarkan oleh pihak
penyelenggara. Tak banyak pula khalayak Flores Timur yang mengetahui secara
pasti “makhluk” apa HIV/AIDS itu. Biasanya, orang pada kaget dan sadar ketika “makluk”
itu sudah menyatu dalam “darah” manusia, kata Bapak Anis, mantan perantau yang
kini hidup dengan HIV/AIDS.
Data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores menunjukkan
bahwa dari tahun ke tahun penderita AIDS Flores Timur semakin meninggkat.
Hingga tahun 2014, sudah sebanyak 169 warga Flores Timur yang telah terjangkit
HIV/AIDS. Delapan puluh sembilannya sudah meninggal dunia, 138 sudah terkena
AIDS dan 31-nya sedang HIV. Penderita terbanyak adalah kaum laki-laki (107
orang). Sisanya 62 orang adalah kaum perempuan.
Malam seribu lilin yang terselenggara berkat kerjasama Komisi
Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores Timur dan Sekretariat Pastoral Keuskupan
Larantuka yang didukung oleh Childfund Indonesia dan KLPAMF Flores ini menjadi
malam kenangan akan “insan-insan” yang telah jadi korban HIV/AIDS. Malam seribu
lilinpun boleh jadi malam “penggalangan kekuatan” untuk menangkis seribu virus
yang tengah menanti di depan mata. Maka, benarlah kata Romo Marianus Dewantoro
Welan, Pr yang malam itu tampil dengan renungan reflektifnya. “Kenalilah dirimu
supaya mimpi-mimpimu tentang kehidupan ini boleh kau wujudkan!” Dan, Stevania
pun menutupi puisinya: Dalam keremangan
malam ini/Kumohon kekuatan padaMu Tuhan/Karna aku masih punya mimpi/Dan kupinta
padamu sekalian/Jangan pernah tinggalkan aku seorang diri!
No comments:
Post a Comment