Friday, January 30, 2015

Feature_Flores Pos


Feature:

PAX ET BONUM
(segelas nescafe di pelataran SMAK Santu Fransiskus Asisi Keuskupan Larantuka)
Oleh: Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka

 
SMAK Santu Fransiskus Asisi namanya. Tak banyak orang yang mengetahuinya karena memang dia baru “lahir”. Senin, 21 Juli 2014 menjadi momen terindah baginya. Di hari itu “sekolah baru dengan wajah baru” ini baru memulai aktivitas belajar mengajarnya. Seluruh aktivitasnya dibuka dengan perayaan ekaristi bergabung dengan dua lembaga pendidikan yang berada di bawah satu atap Yayasan Persekolahan Umat Katolik Keuskupan Larantuka, SLTP St. Yusuf dan SMA St. Darius Larantuka pada Sabtu, 19 Juli 2014.

 
Sebagai sebuah sekolah baru yang dibangun dengan tujuan untuk menghasilkan kader-kader awam Katolik yang militant demi menjawabi kebutuhan Gereja Partikular Keuskupan Larantuka dan Gereja Universal, SMAK St. Fransiskus Asisi memulai pergerakkannya dengan berdasar pada visi “terwujudnya komunitas atau persekutuan murid–murid Yesus yang berilmu, beriman, partisipatif dan liberatif– transformatif “. Di atas misi inilah, menurut Ketua Yapersuktim, Romo Martinus Kapitan Sogen, Pr, lembaga ini akan berjuang untuk meletakkan sebuah dasar yang kokoh bagi para siswa-siswinya yang pada gilirannya bisa memberikan kontribusi bagi Gereja Lokal dan Gereja Universal.

 
Visi ini kemudian diaplikasikan dalam misi sebagai berikut. Pertama, membangun persekutuan hidup sebagai murid – murid Yesus dalam ikatan kasih dan saling melayani. Kedua, engembangkan aspek intelektual siswa melalui kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa. Ketiga, menanamkan nilai – nilai moral dan iman Kristiani sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Keempat, melibatkan diri dalam kegiatan-kegitan sosial kemasyarakatan sebagai bentuk partisipasi dan interaksi saling memberi dan menerima antara sekolah dan masyarakat. Kelima, merintis dan memprakarsai pembebasan dan perubahan terhadap sekolah, kondisi kehidupan kita dan lingkungan menuju habitus baru.

 
Adapun moto SMAK St. Fransiskus Asisi adalah pro pax et bonum yang berarti demi perdamaian dan kebaikan. Menurut kepala sekolahnya, Romo Sebast Uran Bala, Pr, salah satu hal sederhana yang terlahir dari moto tersebut adalah kesaling-menyapaan antara semua warga sekolah sebagai “saudaraku dan saudariku”. Hal lain yang menjadi kekhasannya adalah pembukaan dan penutupan kegiatan belajar mengajar per harinya. Aktivitas di kelas ini akan dibuka dan ditutup dengan doanya Santu Fransiskus Asisi yang dikenal dengan doa damai: Tuhan...jadikanlah aku pembawa damai!

 
Kurikulum yang berlaku pada lembaga pendidikan SMAK St. Fransiskus Asisi adalah Kurikulum 2013. Dan karena lembaga pendidikan ini baru mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada tahun pelajaran ini, maka muatan kurikulum yang akan dijalankan pada tahun pelajaran 2014/2015 adalah muatan kurikulum 2013 yang berlaku untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas yang berafiliasi di bawah Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia.

 
Dalam catatan tentang pengembangan sekolah ini, Romo Sebast menulis ada tiga pilar utama yang dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah yaitu sistem pembelajaran, manajemen sekolah dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sistem pembelajaran yang menarik, efektif dan efisien, kreativitas dan inovasi insan-insan pendidikan di sekolah akan berkembangnya. Sekolah menjadi rumah yang sangat menyenangkan bagi para siswa dan guru karena suasana yang menyegarkan.

 
Melalui menajemen sekolah yang otonom dan partisipatif, sekolah diberi kebebasan untuk mengelolah dirinya sesuai situasi dan kondisinya sehingga sekolah menjadi lebih mandiri, dan melalui pelibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan akan meningkatkan rasa memiliki para warga sekolah terhadap sekolah. Sedangkan dengan pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk optimalisasi berbagai sumber daya yang ada di masyarakat dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.

 
Di mata Romo yang delapan tahun memimpin SMA Santu Darius Larantuka ini, di antara ketiga pilar tersebut, manajemen sekolah, menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan kedua pilar yang lain. Tanpa manajemen yang baik, sistem pembelajaran tak akan tertata dengan baik. Tanpa manajemen penyelenggaraan pendidikan yang baik, siswa yang cerdas dan fasilitas yang mewah tidak cukup untuk mewujudkan sekolah yang baik. Sebaliknya dengan sebuah manajemen pendidikan yang baik, ketidakcerdasan siswa dan keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang bagi terwujudnya sebuah sekolah yang baik. Dengan demikian, manajemen sekolah mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap prestasi akademik siswa, terlepas dari faktor intelek siswa dan fasilitas sekolah.

 
Manajemen pendidikan pada tempat pertama haruslah berbasis sekolah. Mengapa? Karena sekolah tahu apa yang dimilikinya dan sambil membuka diri terhadap perkembangan dunia dan masyarakatnya, mempunyai ikhtiar untuk mengembangkan dirinya demi mewujudkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ikhtiar untuk mengembangkan diri itu terwujud dalam program kerja sekolah.

 
Program kerja itu bila terlaksana dengan optimal, akan menghasilkan output atau lulusan yang bermutu. Bermutu yang dimaksudkan disini berhubungan dengan tiga kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual. Kepala sekolah yang juga adalah anggota tim pastor paroki San Juan Lebao ini sengaja membalikkan tiga kecedasan ini seperti yang diketahui umum dengan tujuan selain untuk menegaskan bahwa jati diri sekolah ini adalah sekolah agama Katolik, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa sebuah paradigma baru dalam bidang pendidikan sedang dilaksanakan di lembaga pendidikan.

 
Bagi Romo Sebast, asumsinya adalah bahwa seorang yang cerdas secara spiritual akan mempengaruhi kecerdasan emosionalnya dan pada gilirannya akan melihat kecerdasan intelektualnya sebagai anugerah dan sekaligus tugas. Jadi, siswalah yang menjadi subyek penyelenggaraan pendidikan dan program kerja sekolah didasarkan pada dan diarahkan kepada pengembangan pribadi siswa menjadi pribadi yang dewasa.

 
Di titik ini, benarlah apa yang dikatakan Prof. Dr. Driyarkara: tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia muda menjadi dewasa. Atau,  mendewasakan manusia muda. Dalam arah berpikir seperti inilah, maka para penyelenggara pendidikan pada lembaga pendidikan SMAK St. Fransiskus Asisi bergerak untuk mewujudkan proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di sekolah ini di atas dasar pax et bonum.  

 
Sekiranya “sekolah baru” ini menjadi sebuah oase bagi kehidupan yang sedang jauh dari nilai-nilai kedamaian dan kebaikan. Ya...kedamaian dan kebaikan yang kini menjadi “barang langkah”, nilai yang jarang dikejar, nilai yang sering ditinggalkan dalam jejak-jejak waktu kehidupan.

 

Feature_Flores Pos


Ada dan Menyatu Dengan “Aku Yang Lain”
Anselmus Atasoge
Dosen STP Reinha Larantuka

Di hadapan lautan yang teduh di pinggir lapangan bola kaki Desa Bama Kecamatan Demong Pagong Kabupaten Flores Timur, mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Reinha yang tergabung dalam kelompok pencinta alam Reinha menggelar perkemahan. Tiga hari mereka menyatu dalam keheningan alam. Tiga hari penuh makna, tiga hari penuh kesan.

Ada dan menyatu bersama alam lingkungan menjadi kerinduan manusia-manusia zaman sekarang ketika bumi telah dipepaki oleh seribu satu macam persoalan yang tak habis-habisnya. Mahasiswa pencinta alam Reinha mencoba memberi arti dirinya di hadapan alam sembari menimba “kekayaan alam” yang terberi oleh Sang Pencipta.

Menurut ketua pencinta alam Reinha, Sesilia “Lian” Fernandez, kegiatan ini merupakan sebuah langkah awal untuk menggembleng pengetahuan, mental, kreativitas dan karakter mahasiswa. “Ini ajang pengembangan spirit dan jasmani demi menata masa depan”, katanya penuh semangat ketika sedang menarik tali-temali dan terpal untuk mendirikan kemah yang merupakan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur.

Hal senada disampaikan oleh Yohana Barek Sogen, mahasiswa semester tujuh STP  Reinha. Baginya, berada dan menyatu dengan alam bagaikan sedang berada dalam genggaman Tuhan yang empunya “bumi dan alam semesta” ini.  “Tuhan Mahadahsyat. KaryaNya begitu luar biasa. Berada dan menyatu dengan hasil karyaNya membuat hidup ini indah dan bermakna,” katanya ketika sedang menyiapkan makan malam untuk teman-temannya yang sedang mengelilingi api unggun.

Malam api unggun menjadi malam penuh kebahagian. Cahaya yang menyembul dari balik kekayuan yang mulai memerah seraya “menerangi” seluruh cita rasa kehidupan yang telah terpatri dalam jiwa. Pada momen itulah, para mahasiswa pencinta alam boleh memandang dirinya sebagai ens sociale yang keberadaannya tak terpisahkan dari sesamanya dan alam lingkungannya sebagai “aku yang lain”

Selain menikmati indahnya berada dan menyatu dengan alam, para mahasiswapun menyatu bersama umat Stasi Bama ketika bersama-sama mengikuti perayaan ekaristi pada Minggu I Adven di Gereja Paroki Bama. Dalam khotbahnya, Romo Laurensius Riberu, Pr menyentil soal kehadiran kelompok-kelompok pencinta alam di mana saja kelompok itu berada. Baginya, kelompok pencinta alam adalah jangkar kehidupan zaman sekarang. Mereka memberi hati mereka pada alam, merawat, menjaga, membuatnya jadi indah dan memaknainya sebagai “aku yang lain”.

Hari-hari penuh makna ini didampingi oleh Puket III STP Reinha, Alfonsus Mudi Aran, S.Pd,MM, pendamping pramuka Kabupaten Flores Timur, Ignasius Tukan dan Emanuel Lamahoda. Ignas dan Eman dengan gaya dan kekhasannya “memenuhi otak para mahasiswa” dengan gagasan-gagasan dan praktek-praktek nyata seputar kepramukaan.

Alam semesta menjadi media kehidupan. Alam juga menjadi sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan kehidupan. Belajarlah ada dan menyatu dengan  alam semesta ini sebab dia adalah “diriku yang lain”.

Artikel_Flores Pos


Dari Das Sein Menuju Das Sollen
(Kado Buat DPRD Flotim 2014-2019)
Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka

8 September 2014 menjadi momen sarat makna bagi ketigapuluh anggota terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur. Hari itu mereka dikukuhkan menjadi para wakil rakyat Flores Timur untuk masa bakti lima tahun mendatang. Semenjak mereka ditetapkan sebagai ‘pemenang’, semenjak itu pula segundang harapan mulai dititipkan pada pundaknya. Semenjak itu pulalah mereka bukan lagi seperti mereka yang dulu melainkan mereka sedang bergerak dari apa yang ada menuju apa yang seharusnya ada, dari das sein menuju das sollen. 

Apa yang seharusnya ada pada mereka? Pertama-tama nian jati diri mereka yang baru adalah ‘wakil rakyat’. Sebagai wakil dari rakyat yang empunya kedaulatan politis, sang wakil tentunya selalu esse co-esse est, selalu ada bersama orang yang diwakilinya. Dari gerakan ada bersama itulah, sang wakil bisa mengetahui situasi dan keadaan mereka yang diwakilinya hingga boleh ‘menceritakannya’ di Gedung Bale Gelekat berdasarkan fakta empiris yang telah ‘dipetik’ dari momen ada bersama itu. Momen ada bersama tidak sekedar digelar di saat sang wakil mengunjungi mereka yang diwakilinya dengan bertebal kantong melainkan di saat di mana persoalan-persoalan kemasyarakatan sedang meminta perhatian.

Kedua, para wakil yang terpilih tentunya bukan orang sembarangan yang sengaja dipilih sekedar main-main dalam pesta demokrasi melainkan pribadi-pribadi pilihan yang memiliki ‘kualitas tertentu’ yang membuat orang memercayainya. Di hadapan kepercayaan tersebut, sang wakil mestilah memiliki kesadaran yang paling eksistensial bahwa kepercayaan itu merupakan sebuah titian baru baginya yang membabtis dan mengantar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih dari sekedar memiliki sebuah historitas politis di sebuah masa tertentu setelah bergulat dengan sejumlah kalkulasi sosial-politis-ekonomis di masa sebelum pemilihan dengan suka dan dukanya. Kepercayaan itu menjadi sebuah konstruk historis baru bagi tiap-tiap pribadi yang telah dengan gagah berani melangkahkan kakinya ke pelataran “Bale Gelekat” dalam sorak gembira keluarganya, kerabatnya, pemilihnya maupun simpatisannya. Di dalamnya, mereka sungguh boleh menjadi orang pilihan yang sejati yang empunya jiwa mengabdi, jiwa yang menolak kalkulasi politis egosentris.

Ketiga, dengan mengambil peran sebagai wakil rakyat mereka memiliki tanggungjawab besar terhadap mereka yang diwakilinya. Salah satu karakter dasar kodrat eksistensial-rasional manusia adalah kemampuan untuk menilai dan mengevaluasi tindakan dan perbuatannya. Dengannya, dia mampu membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara otonom sehingga ia juga harus bertanggungjawab atas pertimbangan, keputusan dan konsekuensi-konsekuensi tindakan-tindakannya. Wakil rakyat sebagai manusia yang dilengkapi dengan kodrat dasar kemanusiawiannya itu akan terlibat dalam aktvitas timbang-menimbang masalah dan kepentingan publik hingga menarik keputusan atau kebijakan-kebijakan. Ketika aktivitas itu itu berlangsung, di titik itu pulalah, para wakil rakyat sedang menambah pada dirinya kualitas pertanggungjawaban itu. Mereka tentunya, tidak berpuas diri karena telah melahirkan keputusan dan kebijakan lalu ‘mencuci tangan’ dengan lifeboy kecurangan pada pinggiran keputusan dan kebijakan.

Keempat, para wakil rakyat itu kerjanya bagaikan seorang yang unterscheidend innerwerden, orang yang secara intens memikirkan dan menghayati sesuatu. Dia memikirkan kepentingan orang banyak dan menghayati kebenaran-kebaikan universal dan bukannya menciptakan kriteria dan indikator-indikator kebenaran dan kebaikan menurut ukurannya sendiri. Di titik inilah, dia tampil sebagai pribadi yang dengan segala potensi, kualitas dan kelebihannya memiliki intensi untuk terlibat dalam perjuangan kebenaran, keadilan dan pembaharuan masyarakat. Ia tidak hanya berpikir dan memikirkan sesuatu, tetapi lebih dari itu mengedepankan apa yang dipikirkannya itu ke dalam hatinya serta menghidupi dan menghidupkannya di tengah masyarakat. Ia tidak hanya pandai, cepat mengerti, cerdas dan berintelek, tetapi juga mampu menggunakan kekuatan perasaan dan kehendaknya untuk meresapkan semuanya ke dalam diri dan hidupnya.

Patokan nilai dan prinsip yang mesti secara tegas dipegangnya itu adalah nilai dan prinsip kebenaran. Ia mesti berani dan tegas berpihak pada kebenaran dalam konteks variasi pilihan di tengah masyarakatnya. Para wakil rakyat tentu bukan pemilik kebenaran (Sophos), melainkan hanya sebagai orang yang mencari kebenaran (philosophos). Mengabdi kebenaran senantiasa dipahami dalam konteks mencari kebenaran itu.

Di titik inilah, mengabdi kebenaran menjadi sebuah perjuangan. Ia mesti terus-menerus melawan setiap kecenderungan untuk tetap bertahan dalam menghidupi nilai-nilai yang berseberangan dengan nilai kebenaran itu. Ia mesti berani menolak dan mengatakan “tidak” terhadap setiap nilai, paham, pola pikir dan kebiasaan yang tak sepadan dengan kebaikan dan kebenaran universal, berseberangan dengan nilai-nilai moral yang dijunjungnya atau bertentangan dengan kapasitas religiositasnya.

Sambil mengucapkan proficiat atas momen bersejarah 8 Septermber 2014, saya menitipkan sepenggal warta Allah yang dengan indah terpahat dalam kata-kata penulis Kitab Keluaran:“Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku telah turun untuk membebaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu...” (Kel 3:7-8). Sekiranya, para wakil rakyat Flores Timur boleh memperhatikan, mendengar, mengetahui “kesengsaraan” warga masyarakat Flores Timur dan boleh turun untuk membebaskan dan menuntunnya menuju Flores Timur yang bermandikan susu dan madu. Gerakan-gerakan inilah yang membuat para wakil rakyat sungguh beralih dari apa yang ada menuju apa yang seharusnya ada!

Artikel_Flores Pos


“SISTER CITY”: LEBIH DARI  SEKEDAR GURAUAN DI RUANG JAMUAN MAKAN

Oleh Ansel Atasoge

Larantuka, kota paling timur di Pulau Flores, Ibu kota Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi sebagai “sister city” atau kota kembar dengan Lisabon, Portugal. Peresmian Larantuka sebagai kota kembar dengan Lisabon ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Portugal yang diwakili Wali Kota Ourem Paulo Fonseca dan Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin di Jakarta, Rabu (23/5). Peristiwa bersejarah itu terjadi di Museum Nasional Jakarta dan disaksikan langsung oleh Presiden Portugal Anibal Antonio Cavaco Silva.

Gagasan kerja sama sister city lahir di “ruang jamuan makan malam” ketika Bupati Flores Timur menghadiri undangan makan malam dari Kedutaan Besar Portugal di Jakarta, beberapa waktu lalu, setelah Dubes Portugal menghadiri Prosesi Jumat Agung di Larantuka April lalu. Menurut Bupati Flotim, pada saat itu, Dubes Portugal Manuel Carlos Leitao Frota berjanji akan membantu mendorong realisasi kerja sama antara Pemerintah Portugal dan Pemerintah Kabupaten Flores Timur menjadikan Larantuka sebagai “sister city” atau Kota Kembar dengan Lisabon. Di Museum Nasional Jakarta pun, Manuel Carlos Leitao Frota berjanji mempromosikan perayaan suci “Semana Santa” dan Prosesi Jumat Agung atau “Sesta Vera” di Larantuka, Flores Timur, di Lourdes.

Gagasan dari “ruang jamuan makan malam” telah tertambat dalam rumusan-rumusan MoU. Rumusan MoU tentu tidak sekelas dengan gurauan-gurauan di ruang makan. Kedua belah pihak yang menandatangani Mou tentu telah memahami dokumen Mou. Dan, pasti bahwa apa yang dipahami akan dikomunikasikan, bukan untuk sekedar tahu atau menjadi tahu melainkan agar “setiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya” bisa terlibat di dalamnya. Informasinya pasti akan dikemas dengan sejelas-jelasnya agar esetiap orang yang terkait di dalamnya atau yang menjadi bagian darinya” bisa mengetahui di mana posisnya, apa perannya, apa sumbangsihnya.

Di pusat Kota Larantuka sudah ada dua baliho besar yang berkaitan dengan sister city. Yang satu di taman kota, berhadapan dengan Kantor Bank NTT Cabang Larantuka, di samping Gedung DPRD Flores Timur, dekat kompleks pertokoan. Yang satunya lagi di sudut luar depan Kantor Bupati Flores Timur. Ini merupakan dua tempat strategis untuk  konteks Larantuka. Pilihan tempat  tentu bukan sekedar pilihan acak-acakan. Yang satu dekat pusat perekonomian. Yang satunya dekat pusat pemerintahan. Baliho dan pilihan tempatnya ini menjadi media dan tempat komunikasi dan informasi bagi masyarakat Flores Timur dan masyarakat lain yang sedang “numpang lewat” di Kota Larantuka.

Larantuka yang memiliki “sejarah keterkaitan spiritual” dengan bangsa Portugis pada saatnya akan dibabtis menjadi tempat ziarah internasional, lebih dari sekedar kota wisata religius. Para peziarah mancanegara dan domestik akan datang ke Larantuka untuk memuaskan kebutuhan spiritualnya, lebih dari sekedar berdarmawisata untuk menghabiskan kelebihan uang dari kantong pribadi. Kalau Larantuka bisa mencapai satu atau dua persen dari rekor Lourdes yang bisa menggaet  lima sampai enam juta peziarah untuk mengunjunginya setiap tahunnya tentu luar biasa.

Larantuka,  kota ziarah yang akan sesaudara dengan Lisabon, akan menjadi “pilihan” karena ada “sesuatu yang menarik” dalam dirinya. Salah satu “objek” yang membuat orang tertarik adalah “Tuan Ma” yang pada tahun 2010 telah mencapai usia kehadirannya di Larantuka 500 tahun. Arca Bunda Maria banyak bentuk, corak dan rupanya. Namun, yang ada di Larantuka dipandang sebagai arca yang khas. Khas sejarahnya, khas pula tradisi ritualnya. Wilayah kekhasan inilah yang akan “dimasuki” para peziarah.

Selain “Tuan Ma”, peziarahpun akan menimba khazanah rohani dan aura spiritual yang akan ditampilkan oleh mereka yang empunya tradisi dan mereka yang telah membabtis diri sebagai pemegang tradisi. Kesaksian hidup mereka merupakan bagian dari kekhasan Larantuka sebagai kota ziarah. Larantuka tentu tidak ingin mempertontonkan kesenjangan antara isi tradisi dan praksis hidup para penganutnya kepada para peziarah.

Menyambut sister city, “orang-orang Larantuka” perlu membabtis diri menjadi orang-orang yang layak sebagai pemilik, penganut dan pencinta tradisi spiritualnya. Orang yang layak adalah orang yang selalu merindukan metanoia,yang selalu menginginkan transformasi diri dan komunitasnya berkat pancaran isi tradisinya. Hemat saya, titik inilah yang menjadikan Larantuka sebagai kota ziarah yang layak dikunjungi. Kerja berat siap menanti. Tidak hanya pemerintah, Gereja pun perlu memiliki konsep-konsep sister city yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sister city tentu bukan proyek yang syarat bisnis untung ruginya. Sister city tentu bukan aksi gagah-gagahan yang mencoba membuat Larantuka “tampil beda”. Sister city tentu bukan sekedar “memoria” tentang keindahan sejarah dan khazanah spiritual Gereja di masa lalu. 

Sekiranya sister city nantinya “tidak dilihat semata” sebagai komoditas ekonomis. Sekiranya pula, sister city nantinya “tidak semata dipandang” sebagai komoditas politik elit-elit politik tertentu. Mereka yang menanam baliho tentu tidak punya pikiran “dangkal” seperti ini. Mereka tentu sepakat kalau gurauan di ruang jamuan makan menjadi awal dari sebuah sejarah baru bagi Larantuka: Kota Rohani yang layak dihuni!  Selamat menyambut sister city!   

Wednesday, January 28, 2015

Feature_Flores Pos


Feature:
Semana Santa di Larantuka: Dari Ritual Menuju Praksis
Oleh Anselmus Atasoge

Setiap tahun, sekitar seminggu menjelang Paskah, kota Larantuka di Flores Timur dengan khidmat merayakan Minggu Suci yang dikenal sebagai Semana Santa. Merupakan Prosesi puncak pada hari Jumat Agung atau Sesta Vera. Pusat perayaan diadakan di dua patung suci, yaitu patung Yesus Kristus (secara lokal dinamai Tuan Ana) dan patung Perawan Maria (secara lokal dinamai Tuan Ma). Kedua patung tersebut dibawa oleh misionaris Portugis Gaspardo Espírito Santo dan Agostinhode Madalena pada abad 16.

Terletak di wilayah paling timur pulau Flores, Larantuka juga dikenal dengan Kota Reinha atau Tana Nagi, yang merupakan ibu kota kabupaten Flores Timur. Kota ini memiliki pengaruh kuat kolonial Portugis dan dikenal sebagai salah satu tempat dimana agama Katolik berkembang di Indonesia. Lebih dari lima abad, kawasan ini telah mewarisi tradisi Katolik melalui peran masyarakat umum. Raja Larantuka, misionaris, persaudaraan para rasul dari rakyat biasa (Confreria), suku Semana, dan suku Kakang (suku Kakang Lewo Pulo), serta suku Pou (Suku Lema) telah memainkan peran penting dalam pengembangan Katolik di wilayah Larantuka.

Dalam acara Pekan Suci ini, kota Larantuka yang biasanya tenang berubah ramai karena disesaki peziarah dan jemaat dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Semana Santa dimulai dengan Trewa Rabu pada pertengahan minggu Paskah. Pada hari ini, berkumpul di Kapel Devotees dan berdoa untuk mengenang pengkhianatan Yudas Iskariot yang menyebabkan penangkapan Yesus dan shackling. Ini adalah saat dimana kota Larantuka berubah menjadi Kota Berkabung, tenggelam dalam kekhidmatan dan refleksi pemurnian jiwa.

Pada hari Kamis Putih, kegiatan-kegiatan dan upacara tradisional didahului dengan perayaan ekaristi sekaligus Uskup Larantuka memberkati minyak krisma, minyak suci dan minyak permandian serta pembaruan janji ketaatan para imam kepada Uskup.

Sementara itu, Tuan Mardomu bersama kaum keluarganya, handai tolan dan umat melaksanakan “tikam turo”, tiang dari kayu kukung dengan rantai bambu tempat pasang lilin untuk devosi Prosesi Jumad Agung serta persipan-persiapan untuk membuat armida.

Sesudah perayaan ekaristi, di kapela Tuan Ma, Conferia melaksanakan upacara “muda tuan” yaitu membersihkan, memandikan dan merias Patung Maria Dolorosa. Dalam busana biru lasuardi Patung Maria Mater Dolorosa (Tuan Ma) diletakkan di atas tumba (usungan) di tengah ruang kapela. Devosi dan ziarah imanpun dimulai.

Sang Bunda dicium oleh para devoter. Pertama-tama Raja dan Keluarga Raja, Badan Pemerintah Confereia dan selanjutnya pintu Kapela Tuan ma dibuka untuk peziarah-peziarah iman.

Setiap peziarah yang hendak mencium Tuan Ma sebelum masuk ke dalam kapela harus melepaskan alas kakinya dan berjalan dengan berlutut sampai di depan Tumba Tuan ma.
 
Suasana ziarah iman cium Tuan Ana dan cium Tuan Ma berlangsung sepanjang hari, semalam suntuk sampai dengan hari Jumad siang. Pada malam hari sesudah perayaan Ekaristi perjamuan Tuhan diadakan upacara ibadat penyembahan Sakramen Mahakudus (Adorasi) di Gereja Katedral. Semalam suntuk sampai pagi hari umat mengadakan ziarah ke Gereja Katedral untuk menyembah Sakramen Maha Kudus.

Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian perayaan Semana Santa (pekan suci) Paskah. Prosesi ini menempatkan Yesus sebagai pusat ritual dan menempatkan Ibu Maria sebagai ibu yang berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan Yesus anaknya sebelum dan saat disalib.

Pagi sebelum puncak acara, arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus) dilakukan lewat laut dengan “Bero” (sampan pakai kate) dari Kapela Tuan Meninu di Paroki San Juan Lebao ke pantai Kuce di Pohon Sirih dan selanjutnya diarak ke Armida Tuan Meninu. Siang harinya dilanjutkan arak-arakan Tuan Ma dan Tuan Anna menuju Katedral. Dari titik inilah prosesi Sesta Vera dengan jutaan lilin dimulai. Selama malam Jumat Agung, lilin dinyalakan sepanjang 2 km di jalan dan di depan rumah penduduk yang dilalui prosesi.

Pada hari berikutnya, Sabtu pagi, diadakanlah devosi proses mengantar kembali tuan ana dan tuan ma ke Kapela Tuan Ana dan Kapela Maria. Devosi ini adalah kelanjutan dari Semana Santa. Suasana suka cita mulai terasa lewat lagu-lagu gembira Vergen Mai De Deo. Umat peziarah masih diberi kesempatan cium Tuan Ana dan Tuan Ma.

Kemudian konfreria melaksanakan “KESUMI” baik di Kapela Maria maupun di Kapela Tuan Ana. Patung Tuan Ma (Maria Mater Dolorosa) dan Tuan Ana disimpan kembali pada tempatnya semula. Sesudah kesumi di Kapela Tuan Ana dilangsungkan upacara tradisional “SERAH PUNTO DAMA” dari Tuan Mardomu Promesa tahun berikutnya. Pada sore hari (malam hari diadakan perayaan Ekaristi kebangkitan Yesus Kristus semeriah-meriahnya di Gereja Katedral.

Pada hari minggu paskah diadakan prosesi Alleluya. Pada jam 16.00 patung Maria Alleluya diarak dari kapela Maria ke Gereja Reinha Rosari oleh Confreria dan umat lingkungan sekitarnya. Setibanya di Gereja, patung Maria Alleluya ditahtakan di samping Altar, dan pada jam 17.00 dirayakan Ekaristi Kudus.

Perayaan misa Paskah bersama Maria Alleluya ini merupakan kegiatan akhir sepanjang semana santa baik liturgi maupun devosi. Kehadiran Maria Alleluya, Maria bersuka cita bersama umat yang merayakan ekaristi mulia kegembiraan kebangkitan ini, sebagai wujud turut bersuka cita atas kemenangan dan kebangkitan putra tunggalnya Yesus Kristus dari alam maut setelah mengalami penderitaan maha dahsyat yang berakhir dengan Wafat di kayu salib.

Perayaan ekaristi berakhir dengan perarakan patung Maria Alleluya kembali ke kapela Maria. Setibanya di kapela Maria, upacara devosi berakhir dengan nyanyian  “VERGEN MAI DE DEO” (PERAWAN DAN BUNDA ALLAH).  Pimpinan Confreria menutupnya dengan doa singkat. Setelah itu imam keluar dan mengambil tempat di depan pintu kapela, dan dengan salib imam memberikan berkat akhirnya kepada umat yang hadir memenuhi pelataran kapela, juga bagi semua umat yang telah mengikuti upacara kebaktian sepanjang Semana Santa.

Semoga semana santa tahun ini semakin berdaya sapa dan berdaya guna bagi setiap insan yang terlibat di dalamnya. Semoga “ia” berdaya menyapa wajah perpolitikan di daerah ini. Semoga “ia” membingkai praksis semua insan di kota ini yang tengah “memperjuangkan” keadilan dan kebenaran bagi orang-orang kecil yang telah dimanipulasi haknya untuk bersaksi tentang hal dan peristiwa yang sesungguhnya.

Maria menjadi Mater Dolorosa karena membawa dirinya seutuhnya dalam kisah penderitaan Puteranya. Semoga, setiap insan yang “menghadirkan dirinya” di dalam semana santa boleh mengambil bagian di dalam penderitaan sesamanya, dan bukannya menjauhinya dari “seberang jalan lain”.

Artikel_Kabar NTT


METING DOENG BEACH, PESONA PANTAI UJUNG KOTA

Oleh: Anselmus Atasoge

 

Tak ada destinasi wisata pantai di kota Larantuka yang paling menghangatkan jiwa selain pantai Meting Doeng Beach. Terletak di Kelurahan Weri, ujung Kota Larantuka, Meting Doeng Beach menghadirkan pesona pantai pasir putih dengan laut hijau kebiruan dengan sejuta biota laut.

Keindahan Meting Doeng Beach menarik hati seniman dan musisi lokal untuk menjadikannya sebagai latar sejumlah video klip mereka. Cisil Ina Gelekat Record yang bermarkas di Sarotari Larantuka sering mengabadikan klip-klipnya dengan berlatar Meting Doeng Beach. Menurut Paul Goran, orang muda yang empunya CIG Record, Meting Doeng Beach memiliki pesona tersendiri yang patut dieksplorasi. “Meting Doeng itu indah dan memberi banyak inspirasi bagi kami”, katanya.

Puluhan album karya CIG Record menjadikan Meting Doeng Beach sebagai latar klipnya. Beberapa di antaranya yakni “Anjelina” (2001), “Muka Doi” (2007), “Nona Masih Kece” (2009),  “Ake Tutu Ata” (2011),  “Ina Gehi” (2011) dan “Ama Nadun” (2014). Kini, CIG Record sedang merilis album gado-gado “Dolo-Dolo” yang sebagian besar lokasi shoting klipnya di Meting Doeng Beach.

 

Meting Doeng pun memiliki sejuta kekayaan di dasar lautnya. Valens da Silva, seorang nelayan yang selalu memancing di Pantai Meting Doeng mengakui Meting Doeng ‘mengandung’ komoditas laut yang bernilai jual tinggi. “Saya selalu menangkap ikan di Pantai Meting Doeng. Banyak ikan dasar yang telah saya tangkap,” katanya.

Meski kini tidak terawat baik, pantai yang jadi tempat pilihan rekreasi kebanyakan warga kota Larantuka dan sekitarnya ini tetap menjadi tempat wisata yang masih diminati.  Menjadi bagian dari Laut Flores, Meting Doeng Beach punya pesona yang belum ‘dijamah’ Dinas Pariwisata Kabupaten Flores Timur. Dia masih sungguh alami, belum terjamah ‘tangan-tangan indah’ untuk mengolahnya jadi ‘surganya kota Larantuka’.

Meting Doeng Beach telah hadirkan dirinya sebagai bagian dari kehidupan warga Kota Larantuka. Dia telah ‘memberi kehidupan’ bagi para nelayan. Keindahan pantainya pun telah menyegarkan tubuh yang penat ketika mentari membakar tubuh. Tanggung jawab untuk memperindah dan mempercantiknya hingga menjadi sumber kehidupan dan layak jadi destinasi wisata baik dari dalam kota Larantuka maupun dari luar kota adalah tanggung jawab Pemerintah Flores Timur dan warga kota Larantuka.

Artikel_Kabar NTT


ADORASI EKARISTI ABADI DI MUSEUM MGR. GABRIEL MANEK, SVD

Oleh: Anselmus Atasoge

 

Tidak lengkap bagi para wisawatan rohani yang datang ke Larantuka kalau belum menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Mgr. Gabriel Manek, SVD yang terletak di Biara Pusat Puteri Reinha Rosari (PRR) Larantuka, samping Gereja San Juan Lebao di Kelurahan Puken Tobi Wangi Bao.

Di museum ini, para suster konggregasi Puteri Reinha Rosari mensemayamkan “jenasah utuh” pendiri konggregasinya, uskup pertama Keuskupan Larantuka Mgr. Gabriel Manek, SVD. Jenasah Mgr. Gabriel dipindahkan dari pekuburan di Techny, IL, Amerika Serikat, 10 April 2007 ke tengah Kongregasi yang didirikannya di Larantuka, Kongregasi Puteri Reinha Rosari. Selain jenasah utuh Mgr. Gabriel Manek, SVD, di museum ini pun disemayamkan kerangka tubuh co-pendiri konggregasi PRR, Sr. Anfrida, SSpS.

Semenjak 29 Juli 2014,  di museum ini pun ditahtakan Sakramen Mahakudus. Umat Katolik Dekenat Larantuka secara bergilir setiap hari selama 24 jam datang berdoa dan menyembah Tuhan di tempat ini. Inilah sebuah ‘ibadah’ yang dalam tradisi Gereja Katolik disebut dengan nama ‘Adorasi Ekaristi Abadi’.

Di Keuskupan Larantuka, ‘Adorasi Ekaristi Abadi’ diperkenalkan oleh Pastor Hugh Thomas, CsSR dari Australia. Pastor Tom mengisahkan bahwa perjuangannya untuk memperkenalkan Adorasi Ekaristi Abadi merupakan bagian dari persembahan seluruh imamatnya kepada Bunda Maria, Ibunda Yesus. “Bunda Marialah yang mendorong saya untuk jalan ke mana-mana!”, kata pastor yang pada Juli 2015 genap 50 tahun usia imamatnya.

Ada banyak tempat wisata rohani di Larantuka. Sebut saja yang sudah mendunia yakni Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana. Yang terakhir yang sedang didirikan adalah Bukit Fatima di San Dominggo. Sekiranya Adorasi Ekaristi Abadi  dan Wisata Rohani di Larantuka tidak sekedar sebuah ungkapan dari sense of religious manusia-manusia beriman melainkan lebih dari itu merupakan sebuah jalan untuk untuk  memperindah cermin kehidupannya sebab imago animi vultus est, indices oculi (wajah menjadi cermin hati, sementara mata memperlihatkan apa yang ada di dalamnya). 

Artikel


“Aku Masih Punya Mimpi”

Oleh: Anselmus Atasoge

 

Apakah aku masih punya mimpi?/Mimpi untuk menghapus duka/Mimpi untuk memetik kembang kedamaian/Mimpi untuk meraih pucuk kebahagiaan/Di atas hitamnya goresan takdir! Penggalan puisi sarat makna itu meluncur dengan terbata-bata dari bibir Ibu Stevania U.P di hadapan seribu lilin di kaki tugu pelataran Kantor Bupati Flores Timur, Senin malam, 1 Desember 2014. 

Meski dengan terbata, Stevania, yang adalah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dengan tegar mengucapkan kata-kata itu. Stevania tegar meski sang suami “telah tiada” dan sejumlah stigma telah dilekatkan pada dirinya. Malam itu, sejumlah ODHA mengapitinya. Seribu lilin meneranginya. Seribu lilin, seribu pengharapan akan “perubahan” yang lebih baik.

“Malam Renungan dan Seribu Lilin Bersama ODHA” memperingati hari AIDS Sedunia di Flores Timur dihadiri Bupati Flores Timur, Wakil Bupati Flores Timur, anggota muspida, para pejabat di lingkup pemerintah Kabupaten Flores Timur, para tokoh agama, orang-orang muda dan para ODHA. “Semalam bersama ODHA Flores Timur ini” menjadi medan penuh refleksi. Refleksi tentang jati diri orang dengan HIV/AIDS, permenungan tentang eksistensinya di pusaran kehidupan yang penuh tantangan.

Di mata bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos, para ODHA adalah insan-insan manusia yang perlu diberi “ruang” untuk bisa hidup, ada bersama dan menyatu dengan sesamanya. “Secara moril, dengan memberi ruang, kita memberi spirit bagi mereka untuk bisa bertahan hidup lebih lama lagi,” kata bupati Flotim.  Bupati Flores Timur juga menghimbau para tokoh agama untuk tak henti-hentinya menjadikan “mimbar” sebagai sarana untuk mengajak umatnya untuk hidup dan berperilaku secara benar agar terhindar dari virus yang mematikan itu dan tidak mengucilkan sesama yang sudah terjangkit HIV/AIDS.

Malam seribu lilin tidak menjadi “pilihan” tontonan khalayak Flores Timur. Tak banyak undangan yang hadir. Menurut Bupati Flotim, banyak pejabatpun tidak mengindahkan 300-an undangan yang telah disebarkan oleh pihak penyelenggara. Tak banyak pula khalayak Flores Timur yang mengetahui secara pasti “makhluk” apa HIV/AIDS itu. Biasanya, orang pada kaget dan sadar ketika “makluk” itu sudah menyatu dalam “darah” manusia, kata Bapak Anis, mantan perantau yang kini hidup dengan HIV/AIDS.

Data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun penderita AIDS Flores Timur semakin meninggkat. Hingga tahun 2014, sudah sebanyak 169 warga Flores Timur yang telah terjangkit HIV/AIDS. Delapan puluh sembilannya sudah meninggal dunia, 138 sudah terkena AIDS dan 31-nya sedang HIV. Penderita terbanyak adalah kaum laki-laki (107 orang). Sisanya 62 orang adalah kaum perempuan.

Malam seribu lilin yang terselenggara berkat kerjasama Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Flores Timur dan Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka yang didukung oleh Childfund Indonesia dan KLPAMF Flores ini menjadi malam kenangan akan “insan-insan” yang telah jadi korban HIV/AIDS. Malam seribu lilinpun boleh jadi malam “penggalangan kekuatan” untuk menangkis seribu virus yang tengah menanti di depan mata. Maka, benarlah kata Romo Marianus Dewantoro Welan, Pr yang malam itu tampil dengan renungan reflektifnya. “Kenalilah dirimu supaya mimpi-mimpimu tentang kehidupan ini boleh kau wujudkan!” Dan, Stevania pun menutupi puisinya: Dalam keremangan malam ini/Kumohon kekuatan padaMu Tuhan/Karna aku masih punya mimpi/Dan kupinta padamu sekalian/Jangan pernah tinggalkan aku seorang diri!

Tuesday, January 27, 2015

Laporan DPPS San Juan

Menuju Gereja Paroki San Juan Lebao Yang Mandiri dan Misioner
[laporan dewan pastoral paroki san juan 2014]
oleh: Tim Pastor dan DPP San Juan



LAPORAN   
DEWAN PASTORAL PAROKI SAN JUAN
TAHUN 2014

I.        PENDAHULUAN
Kini kita sudah mengakhiri tahun 2014 dan siap menyambut fajar baru di tahun 2015. Tahun 2014 berakhir dengan sejuta kisah yang menjadi catatan sejarah dalam diary kehidupan menggereja Paroki San Juan. Di dalamnya catatan-catatan itu kita boleh bercermin diri untuk mengais kembali jejak-jejak yang tak rapih, jejak-jejak yang mesti terus diperindah dalam jalan-jalan pastoral di tahun yang baru. Laporan dan catatan Dewan Pastoral Paroki ini hendak membahasakan kembali jejak-jejak perjalanan pastoral selama tahun 2014.
II.        KEADAAN UMAT
          Berdasarkan data paroki San Juan pada Desember  2014, terhimpun data sebagaiberikut:
a.    JumlahumatParoki San Juan sebanyak = 8.661 jiwa. Kepala Keluarga di Paroki San Juan sebanyak= 1895 Kepala Keluarga sesuai data Amplop (tidak termasuk kos-kosan sementara).    
b.   UmatParoki San Juan yang meninggal sebanyak = 38 orang. Laki-laki 20 orang, perempuan 18 orang.
c.    Umat Paroki San Juan yang dipermandikan sebanyak = 141 orang. Laki-laki 71 orang, perempuan 70 orang.
d.   Umat Paroki San Juan yang menerima komuni pertama = 204 anak.
e.    Umat Paroki San Juan yang menerima sakramen perkawinan sebanyak= 32 pasang.

       III.        CATATAN UMUM TENTANG KEHIDUPAN MENGGEREJA UMAT PAROKI SAN JUAN

Sepanjang tahun 2014, Dewan Pastoral Paroki San Juan mencatat beberapa hal umum yang berkaitan dengan kehidupan menggereja umat Paroki San Juan.
Pertama, umat Paroki San Juan sudah berpartisipasi dalam kehidupan berkomunitas basis gerejani, lingkungan dan paroki. Namun, tidak semua umat memandang KBG, lingkungan dan paroki sebagai milik dan bagian dari dirinya. Hal ini berdampak pada partisipasi aktif yang lahir dari kesadaran pribadi setiap umat Paroki San Juan.
Kedua, Gereja Paroki San Juan sudah menampakan dirinya sebagai Gereja yang mandiri, solider dan berbagi. Namun, penampakan itu belum sepenuhnya berbias pada kehidupan nyata harian. Kegiatan Lingkungan dan KBG balum banyak dihadiri oleh kaum bapak dan OMK, banyak umat yang enggan untuk menjadi Agen Pastoral, rasa memiliki Paroki belum menjadi milik banyak umat.
Ketiga, belum semua pengurus KBG, lingkungan dan anggota Dewan Pastoral Paroki terlibat dalam pastoral yang manajerial-partisipatip berbasis kebutuhan. Keterlibatan para agen pastoral ini sebagian besar masih terbatas pada keterlibatan insidental yang terbatas pada momen-momen tertentu saja.
Keempat, umat Paroki San Juan belum secara nyata memberikan respons profetis terhadap realitas sosial yang dihadapinya, dijumpainya atau yang diketahuinya seperti perjudian, pesta pora yang berlebihan, kemabukan, perkelahian antar pemuda, perselingkuhan dan meningkatnya pergaulan bebas di kalangan remaja dan kaum muda serta maraknya kupon putih yang berakhir dengan menghuni penjara di rumah tahanan dan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan hukum perkawinan Gerejani seperti hidup serumah tanpa ikatan perkawinan sakramental, terputusnya komunikasi antara suami istri hingga berdampak pada perpisahan keduanya serta meningkatnya pengajuan permohonan dispensasi untuk disparitas cultus atau perkawinan beda agama dan mixta religiosi atau perkawinan beda gereja.

Berdasarkan catatan-catatan ini dapatlah dikatakan bahwa dalam konteks kehidupan menggereja dan kehidupan bermasyarakat, umat Katolik Paroki San Juan belum menampakkan sinergisitas antara kehidupan menggereja dan kehidupan bermasyarakat. Masih ada jurang antara apa yang dirayakan di dalam Gereja dengan apa yang dihidupi di tengah masyarakat. Masih ada ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan. Atau dengan kata lain, aktivitas Gerejani belum berdaya sapa di tengah kehidupan bermasyarakat. Model pastoral harus ditata kembali sesuai keadaan umat.
Pada kesempatan ini, kami pun akan melaporkan secara umum capaian program Dewan Pastoral Paroki selama tahun 2014.

  IV.       EVALUASI PELAKSANAAN  PROGRAM  DPP 2014
Program DPP 2014 terdiri dari 45 kegiatan khas Paroki San Juan menjawabi anjuran umat yang dirangkum dalam pleno 2014 dan  22 Program Keuskupan Larantuka sebagai gerakan bersama  tahap I “PEMBERDAYAAN KBG SEBAGAI KOMUNITAS PERJUANGAN dan PENGORGANISASIAN DAN PEMBERDAYAAN KELOMPOK KATEGORIAL. Selain itu kita harus melaksanakan 12 kegiatan Keuskupan dan Dekenat yang tidak diprogramkan dalam tahun 2014.  
1.    DEWAN HARIAN
1.         Sosialisasi fungsi dan peran DPP, Lingk. Dan KBG
2.         Sosialisasi Hasil Pleno 2014
3.         Pengkawalan  kegiatan seksi
4.         Mengadakan Rapat berkala (Bulan, Tengah Tahun, Pra Pleno dan Pleno)
5.         Pembenahan Pengurus  dan Karyawan Paroki
6.         Pelantikan DPP, Lngk dan KBG
7.         Sosialisasi dan pemahaman KBG sebagai Lokus dan    Fokus kehidupan Menggereja
8.         Pemekaran KBG dan Lingkungan (Kerjasama dengan Pemerintah Kelurahan)
9.         Membuat Peta  Wilayah Paroki
10.     Inventarisasi Sekretariat Paroki
11.     Pelatihan dan pendampingan Pegawai Paroki
12.     Mengkoordinir Kebutuhan Pastoral
83% terlaksana dan 17 %  tidak terlaksana. 
           (2 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA)

2.    LITURGI
1.      Pertemuan Berkala Pengurus Seksi Paroki dan Lingkungan
2.      pelatihan lanjutan organis dan dirigen
3.      Pendampingan  Pemimpin IOM
4.      Memberi pemahaman tentang Sakramen Ekaristi kepada Anak/Remaja
5.      Perayaan ekaristi KBG
6.      Ibadat KBG
7.      Sosialisasi tentang Maksud  dan tujuan Derma Gereja
8.      Misa pemberkatan benih
9.      Misa syukur panen
10.  Memberikan pemahaman tentang makna kerja menurut ajaran sosial Gereja  (LE)
4 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA 
( 40 % Belum terlaksana dan 60% terlaksana)

3.   PEWARTAAN
1.         Rekoleksi Komunitas
2.         Pendampingan bagi katekumenat.
3.         Mengadakan kegiatan SOMA lanjutan.
4.         Pembinaan persiapan penerimaan sakramen.
5.         Katekese sakramen gereja
6.         Pendampingan lanjutan kepada pemimpin KBG.
7.         Latihan keterampilan berkatekese dan memimpin ibadat.
8.         Perayaan Perutusan Untuk Para Petugas Pastoral terlatih
9.         Sosialisasi KHK (aturan Gereja) dan  kebijakan Pastoral
10.     Pengumatan ajaran Gereja

80%  terlaksana dan 20% tidak terlaksana 
(2 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA)

4.    KELUARGA
1.   Pendataan dan pendampingan lanjutan kepada pasangan usia Balita.
2.   Mengkoordinir Perayaan HUT perkawinan.
3.   Sosialisasi HIV AIDS dan penyakit sosial masyarakat dari perspektip Gereja
4.   Mengadakan Kursus Persiapan Perkawinan (KPP).
75% terlaksana dan 25% tidak  terlaksana   (1 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA)

5.    KERAWAM
1.         Pendataan dan pembenahan kelompok kategorial
2.         Pembentukan kelompok kategorial awam birokrat di setiap lingkungan.
3.         Pembentukan pengurus awam birokrat Paroki San Juan.
4.         Dialog dengan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat
5.         Dialog interaktip antara hirarki dan kaum awam birokrat
6.         Rekoleksi untuk awam birokrat (KERAWAM)
50% terlaksana dan 50% tidak  terlaksana 
( 3 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA) 


6.   PENDIDIKAN
1.         Mengadakan dan mengelola taman bacaan rohani bagi anak usia sekolah.
2.         Mengkoordinir pastoral sekolah (kunjungan pastor/Biarawan/wati ke sekolah).
3.         Rekoleksi para Guru Katolik
4.         Pelatihan kepemimpinan
5.         Pendampingan anak dan remaja

60% terlaksana dan 40%  belum  terlaksana   
1 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA (hambatan: terbentur dengan kegiatan pastoral lain serta padatnya kegiatan di sekolah-sekolah)

7.    KEPEMUDAAN
1.        Pendataan OMK di Tingkat KBG dan Lingkungan.
2.        Pembenahan organisasi OMK di Lingkungan
3.        Camping rohani OMK. (Tingkat keuskupan)
4.        Rekoleksi menjelang Hari Raya.
5.        Sosialisasi bahaya Miras, Narkoba, HIV-AIDS (KELUARGA & KEPEMUDAAN) (Kegiatan tingkat keuskupan)
6.        Penjadwalan dan latihan secara berkala.
66% terlaksana  dan 34% tidak terlaksan, 2 kegiatan tidak terlaksana

8.   GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
1.         Sosialisasi kesetaraan Gender
2.         Sosialisasi tentang Pentingnya KIA  menurut ajaran Gereja
3.         Katekese KIA & Rekoleksi bagi kader posyandu.
33% terlaksana dan 67% tidak terlaksana
 (2 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA)

9.   SOSIAL EKONOMI
1.         Pembentukan dan pemberdayaan kelompok Usaha Bersama
2.         Memberi Pendampingan kepada kelompok Usaha peningkatan Ekonomi Umat (Arisan, UBSP, Koperasi)
3.         Kerjasama dengan instansi terkait untuk penguatan modal dan keterampilan 
4.         Pemasaran bersama komoditi masyarakat
5.         Diskusi bersama tentang Penyederhanaan pesta gereja dan kematian 
40% terlaksana dan 60% tidak terlaksana 
(3 KEGIATAN TIDAK TERLAKSANA)

10.      HARTA BENDA GEREJA
1.         Inventarisasi HBG
2.         Perawatan / pemeliharaan HBG
3.         Pengadaan HBG sesuai kebutuhan
4.         Melayani Permintaan Umat yang membutuhkan HBG
5.         Bakti sosial karitatif dan aksi hari raya  (Natal dan Paska)
6.         Pembangunan :MCK, Pagar depan Gereja
7.         Perawatan Kubur
100% terlaksana.


KEGIATAN PAROKI MENJAWABI KEGIATAN KOMISI / KEUSKUPAN:
1.    PENDAMPINGAN PARA PENDAMPING SEKAMI
2.      KEGIATAN ANAK SEKAMI TINGKAT DEKENAT DI TAMAN KOTA
3.      KEGIATAN ANAK SEKAMI TINGKAT DEKENAT DI PAROKI KRRL
4.      SEMINAR ADORASI ABADI TINGKAT DEKLENAT DI  AULA KEUSKUPAN
5.      PELATIHAN PENGEMBANGAN USAHA UNTUK OMK
6.      KEMPING ROHANI OMK TINGKAT KEUSKUPAN
7.      SOSIALISASI PENYAKIT RABIES
8.      PENDAMPINGAN UNTUK SEKSI GENDER TINGKAT DEKENAT DI WAIBALUN
9.      SEMINAR HARI PENGAN SEDUNIA TINGKAT KEUSKUPAN DI PAROKI WAIWERANG (Tidak ada utusan)
10.   LOMBA KITAB SUCI TINGKAT KAB FLOTIM DI SARON PADA BKSN
11.   REKOLEKSI AWAM BIROKRAT KAB. FLOTIM DI PAROKI KRRL
12.   SOSIALISASI SISTER CITY

Kegiatan yang belum terlaksana:
1.        Pemekaran Lingkungan (sudah Dalam proses pembicaraan)
2.        Membuat Peta  Wilayah Paroki
3.        Pendampingan  Pemimpin IOM
4.        Misa syukur panen
5.        Memberikan pemahaman tentang makna kerja menurut ajaran sosial Gereja  (LE)
6.        Perayaan Perutusan Untuk Para Petugas Pastoral terlatih
7.        Pengumatan ajaran Gereja
8.        Sosialisasi HIV AIDS dan penyakit sosial masyarakat dari perspektip Gereja
9.        Pembentukan kelompok kategorial awam birokrat di setiap lingkungan.
10.     Pembentukan pengurus awam birokrat Paroki San Juan.
11.     Dialog dengan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat
12.     Mengadakan dan mengelola taman bacaan rohani bagi anak usia sekolah.
13.     Pembenahan organisasi OMK di Lingkungan
14.     penjadwalan dan latihan (Penggunaan alat Band) secara berkala.
15.     Sosialisasi tentang Pentingnya KIA  menurut ajaran Gereja
16.     Katekese KIA & Rekoleksi bagi kader posyandu.
17.     Pembentukan dan pemberdayaan kelompok Usaha Bersama
18.     Memberi Pendampingan kepada kelompok Usaha peningkatan Ekonomi Umat (Arisan, UBSP, Koperasi)
19.     Pemasaran bersama komoditi masyarakat

Catatan rekomendasi: dilaksanakan tahun 2014

V.        CATATAN EVALUASI  TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN DPP DAN KEGIATAN PASTORAL:

A.    Program Prioritas (Kegiatan DPP Sesuai Amanat Pleno)
1.     Dari 67 kegiatan yang prioritas, 48 kegiatan terlaksana dan 19 kegiatan tidak terlaksana. Dengan dengan tingkat pencapaian 67%. Kalau dibandingkan secara kuantitatip dengan kegiatan tahun 2013 maka kita mengalami penurunan prosentase pelaksanaan kegiatan tetapi kalau di buat perbandingan secara kualitatip maka kwalitas kegiatan 2014 mengalami peningkatan.   
2.     Ada kegiatan seksi yang terbawa dari tahun ke tahun namun belum terlaksa dengan baik hal ini terjadi karena keterlibatan komunikasi antara anggota seksi dengan DPP/tim Pastor, pastoral data kurang mendapat perhatian, kegiatannya kurang mendesak bahkan tidak menyentuh kebutuhan umat, kekurangan pemahaman tentang tugas dari pengurus, ada rasa kebergantungan seksi pada Dewan harian atau tim Pastor dan kesibukan rutin sehingga tidak diperhatikan dan terlupakan.
3.     Kegiatan DPP bisa berjalan dengan baik dimungkinkan oleh tanggapan umat terhadap kegiatan tersebut. Banyak kegiatan rohani untuk kelompok-kelompok belum dirasakan sebagai kebutuhan sehingga banyak kegiatan DPP yang terfokus di Paroki tidak ditanggapi secara baik, hal ini berdampak pada tidak terlaksananya kegiatan yang sudah diprogramkan.
4.     Ada kesulitan untuk membuat penjadwalan kegiatan karena ada banyak kegiatan lain seperti: kematian, arisan keluarga, kegiatan adat, kegiatan pemerintah yang melibatkan umat pada saat yang sama.
5.     Tanggungjawab pengurus DPP untuk melaksanakan kegiatan mengalami peningkatan. Walau ada beberapa kegiatan yang tidak bisa dilakasanakan itu bukan karena DPP tidak aktip tetapi hal ini terjadi karena padatnya kegiatan kita di tahun ini, baik pada diri anggota DPP maupun pada umat, soal umum yaitu ada kesulitan dalam membagi waktu.
6.    Pengukuhan pengurus DPP belum dilaksanakan mempengaruhi kinerja. (akan dilaksanakan tahun 2015 setelah ada revitalisasi Seksi DPP sesuai panduan Peraturan DPP yang diturunkan keuskupan dan ditegaskan Bapak Uskup dalam surat pastoral untuk membuka Tahun Progran tahap II 2015).
7.     Banyak kegiatan DPP yang penting dan mendesak, berjalan dengan baik karena kerja sama antar seksi, koordinasi Dewan Harian dan bantuan Tim Khusus Paroki. (Apresiasi bagi seksi yang sudah bekerja maksimal)
8.     Sosialisasi dan  penjabaran secara berjenjang hasil keputusan bersama belum maksimal. Terputusnya komunikasi, informasi dan konsultasi dari para pengurus menyebabkan mandeknya kegiatan bersama.
9.     Pembangunan finansial Paroki mengalami peningkatan yang berarti, memungkinkan terlaksananya program, baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan.

B.   Program Pastoral Rutin: (Catatan Pastor: Evaluasi, Kebijakan dan Rekomendasi)

Kan. 528 - $ 1. Menegaskan bahwa Pastor Paroki terikat kewajiban untuk mengusahakan agar Sabda Allah diwartakan utuh kepada orang-orang yang tinggal di Paroki; maka dari itu hendaknya ia mengusahakan agar kaum beriman Kristiani awam mendapat pengajaran dalam kebenaran iman terutama dengan homili pada hari minggu, hari wajib gereja dan juga dengan katekese yang harus diberikan; hendaknya ia membina karya-karya untuk mengembangkan semangat injil, juga yang menyangkut keadilan sosial, hendaknya ia mencurahkan perhatian khusus untuk pendidikan katolik anak-anak dan kaum muda; hendaknya ia dengan segala upaya, juga dengan bantuan kaum beriman kristiani, mengusahakan agar pewartaan injil menjangkau mereka juga yang meninggalkan praktek keagamaannya atau tidak memeluk agama yang benar. Atas penegasan Kanon ini Pastor dan tim Pastor mempunyai kewajiban untuk menjaga kawanan dalam paroki ini dengan kegiatan pastoral rutin untuk meningkatkan kualitasn iman dalam kerjasama dengan kaum awam. Paus Fransiskus dalam seruan apostolik  Evagelii Gaudium (sukacita Injil)  menegaskan bahwa ... mereka yang paling beruntung adalah mereka yang mengesampingkan rasa aman dan menjadi bersemangat dengan perutusan mengkomunikasikan hidup pada sesama.....ketika Gereja meminta umat kristiani untuk menerima tugas pewartaan, ia sungguh-sungguh sedang menunjukkan sumber kepenuhan pribadi yang autentik (EG. 10). Berdasarkan pengalaman kita selama ini, sudah ada banyak perkembangan Pastoral yang berhasil kita laksanakan bersama di Paroki ini. Di samping itu kami mengakui bahwa belum semua hal yang digariskan di atas berjalan dengan baik. Kami menegaskannya sebagai evaluasi, kebijakan dan rekomendasi untuk dibahas bersama, sebagai pekerjaan pastoral  yang perlu mendapat perhatian kita bersama menuju 3 kemandirian gereja Paroki San Juan.  Kita harus mempunyai komitmen bersama untuk memperbaiki arah pastoral yaitu karya  misioner sebagai paradigma bagi semua kegiatan gereja maka pelayanan kita tidak secara pasif dan diam menunggu dalam gedung gereja kita, kita perlu bergerak dari pelayanan pastoral pelestarian semata menuju pelayanan pastoral misioner yang menentukan (EG. 15)

1.  Pelayanan Sakramen:
·         Sakramen Permandian:
Ø  Meningkatnya permintaan permandian anak Ilegal mengidikasikan bahwa ada banyak kasus hidup Perkawinan karena lambatnya urusan adat perkawinan, terkendala perkawinan menurut KHK dan pergaulan bebas kawula Muda Katolik.
Ø  Nama anak tidak menampakkan  identitas katolik
Ø  Masa  pembinaan masih dianggap sebagai hal formalitas.
Ø  Akan dibuat pemisahan pembinaan untuk orang tua/wali anak Ilegal dengan orang tua anak resmi pemberkatan gereja.

·         Sakramen Ekaristi:

Ø  Perayaan Ekaristi Hari minggu, hari Raya dan ekaristi Lingkungan belum menjadi kebutuhan sebagian umat. Banyak umat Allah yang tidak merayakan perayaan Ekaristi. Pengurus KBG perlu memperhatikan rekomendasi untuk Sakramen dan Pelayanan ekaristi orang mati di rumah umat.
Ø  Sikap dan simbolisasi Ekaristi belum dipahami secara baik oleh umat hal ini nampak pada aklamasi dan gestikulasi umat, disiplin menghadiri perayaan, kegaduhan dalam dan luar gereja, cara berpakaian, kebersihan dan  masih ada banyak umat yang senang berada di Luar Gereja. Akan ada sosialisasi dan Pendalaman Sakramen di setiap KBG /Lingkungan.
Ø  Pembinaan Komuni I belum mendapat tanggapan serius, banyak keluarga yang terlibat karena aturan. Untuk memberi perhatian lebih pada persiapan Komuni I ini maka kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
o   Misa Pembukaan Komuni I tahun 2015 akan terjadi pada hari Minggu Paska III tanggal 19 April. (terhitung 7 kali Misa Pendampingan).
o   Komuni I terjadi pada hari/tanggal Selasa 2 Juni 2015 (Hari Waisak)TETAP ADA KOORDINASI DENGAN SEKOLAH.
o   Pembinaan anak terjadi di sekolah mulai setelah misa Pembukaan sehingga tidak terganggu dengan Ujian.
o   Pembinaan orang Tua terjadi 3 kali terbagi dalam 3 wilayah bergilir di setiap Lingkungan. Jadwal akan diatur untuk 3 orang Pastor di setiap lingkungan):
·         Wilayah I: lingkungan Kampung Tengah, Gege, Lebao II;
·         Wilayah II: Lebao I, Riang Nyiur dan Tabali,
·         Wilayah III: Kota Rowido, Kota Sau I dan Kota Sau II
Ø  Pelayanan Perayaan Ekaristi untuk Orang Mati akan ditinjau kembali setelah mempelajari pengalaman yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Maka kami memutuskan untuk membuat kebijakan baru: Ekaristi di rumah keluarga tidak dilayani pada:
·         Masa adventus: mulai tanggal 16 DES.  
·         Masa Pra Paska:
*      hari rabu  abu dan setiap hari jumad (nebo tidak terjadi pada hari bersangkutan). 
*      Setelah minggu sengsara sampai paskah
             Keputusan ini dibuat dengan dasar pertimbangan:
·         Diskusi bersama tentang Kebijakan bersama dalam keuskupan kita.
·         Perjudian, puasa dan pantang daging pada hari-hari ini kurang  mendapat tanggapan. 
·         Banyak permintaan umat berarti umat membutuhkan walau umat sudah tahu ada aturan di Paroki ini.
·         Banyak umat suka membuat perbandingan dengan kebijakan paroki lain dan bahkan ada pastor tamu yang mempersoalkannya secara  terbuka yang pada akhirnya mempersalakan kebijakan Pastor yang sudah lama kita jalani.

Konsekuensi dari keputusan ini, Ekaristi bisa dilayani kalau:

·         Pembicaraan soal acara/penjadwalan untuk orang mati wajib menghadirkan ketua Basis dan Ketua Lingkungan.
·         Misa dapat dilayani kalau ada penyampaian resmi dari pengurus KBG dan Lingkungan
·         Sedapat mungkin diusahakan agar malam nebo tidak terjadi  pada hari sabtu atau minggu. Kalau tetap terjadi pada hari sabtu dan minggu maka upacara momento tetap bersamaan dengan Ekaristi pada hari yang digantikan.
·         Keluarga dapat memastikan bahwa perjudian tidak terjadi pada malam nebo. Perlu diingatkan dalam doa malam jaga.

Ø  Untuk meningkatkan penghayatan terhadap Sakramen Maha Kudus maka Adorasi Jumad Pertama akan mendapat perhatian serius baik doa dan pelaksanaannya. Maka akan dibuat pembagian tanggungan untuk adorasi ini.  Adorasi menjadi wajib untuk semua umat teristimewa Konfreria, St Anna, Legio Maria, OMK, SEKAMI dan Awam Birokrat.

·         Sakramen Tobat
Ø  Ada 2 kali dalam satu tahun, kesempatan yang disiapkan tim Pastor untuk melayani Pengakuan Dosa namun sakramen Tobat hanya diterima oleh umat yang sama. Hal ini bisa diperbaiki kalau kita punya kemauan. Dalam kunjungan KBG akan dibuat sosialisasi Sakramen Tobat untuk umat KBG.

·         Sakramen Perkawinan:
Ø  Ada Banyak Pasangan yang sudah hidup bersama namun belum menerima sakramen Perkawinan
Ø  Meningkatnya permohonan pernikahan Beda gereja dan beda agama
Ø  Meningkatnya permohonan untuk pembatalan perkawinan
Ø  Meningkatnya permohonan KPP di luar Paroki, mengindikasikan bahwa banyak umat tidak tahu jadwal pelayanan Sakramen dalam Paroki.

Berdasarkan catatan di atas kami merekomendasikan untuk:
Ø  Menolong Pasangan yang sudah hidup bersama dengan pastoral keluarga atau kunjungan pastor, Pengurus KBG/Lingk. bersama kelompok organisasi gereja ke rumah keluarga tersebut. Maka perlu data pasti dari KBG.
Ø  Kita membatasi jumlah pelayanan untuk permohonan dispensasi beda  gereja /agama. Tahun ini hanya untuk 2 pasang.
Ø  Pelayanan KPP luar Paroki tetap dilaksanakan dengan catatan pasangan harus mendukukung pembangunan finansial Paroki dengan membayar sebesar Rp. 200.000 (rekomendasi untuk dibahas). Uang ini akan digunakan untuk membantu pasangan yang sulit keuangan  dalam urusan KPP.

·         Sakramen  Orang Sakit :
Ø  Pelayanan Komuni Orang Sakit dan sentuhan  rohani untuk orang sakit/para Lansia kurang mendapat perhatian Pastoral. Setiap  Sabtu I dalam bulan ada pelayanan Komuni untuk orang sakit/Lansia oleh Tim Pastor.



2.      Pastoral Kategorial:
·         Perhatian terhadap kelompok kategorial dalam paroki belum memadai. Hal ini terjadi karena kesibukan pastoral dan inisiatip kelompok untuk meminta dampingan tim Pastor.
·         Keterlibatan kaum Muda Katolik dalam kehidupan menggereja sungguh memprihatinkan. Sudah banyak cara yang digunakan untuk mengumpulkan kaum muda tetapi selalu saja gagal. Banyak kaum muda yang kita jumpai di tempat pesta, tempat rekreasi tetapi kurang dijumpai di gereja. Perlu ada rekomendasi khusus untuk perkawinan/urusan Kaum Muda dari KBG /Seksi Kepemudaan.
·         Kelompok organisasi sebagai kekayaan iman dalam paroki kita belum ditanggapi secara serius. Masih banyak umat yang enggan menjadi anggota kelompok organisasi gereja seperti ST. ANNA, OMK, Konfreria, PPA, LEGIO MARIAE, SEKAMI, Kelompok Guru Katolik, dan kelompok awam birokrat. 
·         Ada keluarga atau pribadi karena, perkawinan, tuntutan ekonomi dan kesehatan, terpaksa pindah agama. Kita akan memberi perhatian berupa sumbangan soasial khusus untuk keluarga sangat susah, maka perlu data yang akurat.

3.      Pastoral Kitab Suci: kita mempunyai kesempatan khusus setiap bulan untuk mendalami kitab suci dan melalui kothbah Pastor dalam ekaristi serta pembinaan kelompok. Kita perlu memberi kesempatan khusus dan lebih serius lagi memperhatikan hal ini. Untuk itu kita juga menambah seksi Kerasulan Kitab Suci untuk mengefektipkan kerasulan kitab suci di Paroki ini.

4.      Pastoral Sekolah:
Ø  Untuk tahun 2015 ini semua sekolah dalam Paroki akan mendapat kunjungan Pastor sebayak 2 kali. Jadwalnya akan disampaikan.
Ø  Untuk menjawabi tahun Program Tahap II “PEMBERDAYAAN STRUKTUR GEREJA DAN LEMBAGA, kita akan memberi perhatian khusus pada TKK Ade Irma, sebagai TKK milik Paroki dalam kerjasama dengan Pimpinan TKK dan Dinas PPO.
Ø  Misa Pembukaan Tahun sekolah Wajib untuk semua sekolah oleh karena itu perlu kerja sama sekolah dan Paroki dalam mengatur jadwal khusus ini.
5.      Pembangunan Fisik:
Ø  Pembangunan dan Pengadaan kebutuhan fisik untuk menolong kegiatan Paroki tetap mendapat perhatian. Sampai saat ini kita mempunyai HBG yang cukup memadai yang sangat membantu kegiatan Paroki dan kebutuhan umat pada umumnya. Kita patut menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah yang tetap mempunyai perhatian finansial untuk paroki ini. Umat yang menggunakan HBG milik paroki diharapkan untuk merawatnya dengan baik.
Ø  Pembangunan fisik tahun ini:
o   Lanjutan Pagar Halaman Gereja
o   Pelebaran Lapangan Volley
o   Semenisasi lorong belakang Aula
o   Pencatan candi gereja
o   Pembuatan kaca bofeng Aula Paroki
o   Menambah Sarana Prasarana Gereja



6.      Pastoral Umum:
·         Data umat masih belum akurat, dari hasil rekapitulasi dan analisa data, banyak pengurus KBG yang mengisi data umat terburu-buru atau kurang serius sehingga banyak data yang tidak falid dan tidak logis. Kita akan memperbaiki dan menganalisa data umat kita diawal tahun ini untuk  kegiatan pastoral yang berbasis data.
·         Rekomendasi KBG sebagai alat ukur perkembangan kemandirian, masih dilihat dan dinilai sebagai alat untuk mengancam. Hal ini menyebabkan pengisian rekomendasi tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Kita akan mengoptimalkan peran Pengurus KBG dan Lingkungan untuk pengisian rekomendasi dan urusan kegiatan iman bagi keluarga yang membutuhkan semuanya harus melalui KBG dan Lingkungan (termasuk urusan kematian).
·         Tingkat kewaspadaan  terhadap orang baru  (orang asing) atau pun kos-kosan tak berijin, kurang diperhatikan oleh lembaga terkait atau umat kita. Kita tetap berusaha untuk membangun kerjasama dengan pihak terkait untuk hal ini.
7.      Lain-lain: Untuk menolong kita dalam kegiatan Pastrol di Paroki kami membuat rotasi para imam moderator:
Ø  Rm. Hendrik     : St. Anna, Konfreria, Legio Mariae, Kel.Awam Birokrat.
Ø  Rm. Paskal: PPA, Kelompok Koor, Liturgi, Kerasulan Kitab Suci
Ø  Rm Sebast: OMK, SEKAMI, Guru Katolik, Pastoral Sekolah.




C.   Program Gerakan Bersama:

1.     Ada 22 kegiatan gerakan bersama dan 12 kegiatan yang dibuat oleh Keuskupan dan Dekenat telah kita laksanakan dengan baik mulai dari keluarga dan KBG-KBG kita. Ada beberapa kegiatan yang belum, akan  kita laksanakan di tahun 2015 dan ada beberapa kegiatan yang tetap kita pertahankan untuk tahun selanjutnya karena efektip dan memadai.  Seperti kegiatan yang dilaksanakan di tingkat KBG dalam ekaristi KBG sangat efektip karena banyak kegiatan disatukan dalam kunjungan KBG serta dihadiri oleh keluarga-keluarga.   
 Hal penting yang dapat kami catat dari kegiatan di KBG:
a.    Pastor dan DPP memberikan apresiasi atas respon positip dan tanggujawab pengurus Lingkungan,  KBG serta seluruh umat  dalam kegiatan Ekaristi KBG. Hal ini sangat napak dalam partisipasi aktip: Persiapan Liturgi, Koor yang bagus, pertemuan dan dialog penuh persaudaraan dan persiapan makan bersama untuk semua anggota KBG.  Masing-masing KBG menampilkan keunggulannya masing-masing. Di sini terjawab sudah harapan gereja lokal, KBG  sebagai komunitas perjuangan, dengannya pusat dan arah pastoral kita ada di KBG (KBG Lokus dan Fokus pastoral kita). Kegiatan ini akan tetap kita lanjutkan dalam tahun 2015.
b.   Ada beberapa kegiatan DPP yang terlaksana serentak pada kunjungan Ekaristi KBG. Hal ini sangat efektip dan membantu pelaksanaan kegiatan yang melibatkan banyak umat.
c.    Hanya 5 KBG yang bisa dimekarkan tahun 2014 dan  1 Lingkungan yang dalam tahap diskusi bersama untuk dimekarkan. DPP mempunyai kesulitan sendiri dalam melaksanakan program ini karena: banyak pengurus KBG yang menyatakan belum siap, enggan untuk berpisah, apalagi banyak kegiatan tahun 2014 terjadi di KBG yang membuat persekutuan KBG yang sudah ada menjadi kuat. Atas pertimbangan ini DPP secara bijaksanak memberi kesempatan kepada setiap  KBG untuk menyiapkan diri secara sungguh untuk bisa mekar. Karena Pastoral kita bukan menjawab kebutuhan DPP  tetapi  kebutuhan umat.

2.        Komitmen kita, Program Keuskupan yang menjadi gerakan bersama tetap   menjadi program prioritas kita setiap tahun.

VI.        ACUAN PROGRAM 2015:

Dari evaluasi dan catatan Pastoral di atas kami mengajak semua umat agar pada tahun 2015 kita memberi perhatian khusus pada program prioritas yang belum terlaksana baik program keuskupan Tahap I dan program khas Paroki serta program gerakan bersama keuskupan Larantuka tahap II: yang terdiri dari dua Program dan 11 kegiatan Antara lain:
                         I.       “PEMBERDAYAAN STRUKTUR GEREJA DAN LEMBAGA

1.   Revitalisasi struktur horisontal dan vertikal di tingkat keuskupan
2.   Penyesuaian struktur DPP dengan Komisi-komisi di Keuskupan
3.   Sosialisasi Peran dan fungsi DPP, Lingkungan dan KBG
4.   Lokakarya dan sosialisasi tentang Pedoman Pastoral Paroki (ART Paroki)
5.   Revitalisasi Yayasan Pendidikan Katolik
6.   Restrukturisasi dan Revitalisasi Yayasan Pendidikan Katolik milik Keuskupan
7.   Membangun Kemitraan antara Yayasan Pendidikan Katolik (YPK)

                       II.        “PENINGKATAN KAPASITAS AGEN PASTORAL”

8.           Pelatihan memfasilitasi kegiatan bagi para Agen Pastoral
9.           Pembelajaran tentang pengelolaan HBG dalam KHK
10.     Rekoleksi dan Retret bagi agen Pastoral
11.     Tindak lanjut APP 2015 dalam usaha meningkatkan spiritualitas Agen  Pastoral.

Program 2014 yang belum terlaksana:
12. Pemekaran Lingkungan (sudah Dalam proses pembicaraan)
13. Membuat Peta  Wilayah Paroki
14. Pendampingan  Pemimpin PIOM
15. Memberikan pemahaman tentang makna kerja menurut Ajaran Sosial Gereja  (LE)
16. Perayaan Perutusan Untuk Para Petugas Pastoral terlatih
17. Pengumatan ajaran Gereja
18. Sosialisasi HIV AIDS dan penyakit sosial masyarakat dari perspektip Gereja
19. Pembentukan kelompok kategorial awam birokrat di setiap lingkungan.
20. Pembentukan pengurus awam birokrat Paroki San Juan.
21. Dialog dengan pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat
22. Mengadakan dan mengelola taman bacaan rohani bagi anak usia sekolah.
23. Turba DPP  ke Lingkungan untuk Penguatan Organisasi OMK
24. Sosialisasi tentang Pentingnya KIA  menurut ajaran Gereja
25. Katekese KIA & Rekoleksi bagi kader posyandu
26. Memberi Pendampingan kepada kelompok Usaha peningkatan Ekonomi Umat (Arisan, UBSP, Koperasi)

     VII.        REVITALISASI AGEN PASTORAL PAROKI (USULAN DPP,   Lingkungan dapat mengusulkan nama-nama yang dianggap mampu dan mau bekerja. Mohon maaf bila ada kesalahan dalan pencetakan nama)
Revitalisasi ini dibuat berdasarkan program gerakan bersama tahap II pemberdayaan agen Pastoral

1.         SEKSI KERASULAN KITAB SUCI: SR. Clarentia, PRR,  Yuliana Hera
2.         SEKSI PEWARTAAN: Valerianus Salan Boro, Mikhaela Balawanga
3.         SEKSI LITURGI: Gabriel Bali Sabon, Aloysius Jati Herin, Fransiska Anna Labina, Maria Humiliata Sagu Sinuor, Yoseph Hokeng, Sr. Maria  Miranda, Lukas Ben Benekikus, Nikolaus Kleden, Yulius Wele Udjan.
4.         SEKSI PENDIDIKAN: Arnold Langoday, Yoseph Doren, , Maria Eva Hera,  
5.         SEKSI KARYA KEPAUSAN INDONESIA: Odilia Lena, Sr. M. Paula PRR, Yasinta Barek Sabon, Kristina Hurit, Yustina Jawa Kumanireng, Arni Baon, Veronika Niron, Lusia Pengante Doren (Para Guru Agama)
6.         SEKSI KOMUNIKASI SOSIAL: Bernadus Tukan, Anselmus Atasoge, Fransiskus Dolu Toulwala   
7.         SEKSI PASTORAL KELUARGA: Pasutri: Frans Beda Duan dan Maria Siba Wuwur, Aloysius Fernandez dan Yuliana Ndanjang, Paulus Uran dan Agnes Ija Langkamau, Yohanes Emi Keyn dan Regina Bala,  Bapak Antonius Boli Asimu (urusan Akte).
8.         SEKSI KEPEMUDAAN: Donatus Seran Goran, Petrus Fransiskus Doni Yan, Nikolaus Tapun, Ketua OMK (DARI TABALI).
9.         SEKSI KERASULAN AWAM: Adrianus Bajuga Haliwala, Frans Mangu,
10.      SEKSI PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI: Siprianus Benaku, Mikhael Mige Sakera, Petrus Inguliman, Antonius Aib.
11.      SEKSI PASTORAL MIGRAN DAN PERANTAU: Adam Beda Sabon, Benyamin Pati.
12.      SEKSI GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: Benedikta Paya Moron, Eman Lamuri, Rosa Barek Labina, Paskalis Luli Lewokeda.
13.      SEKSI HUBUNGAN ANTAR AGAMA DAN KEPERCAYAAN: Boli Platin Fransiskus, Petrus Take Kelen.
14.      SEKSI KEADILAN DAN PERDAMAIAN: Koronatus Sintu Labina, Yohanes Ola Matutina, Antonius Mondo Bugis.
15.      SEKSI USAHA DANA / KEUANGAN ( HBG): Hendrikus Ruing, Hendrikus Suratama Puka, Bonaventura Sue, Ambrosius Ratu Kedang Dan Tim Khusus Paroki.

VIII.        Personil / Agen Pastoral Khusus:
·         PPA                   : Nona Margaretha Fernandez.
·         OMK                 : Anton Weruin
·         Santa Anna       : Yuliana Tukan
·         Konfreria           : Rofinus Nara Kean
·         Legio Maria       : Yuliana Hera
·         Guru Katolik     : Nikolaus Kleden
·         Awam Birokrat:  .......
·         Tim Khusus: (Berdasarkan Kerelaan Pribadi membantu kegiatan Paroki): Hendrikus Ruing, Hendrikus Puka, Yulius Atu Leyn, Aloysius B. Fernandez, Mikhael Labina, Martinus Matutina,Paskalis Bala Koten Yohanes Ola Matutina, Petrus Fransiskus Doni Yan, Aleks Lamadua, Simeon da Silva, Koronatus Sintu Labina, Arnoldus Matutina,  Antonius Pirin Fernandez, Martin Leyn, Joddy Fernandes, Paul Pain Hera, Kalitus Suban Goran, Dominikus Donce Kumanireng. .... Siapa Mau Bergabung lagi........??
·         Pembina Katekumen:
Sr. Asumpta, OP, Ibu Odilia Lena, Ibu Emi Sinuor, Bapak Bernardus Tukan, Sr. Yoanet PRR.
·         Pembina Fasilitator dan penerimaan Sakramen:
Seksi Pewartaan, Bapak Barnadus Tukan, Bapak Valerianus Salan Boro, Sr. Paula PRR, Bapak Adrianus Bajuga Haliwala, Bapak Yulius Udjan,  Ibu Maria Eva Hera, Bapak Ansel Atasoge, Sr. PRR dan Para Guru Agama dalam Paroki.

·         Panitia KPP dan Tim Pembina KPP:
Seksi Keluarga, Katarina K. Dasilva, Frans Beda Duan, Paulus Uran, Cornelia Hingi Tereng, Frans Mangu dan Tim KPP  Keuskupan.

·         Panitia Pesta San Juan
Ketua                : Agustinus B.L. Tobi
Wakil Ketua      : Yakobus K. Kein
Sekretaris         : Petrus Fransiskus Doni Yan
Bendahara        :
·         Pendamping OMK:
Bapak Petrus F. Doni Yan dan Ibu Ida Benga Tupen, Bapak Hendrikus Puka dan Ibu  Clara Riberu, bp. Aloysius Herin dan Ibu Yasinta Lipat, Ibu Agnes Yosefina Ema Koten, Agus Kleden dan Ibu Mathilde Wungubelen.
Catatan:   untuk meningkatkan kenerja dan rasa tanggung jawab terhadap pelayanan kita  semua personil agen Pastoral ini akan di lantik/dikukuhkan setelah Pleno Paroki.

IX.        KEADAAN KEUANGAN

A.   Laporan Keuangan: : Rekapitulasi Penerimaan dan Pengeluaran Keuangan Tahun 2014 (Terlampir)

B.   Analisa pemasukan keuangan Paroki: dari data pemasukkan keuangan paroki Sanjuan dapat kami sampaikan bahwa:
1.   Respon umat terhadap Penerimaan keuangan atau kesadaran untuk memberi dalam bentuk Iuran  mengalami kemunduran. Itu berarti pengumpulan dengan sistem iuran kurang mendapat tanggapan positip.
2.   Pada umumnya umat Paroki san juan lebih tanggap dengan pemberian melalui derma dan amplop keluarga tanpa ada keputusan terhadap satu bilangan khusus dan merata untuk semua umat.
3.   Peningkatan pos penerimaan terjadi pada:  Amplop-amplop, kolekte umum, derma tanggungan Hari Minggu dan Hari Raya. 
4.   Beberapa pos penerimaan tidak terlaksana karena kegiatannya tidak terlaksana.
5.   Perbandingan target penerimaan sesuai Pleno dan realisasi keuangan meningkat menjadi Rp. 19.989.500. atau meningkat 19%.
6.   Ada sumbangan dalam bentuk, tenaga,  alat/barang dan persembahan natura yang tidak diuangkan sudah menjadi perhatian setiap Lingkungan, KBG, sekolah dan kelompok Khusus sangat membantu penghematan pengeluaran uang Riil.

C.   Analisa Pengeluaran Keuangan Paroki:
1.   Penggunaan keuangan Paroki untuk membiayai kegiatan seksi pada umumnya terlaksana walau pengguna keuangan tidak langsung ditangani oleh setiap seksi. Pengelolaan keuangan tetap melewati satu pintu sesuai harapan Pleno 2014.
2.   Penggunaan keuangan untuk kebutuhan rutin dilaksanakan sesuai keputusan pleno walau tetap ada usaha untuk penghematan pada pos-pos yang tidak mendesak dan pengeluaran lebih pada pos-pos prioritas, penting dan mendesak.
3.   Tetap ada pertimbangan terhadap pengeluaran keuangan paroki teristimewa pemeliharaan dan Pengadaan HBG demi penghematan dan peningkatan dana abadi walau tidak sesuai dengan amanat pleno. Kebijakan pengguna keuangan menjadi penting, bijaksana dan penuh pertimbangan.
4.   Ada pos pengeluaran tak terduga yang tidak dianggarkan dalam tahun berjalan seperti kegiatan keuskupan, Dekenat dan Paroki yang membutuhkan dana yang cukup besar demi kesuksesan dan solidaritas kita dengan Keuskupan dan Paroki lain.

X.         PENUTUP

Laporan dan catatan-catatan ini sekiranya tidak dipandang sebagai “batu sandungan” di dalam perjalanan pastoral Gereja Paroki San Juan, melainkan sekiranya boleh dipandang sebagai “kompas kehidupan” yang akan mengarahkan perjalanan pastoral kita di hari-hari yang akan datang.
Marilah kita bersama sebagai umat Allah di Gereja Paroki San Juan berjuang dan berusaha untuk melanjutkan harapan Gereja Universal dan Partikular yang       berkelanjutan (kontinuitas), menunjukkan kepercayaan timbal balik (kredibilitas), terbuka dan membukadiri (transparansi) terhadap pengelolaan keuangan dan kebijakan pastoral lainnya,serta terbuka terhadap realitas sosial yang sedang terjadi di paroki ini.Kita akan meninggalkan tahun 2014 dengan sejuta pengalaman pastoral kita. Semoga apa yang baik yang telah kita cita-citakan bersama dapat menjadi horizon baru ketika kita berjuang mengisi hari-hari di tahun 2015. Sekian dan terimakasih.

Paroki San Juan,  31 Desember 2014
DEWAN PASTORAL PAROKI SAN JUAN


Fransiskus Uje Fernandez             Anselmus D. Atasoge
                    Ketua                                      Sekretaris

Mengetahui
Pastor Paroki San Juan Lebao Tengah


Romo Hendrikus Leni, Pr