“Ibu Kehidupan”
[Segelas Tri In One Dalam Cangkir Perak]
Kenangan Perak Imamat Romo Gabriel Unto
da Silva, Pr
Oleh: Anselmus Atasoge
Romo
Gabriel Unto da Silva, Pr, pernah “masuk”
dalam sebuah titian perziarahan keintelektualanku. Saya adalah salah satu dari
sekian ratusan mahasiswanya di Ledalero. Kala itu, saya pun sempat menikmati
“nutrisi” keakal-budian dan citra paternalisnya. Di dalam “perjumpaan” itu,
gagasan Romo Gabriel yang hingga kini menjadi bagian dari budiku adalah
Mesir-Exodus-Tanah Terjanji yang saya pandang sebagai tri in one dalam sebuah aksi dramatikal. Hampir dalam setiap
kesempatan, Romo Gabriel selalu merefrein trikisah di masa Perjanjian Lama itu.
Dari Mesir, dari situasi perbudakan, situasi penindasan Israel melewati
masa-masa sulit dalam exodusnya. Padang Gurun terlewati, Tanah Terjanji
akhirnya tergapai! Pada kenangan duapuluh lima tahun imamatnya, saya hendak
merefleksikan kembali trikisah itu dalam
kacamata seorang awam yang pernah menggeluti “gagasan-gagasan suci” dalam
asuhan Romo Gabriel da Silva, Pr.
Kisah perbudakan berawal dari
sebuah ketakutan akan populasi masyarakat -orang-orang Israel [beranak cucu;
tak terbilang jumlahnya; dahsyat berlipat ganda].[1] Peningkatan populasi
Israel dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi Firaun dan
rakyatnya. Firaun takut jika Israel tidak memilih berada di pihaknya ketika
musuh-musuh Firaun bangkit berperang melawannya. Kekuatan sang musuh ditambah
kebangkitan Israel di pihak sang musuh setidaknya menjadi sebab ketakutan
Firaun dan rakyatnya. Dan, ketakutan Firaun memaksanya untuk melahirkan
rencana-rencana “kebijaksanaan” terhadap masyarakat.
“Tindakan bijaksana” Firaun atas orang Israel adalah kerja paksa. Untuk mengefektifkan kerja
paksa, pengawas-pengawas rodi ditempatkan Firaun untuk mengawasi kerja-kerja
paksa orang Israel. Dalam pengawasan itu, pemaksaan dan penindasan mendapat
tempatnya. Kerja paksa sendiri sudah menjadi kesengsaraan bagi orang Israel,
apalagi kerja paksa itu kini mesti diawas-awasi para pengawas.
Pengawas-pengawas karenanya menjadi bumerang baru di atas kesengsaraan yang
lama.[2] Para pengawas Firauan mengeksploitasi, menindas, dan memaksa orang-orang Israel bekerja secara
tidak manusiawi dan menekan mereka secara politik. Akhirnya seorang penguasa
asing memaksakan pada orang-orang Israel suatu rencana untuk mengendalikan
pertambahan jumlah penduduk.[3]
Perbudakan yang menyengsarakan itu diteriaki orang Israel. Sethos I, yang memimpin Mesir dengan sejumlah rencana
pembangunan, mangkat, tetapi zaman perbudakan tidak mangkat bersama Sethos I.
Karakter perbudakan di negeri Mesir dilanjutkan Ramses II, raja baru yang
menggantikan Sethos I.[4] Kesengsaraan karena perbudakan dikeluh-keluhkan. Keadaan
yang tidak mengenakkan [perbudakan, penindasan, kerja paksa, tindakan bijaksana
penguasa] diseru-serukan. Allah [Yahwe] menjadi tujuannya. Dan, Allah [Yahwe]
pun mendengarkan dan memperhatikan keadaan
mereka.
Kel. 3:7-8 mengisyaratkan dan memproklamirkan warta
tentang pembebasan Israel. Allah [Yahwe] sendiri mengisyaratkan dan
memproklamirkannya.[5] Allah [Yahwe] mendengar ratapan umatNya dan melihat
kesulitan mereka. Pendengaran dan penglihatan itu menggerakkan Allah [Yahwe]
untuk bertindak dalam cinta kasih dan kuasa yang berdaulat atas kesulitan yang
dilihatNya dan atas ratapan yang didengarNya.[6]
Allah [Yahwe] memproklamirkan misi pembebasanNya:
membebaskan Israel dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan Israel dari
perbudakan mereka, menebus Israel dengan tangan yang teracung dan dengan
hukuman-hukuman yang berat, dan mengangkat Israel menjadi umatNya. Warta ini
disampaikan Allah [Yahwe] kepada Israel dengan perantaraan Musa.
Peristiwa keluarnya Israel dari
tanah Mesir terjadi pada malam hari. Israel meninggalkan negeri yang telah
menindasnya selama empat ratus tiga puluh tahun. Perjalanan melewati dan
menembusi kegelapan malam bukanlah hal yang mudah. Perjalanan itu sendiri
melibatkan banyak orang: anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang lanjut usia.
Dapat dibayangkan kalau mereka berjalan dengan pelbagai harapan, sikap, reaksi
yang dinyatakan di hadapan Musa dan Harun, pemimpin-pemimpin perjalanan mereka
dengan pelbagai tantangan dalam kepekatan itu. Berjalan dalam kegelapan malam,
jalan cepat-cepat di atas tanah yang berlekak-lekuk. Kegelapan malam itu akhirnya
terlewati juga. Namun, masa pengembaraan masih panjang. Itu berarti malam-malam
yang penuh kepekatan siap dilalui lagi.
Mesir telah ditinggalkan Israel. Ziarah
pembebasan tengah di mulai. Tanah Terjanji menjadi impian baru. Namun, padang gurun harus dilewati hingga tanah terjanji ditapaki. Adakah sesuatu
yang mengenakkan jika fenomena padang
gurun menjadi rute yang harus Israel tempuh. Di padang gurun Sin dan
Rafidim, Israel mulai mengeluh: lapar dan haus. Adakah kelaparan dan kehausan
menjadi sedemikian penting lebih dari kenyataan keterbebasannya dari perbudakan
Mesir sehingga kenangan akan kelimpahan
di tanah Mesir mesti diulangkan kisahnya dan menimbulkan kerinduan untuk
berbalik arah kembali ke negeri yang sarat kekerasan dan perbudakan itu?[7]
Ketiadaan makanan dan air bahkan menjadi sumber perselisihan di antara orang
Israel dan pemimpinnya, Musa dan Harun.
Berbagai tantangan dan kesulitan membuat Israel
menggerutu, marah dan putus asa. Situasi serba sulit mengantar Israel masuk
dalam godaan kemauan untuk kembali ke Mesir. Bagi Israel adalah lebih baik jika
mereka kembali ke Mesir saja daripada mengarungi padang gurun sekalipun
perbudakan dan kekerasan di Mesir senantiasa menunggui mereka.[8]
Israel akhirnya serta merta mengutuki situasi [peralihan dan perubahan] ketiadaan apa-apa di padang gurun dan
mengimpikan kembali keapa-adaannya di
Mesir tanpa berpikir lebih jauh bahwa sekarang mereka telah mengalami
pembebasan, keluar dari ketertindasan dan perbudakan yang menyebabkan terhalangnya usaha penciptaan Israel sebagai manusia baru
sebagai bangsa pilihan Allah.
Pengembaraan di padang gurun adalah pengembaraan yang sarat ancaman,
hambatan, gangguan, halangan, sarat kekurangan, dan sarat bahaya [kegelapan,
hadapi peperangan dari bangsa lain, ketiadaan makanan, ketiadaan air, ketiadaan
rumah, panas di siang hari, dingin di malam hari].[9]
Situasi-situasi model ini menjebak Israel untuk jatuh ke dalam godaan-godaan:
ingin kembali ke Mesir dan mendirikan patung emas - sebuah allah baru. Situasi-situasi ini juga membuat komitmen
perjalanan-pengembaraan-pembebasan Israel melemah dan menjadi kerdil. Entahkah
Allah [Yahwe] dan hambaNya Musa hendak menyengsarakan dan membumi-hanguskan
Israel dalam keadaan model ini? Entahkah situasi ini hanya merupakan sebuah
ujian dari Allah? Di manakah Allah yang indah dengan janji pembebasanNya?[10]
Bukan hal yang mustahil kalau Israel kecewa dan putus asa. Akan tetapi,
haruskah kisah pembebasan berhenti pada kekecewaan dan keputus-asaan itu?
Dari balik situasi-situasi model
ini [yang pasti Allah tahu dan memahami
serta tahu pula apa yang harus Dia buat dalam situasi ini], Allah hadir
menyatakan diri dalam rupa Tiang Awan dan Tiang Api. Allah hendak berjalan di
depan Israel, pada siang hari sebagai tiang awan untuk menuntun mereka di
jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka. Inilah komitmen Allah untuk
hadir dan berjalan bersama Israel dalam aktus pembebasan. Dengan ayat-ayat ini
Allah mau menegaskan kembali komitmen keberpihakanNya kepada Israel sambil
terus mengajak Israel untuk tetap menunjukkan jati diri ke-Israel-annya dalam
situasi apa saja, entah baik maupun tidak baik, entah mengenakkan maupun tidak
mengenakkan. Dia, Allah itu menjadi Ibu Kehidupan, Ibu yang
selalu berpihak pada anak-anakNya, sekalipun anak-anakNya sering jatuh dalam
godaan-godaan padang gurun.
Gereja Keuskupan Larantuka telah, sedang dan nantinya (selamanya!)
berziarah menuju Tanah Terjanji. Seribu satu tantangan, godaan, rintangan tak
dapat dilewati dari pinggiran jalan lain, tak dapat dihindari, baik siang, baik
malam. Dalam perziarahannya pun,
berjumpalah ia dengan manusia-manusia yang datang sambil menggenggam seribu
satu situasi padang gurun:kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan. Sambil
menukik lebih dalam pada dasar keberadaannya yakni Yahwe, Allah sendiri, semoga
Gereja Keuskupan Larantuka melalui Komunitas-Komunitas Basis Gerejaninya boleh
berjuang menjadi “tiang awan” dan “tiang api” bagi jiwa-jiwa yang sarat
menggenggam seribu kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan itu. Semoga ia
boleh disanggupkan menjadi ibu kehidupan, ibu yang membebaskan menuju tanah
harapan, tanah terjanji yang berlimpah susu dan madu.
[1]Hywel R. Jones, “Keluaran”, dalam Donald Guthrie, dkk, Tafsiran Alkitab
Masa Kini 1 Kejadian-Ester, terj. Soedarmo, dkk (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1983), p. 152.
[2]Bdk. Rita J.
Burns, Exodus, Leviticus, Numbers, With Excursuses on Feasts/Ritual and
Typology (Delaware, USA:
Michele Glazier Inc. Wilmington, 1983), p.
40.
[3]Ibid.
[4]Hywel R. Jones, “Keluaran” dalam Donald Guthrie, dkk, Tafsiran Alkitab
Masa Kini 1 Kejadian-Ester, terj. Soedarmo, dkk, Op.Cit., p.153.
[6]Ibid.
[8]Bdk. John F. Craghan, Exodus.Collegeville Bible Commentary (Minnestosa, USA: The
Liturgical Press Collegeville, 1985), p. 45.
[10]Bernardo Hurault, Kitab Suci Komunitas Kristiani Edisi Pastoral Katolik, (Jakarta:
OBOR, 2002), p. 147.
No comments:
Post a Comment