Tuesday, January 27, 2015

Artikel



“Ibu Kehidupan”
[Segelas Tri In One Dalam Cangkir Perak]
Kenangan Perak Imamat Romo Gabriel Unto da Silva, Pr
Oleh: Anselmus Atasoge

Romo Gabriel Unto da Silva, Pr,  pernah “masuk” dalam sebuah titian perziarahan keintelektualanku. Saya adalah salah satu dari sekian ratusan mahasiswanya di Ledalero. Kala itu, saya pun sempat menikmati “nutrisi” keakal-budian dan citra paternalisnya. Di dalam “perjumpaan” itu, gagasan Romo Gabriel yang hingga kini menjadi bagian dari budiku adalah Mesir-Exodus-Tanah Terjanji yang saya pandang sebagai tri in one dalam sebuah aksi dramatikal. Hampir dalam setiap kesempatan, Romo Gabriel selalu merefrein trikisah di masa Perjanjian Lama itu. Dari Mesir, dari situasi perbudakan, situasi penindasan Israel melewati masa-masa sulit dalam exodusnya. Padang Gurun terlewati, Tanah Terjanji akhirnya tergapai! Pada kenangan duapuluh lima tahun imamatnya, saya hendak merefleksikan kembali trikisah  itu dalam kacamata seorang awam yang pernah menggeluti “gagasan-gagasan suci” dalam asuhan Romo Gabriel da Silva, Pr.

Kisah perbudakan berawal dari sebuah ketakutan akan populasi masyarakat -orang-orang Israel [beranak cucu; tak terbilang jumlahnya; dahsyat berlipat ganda].[1] Peningkatan populasi Israel dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi Firaun dan rakyatnya. Firaun takut jika Israel tidak memilih berada di pihaknya ketika musuh-musuh Firaun bangkit berperang melawannya. Kekuatan sang musuh ditambah kebangkitan Israel di pihak sang musuh setidaknya menjadi sebab ketakutan Firaun dan rakyatnya. Dan, ketakutan Firaun memaksanya untuk melahirkan rencana-rencana “kebijaksanaan” terhadap masyarakat.

Tindakan bijaksana Firaun atas orang Israel adalah kerja paksa. Untuk mengefektifkan kerja paksa, pengawas-pengawas rodi ditempatkan Firaun untuk mengawasi kerja-kerja paksa orang Israel. Dalam pengawasan itu, pemaksaan dan penindasan mendapat tempatnya. Kerja paksa sendiri sudah menjadi kesengsaraan bagi orang Israel, apalagi kerja paksa itu kini mesti diawas-awasi para pengawas. Pengawas-pengawas karenanya menjadi bumerang baru di atas kesengsaraan yang lama.[2] Para pengawas Firauan mengeksploitasi, menindas, dan memaksa orang-orang Israel bekerja secara tidak manusiawi dan menekan mereka secara politik. Akhirnya seorang penguasa asing memaksakan pada orang-orang Israel suatu rencana untuk mengendalikan pertambahan jumlah penduduk.[3]         

Perbudakan yang menyengsarakan itu diteriaki orang Israel. Sethos I,  yang memimpin Mesir dengan sejumlah rencana pembangunan, mangkat, tetapi zaman perbudakan tidak mangkat bersama Sethos I. Karakter perbudakan di negeri Mesir dilanjutkan Ramses II, raja baru yang menggantikan Sethos I.[4] Kesengsaraan karena perbudakan dikeluh-keluhkan. Keadaan yang tidak mengenakkan [perbudakan, penindasan, kerja paksa, tindakan bijaksana penguasa] diseru-serukan. Allah [Yahwe] menjadi tujuannya. Dan, Allah [Yahwe] pun mendengarkan dan memperhatikan keadaan  mereka.
Kel. 3:7-8 mengisyaratkan dan memproklamirkan warta tentang pembebasan Israel. Allah [Yahwe] sendiri mengisyaratkan dan memproklamirkannya.[5] Allah  [Yahwe] mendengar ratapan umatNya dan melihat kesulitan mereka. Pendengaran dan penglihatan itu menggerakkan Allah [Yahwe] untuk bertindak dalam cinta kasih dan kuasa yang berdaulat atas kesulitan yang dilihatNya dan atas ratapan yang didengarNya.[6]
Allah [Yahwe] memproklamirkan misi pembebasanNya: membebaskan Israel dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan Israel dari perbudakan mereka, menebus Israel dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat, dan mengangkat Israel menjadi umatNya. Warta ini disampaikan Allah [Yahwe] kepada Israel dengan perantaraan Musa.
Peristiwa keluarnya Israel dari tanah Mesir terjadi pada malam hari. Israel meninggalkan negeri yang telah menindasnya selama empat ratus tiga puluh tahun. Perjalanan melewati dan menembusi kegelapan malam bukanlah hal yang mudah. Perjalanan itu sendiri melibatkan banyak orang: anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang lanjut usia. Dapat dibayangkan kalau mereka berjalan dengan pelbagai harapan, sikap, reaksi yang dinyatakan di hadapan Musa dan Harun, pemimpin-pemimpin perjalanan mereka dengan pelbagai tantangan dalam kepekatan itu. Berjalan dalam kegelapan malam, jalan cepat-cepat di atas tanah yang berlekak-lekuk. Kegelapan malam itu akhirnya terlewati juga. Namun, masa pengembaraan masih panjang. Itu berarti malam-malam yang penuh kepekatan siap dilalui lagi.

Mesir telah ditinggalkan Israel. Ziarah pembebasan tengah di mulai. Tanah Terjanji menjadi impian baru. Namun, padang gurun harus dilewati hingga tanah terjanji ditapaki. Adakah sesuatu yang mengenakkan jika fenomena padang gurun menjadi rute yang harus Israel tempuh. Di padang gurun Sin dan Rafidim, Israel mulai mengeluh: lapar dan haus. Adakah kelaparan dan kehausan menjadi sedemikian penting lebih dari kenyataan keterbebasannya dari perbudakan Mesir sehingga kenangan akan kelimpahan di tanah Mesir mesti diulangkan kisahnya dan menimbulkan kerinduan untuk berbalik arah kembali ke negeri yang sarat kekerasan dan perbudakan itu?[7] Ketiadaan makanan dan air bahkan menjadi sumber perselisihan di antara orang Israel dan pemimpinnya, Musa dan Harun.
Berbagai tantangan dan kesulitan membuat Israel menggerutu, marah dan putus asa. Situasi serba sulit mengantar Israel masuk dalam godaan kemauan untuk kembali ke Mesir. Bagi Israel adalah lebih baik jika mereka kembali ke Mesir saja daripada mengarungi padang gurun sekalipun perbudakan dan kekerasan di Mesir senantiasa menunggui mereka.[8] Israel akhirnya serta merta mengutuki situasi [peralihan dan perubahan] ketiadaan apa-apa di padang gurun dan mengimpikan kembali keapa-adaannya di Mesir tanpa berpikir lebih jauh bahwa sekarang mereka telah mengalami pembebasan, keluar dari ketertindasan dan perbudakan yang menyebabkan terhalangnya usaha penciptaan Israel sebagai manusia baru sebagai bangsa pilihan Allah.
Pengembaraan di padang gurun adalah pengembaraan yang sarat ancaman, hambatan, gangguan, halangan, sarat kekurangan, dan sarat bahaya [kegelapan, hadapi peperangan dari bangsa lain, ketiadaan makanan, ketiadaan air, ketiadaan rumah, panas di siang hari, dingin di malam hari].[9] Situasi-situasi model ini menjebak Israel untuk jatuh ke dalam godaan-godaan: ingin kembali ke Mesir dan mendirikan patung emas - sebuah allah baru. Situasi-situasi ini juga membuat komitmen perjalanan-pengembaraan-pembebasan Israel melemah dan menjadi kerdil. Entahkah Allah [Yahwe] dan hambaNya Musa hendak menyengsarakan dan membumi-hanguskan Israel dalam keadaan model ini? Entahkah situasi ini hanya merupakan sebuah ujian dari Allah? Di manakah Allah yang indah dengan janji pembebasanNya?[10] Bukan hal yang mustahil kalau Israel kecewa dan putus asa. Akan tetapi, haruskah kisah pembebasan berhenti pada kekecewaan dan keputus-asaan itu?

Dari balik situasi-situasi model ini [yang pasti Allah tahu dan memahami serta tahu pula apa yang harus Dia buat dalam situasi ini], Allah hadir menyatakan diri dalam rupa Tiang Awan dan Tiang Api. Allah hendak berjalan di depan Israel, pada siang hari sebagai tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka. Inilah komitmen Allah untuk hadir dan berjalan bersama Israel dalam aktus pembebasan. Dengan ayat-ayat ini Allah mau menegaskan kembali komitmen keberpihakanNya kepada Israel sambil terus mengajak Israel untuk tetap menunjukkan jati diri ke-Israel-annya dalam situasi apa saja, entah baik maupun tidak baik, entah mengenakkan maupun tidak mengenakkan. Dia, Allah itu menjadi Ibu Kehidupan, Ibu yang selalu berpihak pada anak-anakNya, sekalipun anak-anakNya sering jatuh dalam godaan-godaan padang gurun.

Gereja Keuskupan Larantuka telah, sedang dan nantinya (selamanya!) berziarah menuju Tanah Terjanji. Seribu satu tantangan, godaan, rintangan tak dapat dilewati dari pinggiran jalan lain, tak dapat dihindari, baik siang, baik malam. Dalam  perziarahannya pun, berjumpalah ia dengan manusia-manusia yang datang sambil menggenggam seribu satu situasi padang gurun:kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan. Sambil menukik lebih dalam pada dasar keberadaannya yakni Yahwe, Allah sendiri, semoga Gereja Keuskupan Larantuka melalui Komunitas-Komunitas Basis Gerejaninya boleh berjuang menjadi “tiang awan” dan “tiang api” bagi jiwa-jiwa yang sarat menggenggam seribu kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan itu. Semoga ia boleh disanggupkan menjadi ibu kehidupan, ibu yang membebaskan menuju tanah harapan, tanah terjanji yang berlimpah susu dan madu.


[1]Hywel R. Jones, “Keluaran”, dalam Donald Guthrie, dkk, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester, terj. Soedarmo, dkk (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1983), p. 152. 
[2]Bdk. Rita J. Burns, Exodus, Leviticus, Numbers, With Excursuses on Feasts/Ritual and Typology (Delaware, USA: Michele Glazier Inc. Wilmington, 1983), p. 40.
[3]Ibid.
[4]Hywel R. Jones, “Keluaran” dalam Donald Guthrie, dkk, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester, terj. Soedarmo, dkk, Op.Cit., p.153.
[5]Ibid., p. 153.
[6]Ibid.
[7]Ibid., pp. 164-165.
[8]Bdk. John F. Craghan, Exodus.Collegeville Bible Commentary (Minnestosa, USA: The Liturgical Press Collegeville, 1985), p. 45.
[9]Ibid., p. 49.
[10]Bernardo Hurault, Kitab Suci Komunitas Kristiani Edisi Pastoral Katolik, (Jakarta: OBOR, 2002), p. 147.

No comments:

Post a Comment