Tuesday, January 27, 2015

artikel



KATEKIS DENGAN MATA TERBUKA
[sebuah sisipan pada wisuda sarjana agama STP Reinha]
Oleh: Anselmus Atasoge

Sabtu, 22 Nopember 2014 menjadi hari spesial bagi Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Waibalun Flores Timur. STP Reinha “meng-missio canonika-kan” dan memwisuda angkatan ketiganya. Tulisan ini merupakan sebuah sisipan pada momen bersejarah itu.

Para wisudawan di bidang kateketik pastoral bukan sekedar kaum intelektual di bidang kateketik pastoral. Mereka adalah cendikiawan katekis atau katekis yang cendikiawan yang seluruh diri dan karyanya merupakan perpaduan antara iman dan akal budi dalam seluruh praksis  hidupnya. 

Di tengah masyarakat yang diwarnai dengan perubahan paradigma (paradigma shift), katekis cendekiawan dipanggil untuk menghadirkan “wajah Allah”, menghadirkan “apa yang diimaninya” dengan berbekalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu yang dimilikinya mesti membantunya untuk memahami apa yang diimaninya. Imannya bukan menjadi sebuah kepercayaan yang buta, melainkan ia selalu dan senantiasa ingin dan perlu mencoba memahami apa yang diimaninya.
Katekis yang cendikiawan bergerak dari pinggiran credo quia absurdum (aku percaya karena tidak masuk akal) menuju fides quaerens intellectum (iman mencari pengertian). Katekis yang cendikiawan berjuang untuk menghidupkan dan menjelaskan imannya dengan keintelektualannya dan dengan kecendikiaannya. Ia tidak menggendong kepercayaannya secara buta untuk memasuki realitas Yang Ilahi. Ia tidak memandang imannya sebagai sesuatu yang kontradiktif, aneh, tak masuk akal. Namun, perjuangan itu tidak semata bertumpu pada kapasitas intelek dan kecendikiaannya. Sambil berjuang, katekis yang cendikiawan mesti tetap terbuka terhadap potensi rahmat yang oleh Thomas Aquinas dipandang selalu memerlukan “kodrat”. Rahmat itulah yang menggerakan dan melengkapi serta mengangkat kapasitas intelek dan kecendikiaannya ke tingkat yang mulia. Kesadaran akan hal ini tidak membuat para cendikiawan berjalan dengan “kepala ke bawah”.
Momen bersejarah  ini tidaklah menjadi sebuah negasi atas kecendikiawan para katekis melainkan sebuah penegasan atas jati dirinya yang tidak sekedar berpuas diri atas kesarjanaan. Lebih dari itu, momen ini menjadi sebuah pemproklamiran pergerakan perubahan wajah: dari sekedar menyandang titel menuju penghidupan titel dalam praksis-praksis nyata, dari kerangka pikir mekanisitis-ekonomis-finansial menuju penggaraman wajah dunia dalam terang fides quaerens intellectum.

Saya akhiri sisipan ini dengan mengutip kata-kata yang tertulis dalam Kitab Keluaran (Kel 3:7-8): “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku telah turun untuk membebaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu….” Sekiranya, momen bersejarah ini menjadi titian baru bagi para sarjana dan lembaga Sekolah Tinggi Pastoral Reinha untuk sanggup memperhatikan, mendengar dan mengetahui tanda-tanda zaman di tengah jeritan-jeritan ketidakpastian dalam genggaman paradigma shif  dan godaan-godaan perubahan-perubahan yang menyertainya hingga sanggup turun dari tahta kesarjanaan dan menggapai keselamatan dalam praksis pembebasan dan penuntunan hidupnya, sesama dan alamnya dengan berbingkaikan insight-nya Bernard J.F.Lonergan: semakin banyak seorang tahu, semakin banyak pertanyaan yang muncul dan keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan mengarahkan dia ke tingkat kesadaran, keluasan dan kedalaman pengetahuan yang semakin lama terus memperluas horisonnya. Pada muara inilah, para katekis boleh ada dan memandang dunia dengan mata terbuka!

No comments:

Post a Comment