KATEKIS
DENGAN
MATA TERBUKA
[sebuah sisipan pada wisuda sarjana agama STP Reinha]
Oleh: Anselmus Atasoge
Sabtu, 22 Nopember 2014 menjadi hari spesial bagi Sekolah
Tinggi Pastoral Reinha Waibalun Flores Timur. STP Reinha “meng-missio
canonika-kan” dan memwisuda angkatan ketiganya. Tulisan ini merupakan sebuah
sisipan pada momen bersejarah itu.
Para wisudawan di bidang kateketik pastoral
bukan sekedar kaum intelektual di bidang kateketik pastoral. Mereka adalah
cendikiawan katekis atau katekis yang cendikiawan yang seluruh diri dan
karyanya merupakan perpaduan antara iman dan akal budi dalam seluruh praksis hidupnya.
Di tengah masyarakat yang diwarnai
dengan perubahan paradigma (paradigma shift), katekis cendekiawan dipanggil
untuk menghadirkan “wajah Allah”, menghadirkan “apa yang diimaninya” dengan
berbekalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu yang dimilikinya mesti
membantunya untuk memahami apa yang diimaninya. Imannya bukan menjadi sebuah
kepercayaan yang buta, melainkan ia selalu dan senantiasa ingin dan perlu
mencoba memahami apa yang diimaninya.
Katekis yang
cendikiawan bergerak dari pinggiran credo
quia absurdum (aku percaya karena tidak masuk akal) menuju fides quaerens intellectum (iman mencari
pengertian). Katekis yang cendikiawan berjuang untuk menghidupkan dan
menjelaskan imannya dengan keintelektualannya dan dengan kecendikiaannya. Ia
tidak menggendong kepercayaannya secara buta untuk memasuki realitas Yang
Ilahi. Ia tidak memandang imannya sebagai sesuatu yang kontradiktif, aneh, tak
masuk akal. Namun, perjuangan itu tidak semata bertumpu pada kapasitas intelek
dan kecendikiaannya. Sambil berjuang, katekis yang cendikiawan mesti tetap
terbuka terhadap potensi rahmat yang oleh Thomas Aquinas dipandang selalu
memerlukan “kodrat”. Rahmat itulah yang menggerakan dan melengkapi serta
mengangkat kapasitas intelek dan kecendikiaannya ke tingkat yang mulia.
Kesadaran akan hal ini tidak membuat para cendikiawan berjalan dengan “kepala
ke bawah”.
Momen bersejarah
ini tidaklah menjadi sebuah negasi atas
kecendikiawan para katekis melainkan sebuah penegasan atas jati dirinya yang
tidak sekedar berpuas diri atas kesarjanaan. Lebih dari itu, momen ini menjadi
sebuah pemproklamiran pergerakan perubahan wajah: dari sekedar menyandang titel
menuju penghidupan titel dalam praksis-praksis nyata, dari kerangka pikir
mekanisitis-ekonomis-finansial menuju penggaraman wajah dunia dalam terang fides quaerens intellectum.
Saya akhiri
sisipan ini dengan mengutip kata-kata yang tertulis dalam Kitab Keluaran (Kel 3:7-8): “Aku
telah memperhatikan dengan
sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang
disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku telah turun untuk membebaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri
itu….” Sekiranya, momen bersejarah ini menjadi titian baru bagi para sarjana dan lembaga Sekolah Tinggi
Pastoral Reinha untuk sanggup memperhatikan, mendengar dan mengetahui
tanda-tanda zaman di tengah jeritan-jeritan ketidakpastian dalam genggaman paradigma shif dan godaan-godaan perubahan-perubahan yang
menyertainya hingga sanggup turun dari tahta kesarjanaan dan menggapai
keselamatan dalam praksis pembebasan dan penuntunan hidupnya, sesama dan
alamnya dengan berbingkaikan insight-nya
Bernard J.F.Lonergan: semakin banyak
seorang tahu, semakin banyak pertanyaan yang muncul dan keterbukaan terhadap
pertanyaan-pertanyaan mengarahkan dia ke tingkat kesadaran, keluasan dan
kedalaman pengetahuan yang semakin lama terus memperluas horisonnya. Pada muara inilah, para katekis
boleh ada dan memandang dunia dengan mata terbuka!
No comments:
Post a Comment