POLITIK YANG BERNILAI
Oleh: Anselmus Atasoge
Gonjang-ganjing politik nasional dan daerah akhir-akhir
ini sepertinya membuat wajah politik menjadi tak sedap dipandang. Politikus
berurusan-muka dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dugaan korupsi jadi
latarbelakang urusan yang tidak enak itu. Dan, ada yang sudah jadi tersangka.
Yang sudah “bersenda-gurau” di balik jeruji pun tak kalah hebatnya. Yang jadi
calon penghuni hotel pro deo pun sedang antrian. Politik dan urusan “hukum-menghukum”
atau “adil-mengadili” bagaikan dua sisi yang telah melebur jadi “komoditas”
nasional dan daerah. Adakah politik harus demikian?
Dari
pergulatan intelektual sekitar wacana politik, mencuatlah dua perspektif dasar
tentang politik dan keduanya amat kontradiktif. Di satu pihak, politik
dipandang sebagai sesuatu yang negatif,
kotor, tipu muslihat dan di lain pihak politik dipandang sebagai
sebuah kebijaksanaan, kesenian.
Dalam arti yang sempit, politik sering disamakan dengan
permainan kotor, tipu muslihat, siasat, pergolakan, perebutan kekuasaan demi
sebuah status, kedudukan, posisi yang melayani kepentingan pribadi dan
golongan. Jadi, nadanya negatif. Pengertian ini bisa dipahami karena memang
terlalu sering sesuai dengan kenyataan politik yang terjadi. Tidak bisa
disangkal, bahwa kekuasaan mengundang
segudang godaan besar yang tidak mudah dielakkan. Para pemegang kekuasaan tidak
jarang bertindak sewenang-wenang menekan manusia lain untuk memperkaya dirinya.
Dengan demikian, politik juga dapat menciptakan peluang bagi ambisi pribadi, libido
dominandi, untuk meniti tangga kekuasaan dan keuntungan. Politik akhirnya
cuma berputar-putar dalam labirin kekuasaan.
Istilah politik juga mengandung arti yang lebih luas,
yaitu sebagai kebijaksanaan atau
tindakan yang bersifat umum atau publik. Ada dua unsur yang terkandung dalam artian
ini. Pertama, politik selalu
merupakan suatu kegiatan, keterlibatan, tindakan, daya upaya, praktek atau
pelaksanaan nyata yang menangani atau mengubah kenyataan yang dihadapi. Kedua,
jangkauan dari tindakan tersebut tidak terbatas pada lingkungan kecil,
yaitu orang lain, keluarga atau sanak saudara, melainkan menyangkut
masyarakat yang lebih luas, yakni
seluruh negara atau daerah atau sebagian pokok penting masyarakat yang lebih
luas seperti kaum buruh atau desa. Jika jangkauan politik itu demikian, maka
dapatlah dikatakan bahwa yang menjadi ciri khas suatu tindakan yang bersifat
politis adalah bahwa tindakan itu terjadi dalam kerangka acuan yang
berorientasi pada masyarakat sebagai keseluruhan. Karena itu, suatu tindakan
harus disebut politis apabila menyangkut masyarakat sebagai keseluruhan.
Dengan mengacu pada orientasi politik yang demikian,
politik pun dapat dipandang sebagai proses yang dilakukan manusia-manusia (rakyat) untuk menata hidup bersama dalam
sebuah masyarakat. Oleh karena itu pelaku pokok proses politik yang sebenarnya
adalah rakyat sendiri, ketika mereka memproses hidup bersama, menyepakati
berbagai konsensus dan mendialogkan tata laksana aturan main dalam mencapai
kesejahteraan bersama seluruh warga masyarakat tanpa kecuali. Politik itu berasal dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat. Rakyat yang menciptakannya, rakyat yang mengelola dan
mengusahakannya dan rakyat yang mengecapi keuntungannya.
Dalam konteks ini, politik dapat juga dilihat sebagai
medan kehidupan publik, dunia bersama, yang mampu menggabungkan manusia hingga
mereka tidak saling menerkam satu sama lain, melainkan bekerja sama demi
kepentingan umum. Di dalamnya setiap individu diajak untuk mencari dan memenuhi
kepentingan pribadinya dalam kerangka kepentingan umum ini.
Politik
berusaha menciptakan sirkuit kehendak, menjembatani kepentingan individual yang
majemuk itu hingga terwujudlah suatu ruang publik yang mempertemukan aneka
ragam kepentingan serta kebutuhan individual yang berbeda-beda. Jadi politik
merupakan suatu kegiatan sintesis: mengubah benturan niat menjadi langkah kerja
sama dengan menunjukkan butir-butir yang saling menguntungkan bagi kedua belah
pihak. Di sinilah letak seninya. Di sini pulalah, politik itu mengandung
nilai-nilai yang layak dihidupi, dan bukannya dicaci-maki lantaran wajahnya
yang tak lagi sedap dipandang.
No comments:
Post a Comment