Dari Das Sein
Menuju Das Sollen
(Kado Buat DPRD Flotim 2014-2019)Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka
8 September 2014 menjadi momen sarat makna bagi ketigapuluh anggota
terpilih DPRD Kabupaten Flores Timur. Hari itu mereka dikukuhkan menjadi para
wakil rakyat Flores Timur untuk masa bakti lima tahun mendatang. Semenjak
mereka ditetapkan sebagai ‘pemenang’, semenjak itu pula segundang harapan mulai
dititipkan pada pundaknya. Semenjak itu pulalah mereka bukan lagi seperti mereka yang dulu melainkan mereka sedang
bergerak dari apa yang ada menuju apa yang
seharusnya ada, dari das sein menuju das sollen.
Apa yang seharusnya ada pada mereka? Pertama-tama nian jati diri mereka
yang baru adalah ‘wakil rakyat’. Sebagai wakil dari rakyat yang empunya
kedaulatan politis, sang wakil tentunya selalu esse co-esse est, selalu ada bersama orang yang diwakilinya. Dari
gerakan ada bersama itulah, sang wakil bisa mengetahui situasi dan keadaan
mereka yang diwakilinya hingga boleh ‘menceritakannya’ di Gedung Bale Gelekat
berdasarkan fakta empiris yang telah ‘dipetik’ dari momen ada bersama itu.
Momen ada bersama tidak sekedar digelar di saat sang wakil mengunjungi mereka
yang diwakilinya dengan bertebal kantong melainkan di saat di mana
persoalan-persoalan kemasyarakatan sedang meminta perhatian.
Kedua, para wakil yang terpilih tentunya bukan orang sembarangan yang
sengaja dipilih sekedar main-main dalam pesta demokrasi melainkan
pribadi-pribadi pilihan yang memiliki ‘kualitas tertentu’ yang membuat orang
memercayainya. Di hadapan kepercayaan tersebut, sang wakil mestilah memiliki
kesadaran yang paling eksistensial bahwa kepercayaan itu merupakan sebuah
titian baru baginya yang
membabtis dan mengantar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih dari sekedar
memiliki sebuah historitas politis
di sebuah masa tertentu setelah bergulat dengan sejumlah kalkulasi sosial-politis-ekonomis di masa sebelum
pemilihan dengan suka dan dukanya. Kepercayaan itu menjadi
sebuah konstruk historis baru bagi
tiap-tiap pribadi yang telah dengan gagah berani melangkahkan kakinya ke pelataran “Bale Gelekat” dalam
sorak gembira keluarganya,
kerabatnya, pemilihnya maupun simpatisannya. Di dalamnya, mereka sungguh boleh
menjadi orang pilihan yang sejati yang empunya jiwa mengabdi, jiwa yang menolak
kalkulasi politis egosentris.
Ketiga, dengan mengambil peran sebagai wakil rakyat mereka memiliki
tanggungjawab besar terhadap mereka yang diwakilinya. Salah
satu karakter dasar kodrat eksistensial-rasional manusia adalah kemampuan untuk
menilai dan mengevaluasi tindakan dan perbuatannya. Dengannya, dia mampu membuat
pertimbangan dan mengambil keputusan secara otonom sehingga ia juga harus
bertanggungjawab atas pertimbangan, keputusan dan konsekuensi-konsekuensi
tindakan-tindakannya.
Wakil rakyat sebagai manusia
yang dilengkapi dengan kodrat dasar kemanusiawiannya itu akan terlibat dalam
aktvitas timbang-menimbang masalah dan kepentingan publik hingga menarik
keputusan atau kebijakan-kebijakan. Ketika aktivitas itu itu berlangsung, di
titik itu pulalah, para wakil rakyat sedang menambah pada dirinya kualitas
pertanggungjawaban itu. Mereka tentunya, tidak berpuas diri karena telah
melahirkan keputusan dan kebijakan lalu ‘mencuci tangan’ dengan lifeboy
kecurangan pada pinggiran keputusan dan kebijakan.
Keempat, para wakil
rakyat itu kerjanya bagaikan seorang yang unterscheidend innerwerden, orang yang secara intens memikirkan dan
menghayati sesuatu. Dia memikirkan kepentingan orang banyak dan menghayati
kebenaran-kebaikan universal dan bukannya menciptakan kriteria dan
indikator-indikator kebenaran dan kebaikan menurut ukurannya sendiri. Di titik
inilah, dia tampil sebagai pribadi yang dengan segala potensi,
kualitas dan kelebihannya memiliki intensi untuk terlibat dalam perjuangan
kebenaran, keadilan dan pembaharuan masyarakat. Ia tidak hanya berpikir dan
memikirkan sesuatu, tetapi lebih dari itu mengedepankan apa yang dipikirkannya
itu ke dalam hatinya serta menghidupi dan menghidupkannya di tengah masyarakat.
Ia tidak hanya pandai, cepat mengerti, cerdas dan berintelek, tetapi juga mampu
menggunakan kekuatan perasaan dan kehendaknya untuk meresapkan semuanya ke
dalam diri dan hidupnya.
Patokan
nilai dan prinsip yang mesti secara tegas dipegangnya itu adalah nilai dan
prinsip kebenaran. Ia mesti berani dan tegas berpihak pada kebenaran dalam
konteks variasi pilihan di tengah masyarakatnya. Para wakil
rakyat
tentu bukan pemilik kebenaran (Sophos), melainkan hanya sebagai orang yang
mencari kebenaran (philosophos). Mengabdi kebenaran senantiasa dipahami dalam
konteks mencari kebenaran itu.
Di
titik inilah, mengabdi kebenaran menjadi sebuah perjuangan. Ia mesti
terus-menerus melawan setiap kecenderungan untuk tetap bertahan dalam
menghidupi nilai-nilai yang berseberangan dengan nilai kebenaran itu. Ia mesti
berani menolak dan mengatakan “tidak” terhadap setiap nilai, paham, pola pikir
dan kebiasaan yang tak sepadan dengan kebaikan dan
kebenaran universal, berseberangan dengan nilai-nilai moral yang
dijunjungnya atau bertentangan dengan kapasitas religiositasnya.
Sambil mengucapkan
proficiat atas momen bersejarah 8 Septermber 2014, saya menitipkan sepenggal warta
Allah yang dengan indah terpahat dalam kata-kata penulis Kitab Keluaran:“Aku telah
memperhatikan dengan sungguh
kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah
mereka, ya, Aku mengetahui
penderitaan mereka. Sebab itu, Aku telah turun
untuk membebaskan mereka dari
tangan orang Mesir dan menuntun
mereka keluar dari negeri itu...” (Kel 3:7-8). Sekiranya,
para wakil rakyat Flores Timur boleh memperhatikan, mendengar, mengetahui
“kesengsaraan” warga masyarakat Flores Timur dan boleh turun untuk membebaskan
dan menuntunnya menuju Flores Timur yang bermandikan susu dan madu.
Gerakan-gerakan inilah yang membuat para wakil rakyat sungguh beralih dari apa
yang ada menuju apa yang seharusnya ada!
No comments:
Post a Comment