Thursday, February 26, 2015

Feature Flores Pos



Feature:
Spiritualitas Agen Pastoral
[sekedar mengingat APP 2015 Gereja Lokal Keuskupan Larantuka]
Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Pada STP Reinha Larantuka

Prapaskah 2015 tiba lagi. Di masa ini, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka diajak terlibat dalam Aksi Puasa Pembangunan dengan merenungkan tema “Membangun Spiritualitas Agen Pastoral”. Mengapa perlu bicara tentang spiritualitas agen pastoral?

Tema yang sejalan dengan Rencana Program Tahunan Keuskupan tahun 2015 ini, hendak mengajak segenap umat Allah di Keuskupan Larantuka untuk ‘bergerak bersama’ dalam usaha memberdayakan agen pastoral di semua lini pastoral. Umat Allah dipanggil untuk ikut bertanggung jawab membangun spiritualitas agen pastoral.

Adapun bentuk tanggung jawab itu antara lain memberi dukungan terhadap pribadi dan pekerjaan seorang agen pastoral, terlibat langsung dalam kegiatan pendampingan dan pemberdayaan spiritualitas mereka, dan juga melalui kesediaan memberi diri untuk menjadi agen pastoral.

Dengan merenungkan tema ini pada momen retret agung selama 40 hari ini,  para agen pastoral pun diajak untuk merawat dan meningkatkan spiritualitasnya, terus membarui diri lewat Tobat dan Pengakuan. Aktivitas ini bermuara pada tujuan agar para pastoral di Gereja Lokal ini tidak cuma berkompeten lantaran memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, melainkan juga berintegritas karena berbasis spiritualitas yang seharusnya selaku seorang pelayan Umat Allah. “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat 5:16).

Tanggung jawab untuk “ada bersama” para agen pastoral dan panggilan “untuk menjadi” agen pastoral bagi umat kristiani bukanlah sebuah pilihan alternatif melainkan “melekat erat” dalam jati dirinya sebagai seorang beriman kristiani. Sakramen inisiasi (pembabtisan, ekaristi dan krisma) menjadi dasar pijaknya. Dan, konsep Gereja Umat Allah yang didengungkan semenjak Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatis tentang Gereja yang diberi judul Lumen Gentium, menegaskan dasar pijak tersebut.

Sebagai Umat Allah, Gereja pertama nian hidup dalam persekutuan iman, harapan dan kasih. Dari persekutuan ini, Gereja selanjutnya diutus untuk mewartakan Injil dan dengan kesaksian hidup (LG no. 9). Aspek persekutuan (communio) menunjuk kepada ikatan kesatuan dalam relasi timbal-balik yang intim antara anggota Gereja dengan Allah, dan antara para anggota Gereja itu sendiri.

Sementara itu, aspek perutusan (missio) merupakan konsekuensi dari meterai Roh Kudus yang diterima para anggota Gereja sekaligus implementasi kepenuhan jati diri Gereja Umat Allah. Karunia Roh Kudus memeterai para anggota Gereja sebagai anggota Umat Allah menjadi orang yang diurapi seperti Yesus ketika dibaptis di sungai Yordan. Dengan itu, segenap umat Allah diutus mewartakan Injil Kerajaan Allah, berpartisipasi dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja.

Dalam refleksi perjalanan pastoralnya, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka menyadari kehadiran para agen pastoral yang telah “memberi dan menghiasi wajah” Gereja ini. Mereka itu antara lain para pastor, biarawan-biarawati, guru, dan guru agama atau katekis, serikat gerejawi serta kelompok kategorial, Dewan Pastoral Paroki, Stasi, Wilayah dan Lingkungan, Pengurus KBG dan Yayasan Katolik (pendidikan, kesehatan, sosial karitatif). Sejak awal kontribusi mereka sangat besar bagi pertumbuhan Gereja di wilayah kita. Malah lewat para agen pastoral, Gereja malah tampil sebagai perintis perkembangan di pelbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, pertukangan, pemberdayaan ekonomi, dll, yang manfaatnya dirasakan pula oleh semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok.

Mereka ini hadir dengan karya pelayanan yang beragam. Bergerak di semua lini. Dari  mewartakan Injil, mengajar agama, melayani sakramen atau administrasi, pembinaan iman, memimpin ibadat dan devosi serta katekese, sampai pada memberi layanan kesehatan, mendampingi kelompok tani dan nelayan, bahkan menggerakkan umat untuk membangun fisik gereja, pastoran atau aula paroki seantero keuskupan. Pergerakan mereka bukan sekedar aksi gagah-gagahan melainkan lahir dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab dan panggilan untuk menghidupi perjalanan Gereja. Karenanya, mereka rela tampil menjadi pemimpin sekaligus pelayan umat, kendati berbekal wawasan pengetahuan seadanya, keterampilan yang pas-pasan, atau dengan spiritualitas yang dipandang kurang mumpuni.

Kini, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka sedang giat-giatnya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia para agen pastoral yang membuat pekerjaan pastoral lebih terstruktur, sistematis dan masif. Semuanya akan bermuara pada satu titik: ketersediaan agen pastoral yang berkualitas dan kompeten! Ya...para agen pastoral yang sanggup merespons kebutuhan dan realitas pastoral yang kian problematik, mampu meningkatkan mutu hidup iman serta kesejahteraan umat.






No comments:

Post a Comment