Feature:
Spiritualitas
Agen Pastoral
[sekedar
mengingat APP 2015 Gereja Lokal Keuskupan Larantuka]
Anselmus
Atasoge
Staf Pengajar
Pada STP Reinha Larantuka
Prapaskah
2015 tiba lagi. Di masa ini, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka diajak terlibat
dalam Aksi Puasa Pembangunan dengan merenungkan tema “Membangun Spiritualitas
Agen Pastoral”. Mengapa perlu bicara tentang spiritualitas agen pastoral?
Tema yang sejalan dengan Rencana
Program Tahunan Keuskupan tahun 2015 ini, hendak mengajak segenap umat Allah di Keuskupan Larantuka
untuk ‘bergerak bersama’ dalam usaha memberdayakan
agen pastoral di semua lini pastoral. Umat Allah dipanggil untuk ikut
bertanggung jawab membangun spiritualitas agen pastoral.
Adapun bentuk tanggung
jawab itu
antara lain memberi dukungan terhadap pribadi dan pekerjaan
seorang agen pastoral, terlibat langsung dalam kegiatan pendampingan dan
pemberdayaan spiritualitas mereka, dan juga melalui kesediaan memberi diri
untuk menjadi agen pastoral.
Dengan merenungkan tema ini pada momen
retret agung selama 40 hari
ini, para agen pastoral pun diajak untuk merawat dan meningkatkan spiritualitasnya, terus membarui diri lewat Tobat dan Pengakuan. Aktivitas ini bermuara pada tujuan agar para
pastoral di Gereja Lokal ini
tidak cuma berkompeten lantaran memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang memadai, melainkan juga berintegritas karena
berbasis spiritualitas yang seharusnya selaku seorang pelayan Umat Allah. “Hendaknya
terangmu bercahaya
di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan
Bapamu yang di sorga" (Mat 5:16).
Tanggung jawab untuk “ada bersama” para agen pastoral dan
panggilan “untuk menjadi” agen pastoral bagi umat kristiani bukanlah sebuah
pilihan alternatif melainkan “melekat erat” dalam jati dirinya sebagai seorang
beriman kristiani. Sakramen inisiasi (pembabtisan, ekaristi dan krisma) menjadi
dasar pijaknya. Dan, konsep Gereja Umat Allah yang didengungkan semenjak
Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Dogmatis tentang Gereja yang diberi judul
Lumen Gentium, menegaskan dasar pijak
tersebut.
Sebagai Umat Allah, Gereja pertama nian
hidup dalam persekutuan iman, harapan dan kasih. Dari persekutuan ini, Gereja selanjutnya diutus
untuk mewartakan Injil dan dengan kesaksian hidup (LG no. 9). Aspek persekutuan
(communio) menunjuk kepada ikatan
kesatuan dalam relasi timbal-balik yang intim antara anggota Gereja dengan
Allah, dan antara para anggota Gereja itu sendiri.
Sementara itu, aspek
perutusan (missio) merupakan
konsekuensi dari meterai Roh Kudus yang diterima para anggota Gereja sekaligus
implementasi kepenuhan jati diri Gereja Umat Allah. Karunia Roh
Kudus memeterai para anggota Gereja
sebagai anggota Umat Allah menjadi orang
yang diurapi seperti Yesus ketika dibaptis di sungai Yordan. Dengan itu, segenap umat Allah diutus
mewartakan Injil Kerajaan Allah, berpartisipasi dalam tugas Kristus sebagai
imam, nabi dan raja.
Dalam refleksi perjalanan pastoralnya, Gereja Lokal
Keuskupan Larantuka menyadari kehadiran para agen pastoral yang telah “memberi
dan menghiasi wajah” Gereja ini. Mereka itu
antara lain para pastor, biarawan-biarawati, guru, dan guru agama atau katekis,
serikat gerejawi serta kelompok
kategorial, Dewan Pastoral Paroki, Stasi, Wilayah dan Lingkungan, Pengurus KBG dan Yayasan Katolik (pendidikan, kesehatan, sosial karitatif).
Sejak awal kontribusi mereka sangat besar bagi pertumbuhan Gereja di wilayah
kita. Malah lewat para agen pastoral, Gereja malah tampil sebagai perintis
perkembangan di pelbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, transportasi,
pertukangan, pemberdayaan ekonomi, dll, yang manfaatnya dirasakan pula oleh
semua lapisan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok.
Mereka ini hadir dengan karya pelayanan
yang
beragam. Bergerak di semua
lini. Dari mewartakan Injil, mengajar agama, melayani sakramen atau
administrasi, pembinaan iman, memimpin ibadat dan devosi serta katekese, sampai pada memberi
layanan kesehatan, mendampingi kelompok tani dan nelayan, bahkan menggerakkan
umat untuk membangun fisik gereja,
pastoran atau aula paroki
seantero keuskupan.
Pergerakan mereka bukan sekedar
aksi gagah-gagahan melainkan lahir dari sebuah kesadaran
akan tanggung jawab dan
panggilan untuk menghidupi perjalanan Gereja. Karenanya, mereka
rela tampil menjadi pemimpin sekaligus pelayan umat, kendati berbekal wawasan
pengetahuan seadanya, keterampilan yang pas-pasan, atau dengan spiritualitas
yang dipandang kurang
mumpuni.
Kini, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka sedang giat-giatnya untuk meningkatkan kapasitas
sumber daya manusia para agen pastoral yang membuat pekerjaan pastoral lebih
terstruktur, sistematis dan masif. Semuanya akan bermuara pada satu titik: ketersediaan
agen pastoral yang berkualitas dan kompeten! Ya...para agen pastoral yang sanggup merespons kebutuhan dan realitas pastoral yang kian
problematik, mampu meningkatkan mutu hidup iman serta kesejahteraan umat.
No comments:
Post a Comment