Thursday, February 26, 2015



DARI ‘ABU’ MENUJU PERTOBATAN POLITIK
Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka

Sejak Rabu, 18 Pebruari 2015, Gereja Katolik seantero masuk dalam masa ‘puasa’. Pada hari itu, seluruh umat Katolik di seluruh dunia ‘memberi dahinya’ ditaburi abu.
Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat.
Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6).Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4:13).

Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam membubuhkan abu pada dahi kaum beriman kristiani sambil berkata: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.

Di mata Dr. Georgius Lolan, Pr, dosen teologi Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka, di hari yang spesial itu, abu mendapat ‘tempat terhormat’. Dia yang sehari-hari berada pada titik terendah di bumi ini, dia yang tidak punya ‘nilai ekonomis’, di Hari Rabu Abu, diberi nilai dan ditaruhi makna. Abu mengingatkan manusia akan ‘di posisi mana ia berada’ dan ‘ke arah mana’ ia berpijak langkah.

Abu yang diterima pada Hari Rabu Abu menjadi tanda yang mengingatkan kepada para penerimanya untuk memasuki wilayah pertobatan sekaligus sebagai tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda Tuhan adalah sumber keselamatan manusia dan dunianya.

Salah satu wujud pertobatan adalah ‘berjuang hidup’ untuk ‘menjadi tidak munafik’. Pastor Paroki San Juan Lebao, Romo Hendrik Leni, Pr, mengajak umat yang dipimpinnya untuk memaknai masa ini dengan tema besar ‘menjadi tidak munafik’. Baginya, momen puasa membawa seluruh umat untuk kembali ke dirinya yang asli, menampilkan diri apa adanya. Tidak munafik terhadap diri sendiri, komunitas-komunitas basis Gerejani dan masyarakat sosial yang mengitarinya.

‘Kosmetiknya’ kaum beriman kristiani pada hari Rabu Abu adalah “abu” ini. Letaknya di dahi. Ia mudah dilihat, dipandangi.  Pertobatan sejati haruslah berbentuk nyata dan kelihatan. Ia dapat dipandangi.

Di panggung politik mesti ada juga pertobatan politik. Pertobatan politik berurusan dengan perubahan wawasan yang nyata, perubahan hati, suatu pertobatan dan transformasi yang sungguh-sungguh di dalam hidup.

Pertobatan politik mengandung dua sisi. Pertama, pemahaman tentang bagaimana masyarakat berjalan dan khususnya bagaimana masyarakat ditata dengan cara-cara yang menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan memberikan kepada mereka hak-hak khusus yang tidak wajar dan keuntungan-keuntungan yang tidak adil di atas kelompok lainnya, meskipun kelompok yang mendapat hak-hak istimewa itu tidak bermaksud berlaku tidak adil. Kedua, komitmen untuk meluruskan dan memerangi ketidakadilan, dengan menggantikan struktur-struktur yang tidak adil dengan struktur yang seharusnya. Pertobatan politik bersifat sejati bila ada keterlibatan nyata untuk membela kaum miskin dan kaum pinggiran, menyelamatkan dan menghormati hak-hak dan kepentingan-kepentingan kaum miskin, tertindas dan lemah.

1 comment: