DARI ‘ABU’ MENUJU PERTOBATAN POLITIK
Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral
Reinha Larantuka
Sejak Rabu, 18 Pebruari 2015, Gereja Katolik
seantero masuk dalam masa ‘puasa’. Pada hari itu, seluruh umat Katolik di
seluruh dunia ‘memberi dahinya’ ditaburi abu.
Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi
tanda tobat.
Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar
nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari
singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu
duduklah ia di abu. (Yunus 3:6).Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai,
anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan
bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4:13).
Pius Parsch, dalam bukunya “The Church’s Year of Grace” menyatakan
bahwa “Rabu Abu Pertama” terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat
dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan
kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam membubuhkan abu pada dahi kaum
beriman kristiani sambil berkata: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali
menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.
Di
mata Dr. Georgius Lolan, Pr, dosen teologi Sekolah Tinggi Pastoral Reinha
Larantuka, di hari yang spesial itu, abu mendapat ‘tempat terhormat’. Dia yang
sehari-hari berada pada titik terendah di bumi ini, dia yang tidak punya ‘nilai
ekonomis’, di Hari Rabu Abu, diberi nilai dan ditaruhi makna. Abu mengingatkan
manusia akan ‘di posisi mana ia berada’ dan ‘ke arah mana’ ia berpijak langkah.
Abu yang diterima pada Hari Rabu Abu menjadi tanda yang mengingatkan
kepada para penerimanya untuk memasuki wilayah pertobatan sekaligus sebagai
tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda Tuhan adalah sumber keselamatan
manusia dan dunianya.
Salah
satu wujud pertobatan adalah ‘berjuang hidup’ untuk ‘menjadi tidak munafik’. Pastor
Paroki San Juan Lebao, Romo Hendrik Leni, Pr, mengajak umat yang dipimpinnya
untuk memaknai masa ini dengan tema besar ‘menjadi tidak munafik’. Baginya,
momen puasa membawa seluruh umat untuk kembali ke dirinya yang asli,
menampilkan diri apa adanya. Tidak munafik terhadap diri sendiri,
komunitas-komunitas basis Gerejani dan masyarakat sosial yang mengitarinya.
‘Kosmetiknya’
kaum beriman kristiani pada hari Rabu Abu adalah “abu” ini. Letaknya di dahi.
Ia mudah dilihat, dipandangi. Pertobatan
sejati haruslah berbentuk nyata dan kelihatan. Ia dapat dipandangi.
Di
panggung politik mesti ada juga pertobatan politik. Pertobatan politik
berurusan dengan perubahan wawasan yang nyata, perubahan hati, suatu pertobatan
dan transformasi yang sungguh-sungguh di dalam hidup.
Pertobatan
politik mengandung dua sisi. Pertama, pemahaman tentang bagaimana masyarakat
berjalan dan khususnya bagaimana masyarakat ditata dengan cara-cara yang
menguntungkan kelompok-kelompok tertentu dan memberikan kepada mereka hak-hak
khusus yang tidak wajar dan keuntungan-keuntungan yang tidak adil di atas
kelompok lainnya, meskipun kelompok yang mendapat hak-hak istimewa itu tidak
bermaksud berlaku tidak adil. Kedua, komitmen untuk meluruskan dan memerangi
ketidakadilan, dengan menggantikan struktur-struktur yang tidak adil dengan
struktur yang seharusnya. Pertobatan politik bersifat sejati bila ada
keterlibatan nyata untuk membela kaum miskin dan kaum pinggiran, menyelamatkan
dan menghormati hak-hak dan kepentingan-kepentingan kaum miskin, tertindas dan
lemah.
pendk sekali artikelnya bro
ReplyDelete