KELEKAT KEWAYAN
Anselmus AtasogeStaf Pengajar STP Reinha Larantuka
Balai
Desa Bubu Atagamu Solor Selatan, Minggu, 24 Agustus 2014 dipadati ratusan
pelajar dan kaum muda yang tergabung dalam organisasi Orang Muda Katolik Paroki
St. Mikhael Kelike. Mereka datang dari enam stasi: Apelame, Bubu Atagamu,
Lewograran, Kalike, Lemanu, Kenere. Di tingkat paroki, kelompok-kelompok Orang
Muda dari keenam stasi dipimpin oleh Agustinus Kroon.
Orang-orang
muda ini berdiskusi tentang jati dirinya yang sedang bergerak antara Harapan dan Kenyataan. Banyak harapan
yang dititipkan pada pundak orang muda. Namun, ada banyak kenyataan pula yang
bertolak belakang dengan sejuta harapan itu. Salah seorang aktivis kepemudaan di desa Bubu Atagamu, Markus Sogen menjelaskan pergeseran peran kaum muda. Dalam budaya Lamaholot tempo dulu, kemamun dan kebarek (laki-laki dan perempuan muda) mengambil peran penting dalam urusan adat dan budaya. Peran utama mereka adalah kelekat kewayan terhadap orang tua, suku dan lewo (kampung).
Menurutnya, peran orang muda zaman dulu itu jelas dan berlangsung secara spontan. Tapi di zaman sekarang peran itu telah dikesampingkan. Spontanitas hilang lenyap. Tak gampang mencari orang-orang muda untuk urusan kelekat kewayan di kampung-kampung.
Markus mengharapkan agar kini semua pihak yang berkepentingan baik keluarga, pemerintah maupun pihak Gereja perlu membangun upaya untuk merekonstruksi dinamika tradisional ke dalam dinamika kelompok modern di kalangan kaum muda termasuk dalam organisasi Orang Muda Katolik.
Gelekat kewayan kaum muda menjadi “medan laga” membangun mental dan kepribadian kaum muda. Di dalamnya, kaum muda menghidupkan semangat rela berkorban, menguatkan benih-benih tanggung jawab dan melahirkan sebuah visi kebersamaan sepenanggungan, sehati-sejiwa. Dia menjadi spirit orang muda untuk menegaskan jati dirinya.
Theobaldus Blolong, salah seorang mahasiswa STP Reinha Larantuka yang sedang ‘praktek’ di Paroki Kelike mengatakan jika kaum muda berhasil menegaskan jati dirinya, maka anggapan bahwa kaum muda adalah kaum yang tak berkaum atau kaum anonimitas dapat ditepis.
Hal senada ditegaskan Ketus Seksi Kepemudaan Paroki Kelike, Hilarius Wukak Sogen. Baginya, sudah saatnya orang muda tampil mengambil peran dalam Gereja dan masyarakat sebab pada pundak merekalah masa depan Gereja dan masyarakat diletakkan.
Kaum muda menjadi harapan Gereja dan masyarakat. Tengtang orang muda, Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan: You are my future. You are my hope. Because you are the promise of tomorrow. You are the hope of the Church and society I invite you to be the “salt” and the “light” for the world. Kamu adalah masa depanku. Kamu adalah harapanku. Karena kamu adalah hari esok yang menjanjikan. Saya mengundang kalian untuk menjadi garam dan terang bagi dunia.”
Di Pantai Copacabana, Rio de Jeneiro, Brasil pada misa penutupan Hari Kaum Muda Sedunia (WYD, World Youth Day), Paus Fransiskus berpesan: “Gereja membutuhkan Anda, antusiasme Anda, kreativitas Anda dan sukacita yang begitu khas dari Anda” orang muda Katolik.
Dan jauh sebelum itu, pada akhir Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI mengirimkan pesan bagi orang muda se-dunia. Pesan ini diawali dengan: “Kepada kalianlah, lelaki dan perempuan muda dunia, Konsili ingin menyampaikan pesan terakhir. Karena kalianlah yang menerima obor dari tangan para pendahulumu dan hidup di dunia pada periode yang paling penuh perubahan yang pernah terjadi dalam sejarahnya. Kalianlah, yang mengambil teladan dan pengajaran terbaik dari orangtua dan guru kalian, yang akan membentuk masyarakat masa depan. Kalian akan diselamatkan atau hancur bersamanya”. Pesan ini ditutup dengan kata-kata: “Bangunlah, dengan antusias, sebuah dunia yang lebih baik daripada yang sekarang kita miliki!” (Pesan kepada Orang Muda, 8 Desember 1965).
Sekiranya, gagasan yang tercurah di ruang diskusi Bubu Atagamu menjadi awal yang baik menuju dunia yang lebih baik melalui kelekat kewayan kaum muda.
No comments:
Post a Comment