KETIKA
ALLAH “BICARA”
[memaknai
bulan Kitab Suci Nasional 2014)Oleh: Anselmus Atasoge
Sfaf Pengajar Pada Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka
Bagi Gereja Katolik, bulan September
merupakan bulan yang khas biblis. Gereja merayakan bulan ini sebagai Bulan
Kitab Suci Nasional. Pada bulan ini, orang-orang Katolik diberi kesempatan
secara khusus untuk ‘mendekatkan diri secara intens’ dengan Kitab Sucinya,
Alkitab. Biasanya, ada pelbagai kegiatan untuk mengakrabkan Kitab Suci
tersebut, di antaranya kuis Kitab Suci, Sharing Kitab Suci di
Komunitas-Komunitas Basis Gerejani, Lomba Baca Kitab Suci dan Lomba Menyusun
Renungan atau Kotbah yang bersumberkan Kitab Suci. Pada hari Minggu Minggu
pertama bulan itu, Gereja merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Ekaristi
berlangsung meriah dan diawali dengan perarakan khusus untuk Kitab Suci dan Kitab
Suci ditempatkan di tempat yang istimewa.
Di dalam sejarah Gereja, tercatat bahwa
salah satu dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II yang berbicara
mengenai Kitab Suci adalah Dei Verbum. Dalam Dei Verbum para bapa Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab
Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat beriman untuk tekun membaca Kitab Suci. Untuk mencapai maksud tersebut beberapa langkah ditempuh. Kitab Suci diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.
Lembaga Biblika Indonesia, yang merupakan Lembaga dari KWI untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca Kitab Suci.
Usaha ini bertujuan untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci tidak diperuntukkan bagi kelompok khusus saja dalam Gereja melainkan juga diperuntukkan bagi umat biasa. Di titik ini, mereka dipersilahkan mengenalnya lebih akrab sebagai sumber dari kehidupan iman mereka. Di sisi lain, umat kristianipun didorong untuk memiliki Kitab Suci paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu Kitab Suci di rumahnya. Diharapkan dengan itu, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman kepercayaannya sendiri.
Kitab Suci itu berisikan Sabda Allah. Ungkapan Sabda Allah berisikan dua kata. Pertama, kata sabda. Kata ini searti dengan “kata/perkataan” (terutama sabda Allah/Tuhan, tetapi sering dipakai juga bagi nabi, raja; jadi searti dengan “titah”) dan menunjukkan kemungkinan terjadinya komunikasi. Sabda diucapkan pihak yang satu agar dipahami oleh pihak lain. Sabda adalah sarana pertukaran timbal balik. Kedua, Allah. Dalam konteks ini, Allahlah yang bersabda. Artinya, Allahlah yang ingin dipahami, berbicara dengan manusia yang disapaNya. Selanjutnya, Allah pun siap untuk menanggapi kata-kata manusia.
Menurut Stefan Leks, Kardinal C. Martini secara menarik membedakan berbagai arti ungkapan Sabda Allah. Menurut Martini, dalam arti dasariah, ungkapan ini hendak menegaskan bahwa Allah dapat mengadakan komunikasi dengan manusia, tetapi wujudnya dapat berbeda-beda, yaitu, Ia bersabda melalui: peristiwa-peristiwa sejarah keselamatan; utusan-utusanNya, misalnya lewat para nabi; Yesus yang adalah Sabda Allah sendiri sesuai dengan Yoh. 1:1; para pemberita Kristen; amanatNya umum yang ditujukan kepada segenap umat manusia dan melalui Kitab Suci.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, “Sabda Allah” tidak disamakan dengan nubuat-nubuat para dewa-dewi yang dibicarakan oleh bangsa Yunani zaman dulu atau oleh para penganut berbagai agama yang lahir di kawasan Asia Kecil. “Sabda Allah” tidak mengacu kepada kebenaran saja, melainkan lebih-lebih memberi semangat, menghibur, menantang dan sebagainya.
Menurut C. Groenen, OFM, seperti yang diulas oleh Stefan Leks, ada dua hal yang perlu diberi penjelasan tentang “Sabda/Bicara Allah” itu. Pertama, ungkapan “bicara Allah” adalah ungkapan kiasan. Allah tidak berbicara seperti manusia berbicara. Ungkapan itu sesungguhnya searti dengan: Allah membuat diriNya teralami oleh manusia dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari. Di antara Allah dan manusia terjalin hubungan antarpribadi, sehingga terjadilah komunikasi di antara keduanya.
Allah yang berbicara menyerahkan dirinya yaitu pikiran, perasaan, penilaian dan sebagainya kepada manusia yang mendengarkannya. Bila manusia menanggapi bicara itu, maka ia pun mengkomunikasikan dirinya kepada Allah, sebagai pembicara. Hal inilah yang terjadi antara Allah dan manusia melalui Kitab Suci. Hal itu bisa terjadi bila Kitab Suci dibaca dan didengar dengan baik.
Bulan Kitab Suci Nasional 2014 ini merupakan tahun II dari tema umum gerakan Kitab Suci Nasional “Sabda Allah dalam Keluarga” (2013-2016). Adapun visi dari tema umum ini adalah “keluarga kristiani yang mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah dan meneruskan iman kristiani kepada anak-anak.” Tema tahun ini adalah “Keluarga Beribadah dalam Sabda.”
Keluarga yang beribadah bersama mewujudkan terbangunnya Gereja Rumah Tangga (LG 11), di mana mereka tidak hanya berkumpul untuk semakin mengasihi, tetapi juga untuk berdoa bersama, mendengarkan firman, dan memohon kepada Tuhan. Indah sekali janji Tuhan, “Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:19). Hal ini terjadi karena Tuhan sendiri berkenan hadir dalam keluarga yang mau berkumpul dalam nama-Nya (bdk. Mat 18:20). Semoga tahun ini menjadi tahun ‘berkah’ bagi keluarga-keluarga kristiani untuk semakin mendekatkan diri pada Kitab Suci dan menjadikan Kitab Suci sebagai “guru” kehidupannya.
No comments:
Post a Comment