Friday, January 30, 2015

Feature_Flores Pos


Feature:

PAX ET BONUM
(segelas nescafe di pelataran SMAK Santu Fransiskus Asisi Keuskupan Larantuka)
Oleh: Anselmus Atasoge
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka

 
SMAK Santu Fransiskus Asisi namanya. Tak banyak orang yang mengetahuinya karena memang dia baru “lahir”. Senin, 21 Juli 2014 menjadi momen terindah baginya. Di hari itu “sekolah baru dengan wajah baru” ini baru memulai aktivitas belajar mengajarnya. Seluruh aktivitasnya dibuka dengan perayaan ekaristi bergabung dengan dua lembaga pendidikan yang berada di bawah satu atap Yayasan Persekolahan Umat Katolik Keuskupan Larantuka, SLTP St. Yusuf dan SMA St. Darius Larantuka pada Sabtu, 19 Juli 2014.

 
Sebagai sebuah sekolah baru yang dibangun dengan tujuan untuk menghasilkan kader-kader awam Katolik yang militant demi menjawabi kebutuhan Gereja Partikular Keuskupan Larantuka dan Gereja Universal, SMAK St. Fransiskus Asisi memulai pergerakkannya dengan berdasar pada visi “terwujudnya komunitas atau persekutuan murid–murid Yesus yang berilmu, beriman, partisipatif dan liberatif– transformatif “. Di atas misi inilah, menurut Ketua Yapersuktim, Romo Martinus Kapitan Sogen, Pr, lembaga ini akan berjuang untuk meletakkan sebuah dasar yang kokoh bagi para siswa-siswinya yang pada gilirannya bisa memberikan kontribusi bagi Gereja Lokal dan Gereja Universal.

 
Visi ini kemudian diaplikasikan dalam misi sebagai berikut. Pertama, membangun persekutuan hidup sebagai murid – murid Yesus dalam ikatan kasih dan saling melayani. Kedua, engembangkan aspek intelektual siswa melalui kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa. Ketiga, menanamkan nilai – nilai moral dan iman Kristiani sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Keempat, melibatkan diri dalam kegiatan-kegitan sosial kemasyarakatan sebagai bentuk partisipasi dan interaksi saling memberi dan menerima antara sekolah dan masyarakat. Kelima, merintis dan memprakarsai pembebasan dan perubahan terhadap sekolah, kondisi kehidupan kita dan lingkungan menuju habitus baru.

 
Adapun moto SMAK St. Fransiskus Asisi adalah pro pax et bonum yang berarti demi perdamaian dan kebaikan. Menurut kepala sekolahnya, Romo Sebast Uran Bala, Pr, salah satu hal sederhana yang terlahir dari moto tersebut adalah kesaling-menyapaan antara semua warga sekolah sebagai “saudaraku dan saudariku”. Hal lain yang menjadi kekhasannya adalah pembukaan dan penutupan kegiatan belajar mengajar per harinya. Aktivitas di kelas ini akan dibuka dan ditutup dengan doanya Santu Fransiskus Asisi yang dikenal dengan doa damai: Tuhan...jadikanlah aku pembawa damai!

 
Kurikulum yang berlaku pada lembaga pendidikan SMAK St. Fransiskus Asisi adalah Kurikulum 2013. Dan karena lembaga pendidikan ini baru mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada tahun pelajaran ini, maka muatan kurikulum yang akan dijalankan pada tahun pelajaran 2014/2015 adalah muatan kurikulum 2013 yang berlaku untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas yang berafiliasi di bawah Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia.

 
Dalam catatan tentang pengembangan sekolah ini, Romo Sebast menulis ada tiga pilar utama yang dapat menjadi landasan yang kuat untuk memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah yaitu sistem pembelajaran, manajemen sekolah dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sistem pembelajaran yang menarik, efektif dan efisien, kreativitas dan inovasi insan-insan pendidikan di sekolah akan berkembangnya. Sekolah menjadi rumah yang sangat menyenangkan bagi para siswa dan guru karena suasana yang menyegarkan.

 
Melalui menajemen sekolah yang otonom dan partisipatif, sekolah diberi kebebasan untuk mengelolah dirinya sesuai situasi dan kondisinya sehingga sekolah menjadi lebih mandiri, dan melalui pelibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan akan meningkatkan rasa memiliki para warga sekolah terhadap sekolah. Sedangkan dengan pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk optimalisasi berbagai sumber daya yang ada di masyarakat dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.

 
Di mata Romo yang delapan tahun memimpin SMA Santu Darius Larantuka ini, di antara ketiga pilar tersebut, manajemen sekolah, menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan kedua pilar yang lain. Tanpa manajemen yang baik, sistem pembelajaran tak akan tertata dengan baik. Tanpa manajemen penyelenggaraan pendidikan yang baik, siswa yang cerdas dan fasilitas yang mewah tidak cukup untuk mewujudkan sekolah yang baik. Sebaliknya dengan sebuah manajemen pendidikan yang baik, ketidakcerdasan siswa dan keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang bagi terwujudnya sebuah sekolah yang baik. Dengan demikian, manajemen sekolah mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap prestasi akademik siswa, terlepas dari faktor intelek siswa dan fasilitas sekolah.

 
Manajemen pendidikan pada tempat pertama haruslah berbasis sekolah. Mengapa? Karena sekolah tahu apa yang dimilikinya dan sambil membuka diri terhadap perkembangan dunia dan masyarakatnya, mempunyai ikhtiar untuk mengembangkan dirinya demi mewujudkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ikhtiar untuk mengembangkan diri itu terwujud dalam program kerja sekolah.

 
Program kerja itu bila terlaksana dengan optimal, akan menghasilkan output atau lulusan yang bermutu. Bermutu yang dimaksudkan disini berhubungan dengan tiga kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual. Kepala sekolah yang juga adalah anggota tim pastor paroki San Juan Lebao ini sengaja membalikkan tiga kecedasan ini seperti yang diketahui umum dengan tujuan selain untuk menegaskan bahwa jati diri sekolah ini adalah sekolah agama Katolik, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa sebuah paradigma baru dalam bidang pendidikan sedang dilaksanakan di lembaga pendidikan.

 
Bagi Romo Sebast, asumsinya adalah bahwa seorang yang cerdas secara spiritual akan mempengaruhi kecerdasan emosionalnya dan pada gilirannya akan melihat kecerdasan intelektualnya sebagai anugerah dan sekaligus tugas. Jadi, siswalah yang menjadi subyek penyelenggaraan pendidikan dan program kerja sekolah didasarkan pada dan diarahkan kepada pengembangan pribadi siswa menjadi pribadi yang dewasa.

 
Di titik ini, benarlah apa yang dikatakan Prof. Dr. Driyarkara: tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia muda menjadi dewasa. Atau,  mendewasakan manusia muda. Dalam arah berpikir seperti inilah, maka para penyelenggara pendidikan pada lembaga pendidikan SMAK St. Fransiskus Asisi bergerak untuk mewujudkan proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di sekolah ini di atas dasar pax et bonum.  

 
Sekiranya “sekolah baru” ini menjadi sebuah oase bagi kehidupan yang sedang jauh dari nilai-nilai kedamaian dan kebaikan. Ya...kedamaian dan kebaikan yang kini menjadi “barang langkah”, nilai yang jarang dikejar, nilai yang sering ditinggalkan dalam jejak-jejak waktu kehidupan.

 

No comments:

Post a Comment