Friday, January 30, 2015

Feature_Flores Pos


Ada dan Menyatu Dengan “Aku Yang Lain”
Anselmus Atasoge
Dosen STP Reinha Larantuka

Di hadapan lautan yang teduh di pinggir lapangan bola kaki Desa Bama Kecamatan Demong Pagong Kabupaten Flores Timur, mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Reinha yang tergabung dalam kelompok pencinta alam Reinha menggelar perkemahan. Tiga hari mereka menyatu dalam keheningan alam. Tiga hari penuh makna, tiga hari penuh kesan.

Ada dan menyatu bersama alam lingkungan menjadi kerinduan manusia-manusia zaman sekarang ketika bumi telah dipepaki oleh seribu satu macam persoalan yang tak habis-habisnya. Mahasiswa pencinta alam Reinha mencoba memberi arti dirinya di hadapan alam sembari menimba “kekayaan alam” yang terberi oleh Sang Pencipta.

Menurut ketua pencinta alam Reinha, Sesilia “Lian” Fernandez, kegiatan ini merupakan sebuah langkah awal untuk menggembleng pengetahuan, mental, kreativitas dan karakter mahasiswa. “Ini ajang pengembangan spirit dan jasmani demi menata masa depan”, katanya penuh semangat ketika sedang menarik tali-temali dan terpal untuk mendirikan kemah yang merupakan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur.

Hal senada disampaikan oleh Yohana Barek Sogen, mahasiswa semester tujuh STP  Reinha. Baginya, berada dan menyatu dengan alam bagaikan sedang berada dalam genggaman Tuhan yang empunya “bumi dan alam semesta” ini.  “Tuhan Mahadahsyat. KaryaNya begitu luar biasa. Berada dan menyatu dengan hasil karyaNya membuat hidup ini indah dan bermakna,” katanya ketika sedang menyiapkan makan malam untuk teman-temannya yang sedang mengelilingi api unggun.

Malam api unggun menjadi malam penuh kebahagian. Cahaya yang menyembul dari balik kekayuan yang mulai memerah seraya “menerangi” seluruh cita rasa kehidupan yang telah terpatri dalam jiwa. Pada momen itulah, para mahasiswa pencinta alam boleh memandang dirinya sebagai ens sociale yang keberadaannya tak terpisahkan dari sesamanya dan alam lingkungannya sebagai “aku yang lain”

Selain menikmati indahnya berada dan menyatu dengan alam, para mahasiswapun menyatu bersama umat Stasi Bama ketika bersama-sama mengikuti perayaan ekaristi pada Minggu I Adven di Gereja Paroki Bama. Dalam khotbahnya, Romo Laurensius Riberu, Pr menyentil soal kehadiran kelompok-kelompok pencinta alam di mana saja kelompok itu berada. Baginya, kelompok pencinta alam adalah jangkar kehidupan zaman sekarang. Mereka memberi hati mereka pada alam, merawat, menjaga, membuatnya jadi indah dan memaknainya sebagai “aku yang lain”.

Hari-hari penuh makna ini didampingi oleh Puket III STP Reinha, Alfonsus Mudi Aran, S.Pd,MM, pendamping pramuka Kabupaten Flores Timur, Ignasius Tukan dan Emanuel Lamahoda. Ignas dan Eman dengan gaya dan kekhasannya “memenuhi otak para mahasiswa” dengan gagasan-gagasan dan praktek-praktek nyata seputar kepramukaan.

Alam semesta menjadi media kehidupan. Alam juga menjadi sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan kehidupan. Belajarlah ada dan menyatu dengan  alam semesta ini sebab dia adalah “diriku yang lain”.

No comments:

Post a Comment