Ada
dan Menyatu Dengan “Aku Yang Lain”
Anselmus
AtasogeDosen STP Reinha Larantuka
Di hadapan lautan yang teduh di pinggir
lapangan bola kaki Desa Bama Kecamatan Demong Pagong Kabupaten Flores Timur,
mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Reinha yang tergabung dalam kelompok pencinta
alam Reinha menggelar perkemahan. Tiga hari mereka menyatu dalam keheningan
alam. Tiga hari penuh makna, tiga hari penuh kesan.
Ada dan menyatu bersama alam lingkungan
menjadi kerinduan manusia-manusia zaman sekarang ketika bumi telah dipepaki
oleh seribu satu macam persoalan yang tak habis-habisnya. Mahasiswa pencinta
alam Reinha mencoba memberi arti dirinya di hadapan alam sembari menimba
“kekayaan alam” yang terberi oleh Sang Pencipta.
Menurut ketua pencinta alam Reinha,
Sesilia “Lian” Fernandez, kegiatan ini merupakan sebuah langkah awal untuk
menggembleng pengetahuan, mental, kreativitas dan karakter mahasiswa. “Ini
ajang pengembangan spirit dan jasmani demi menata masa depan”, katanya penuh
semangat ketika sedang menarik tali-temali dan terpal untuk mendirikan kemah
yang merupakan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur.
Hal senada disampaikan oleh Yohana Barek
Sogen, mahasiswa semester tujuh STP
Reinha. Baginya, berada dan menyatu dengan alam bagaikan sedang berada
dalam genggaman Tuhan yang empunya “bumi dan alam semesta” ini. “Tuhan Mahadahsyat. KaryaNya begitu luar
biasa. Berada dan menyatu dengan hasil karyaNya membuat hidup ini indah dan
bermakna,” katanya ketika sedang menyiapkan makan malam untuk teman-temannya
yang sedang mengelilingi api unggun.
Malam api unggun menjadi malam penuh
kebahagian. Cahaya yang menyembul dari balik kekayuan yang mulai memerah seraya
“menerangi” seluruh cita rasa kehidupan yang telah terpatri dalam jiwa. Pada
momen itulah, para mahasiswa pencinta alam boleh memandang dirinya sebagai ens sociale yang keberadaannya tak
terpisahkan dari sesamanya dan alam lingkungannya sebagai “aku yang lain”
Selain menikmati indahnya berada dan
menyatu dengan alam, para mahasiswapun menyatu bersama umat Stasi Bama ketika
bersama-sama mengikuti perayaan ekaristi pada Minggu I Adven di Gereja Paroki
Bama. Dalam khotbahnya, Romo Laurensius Riberu, Pr menyentil soal kehadiran
kelompok-kelompok pencinta alam di mana saja kelompok itu berada. Baginya,
kelompok pencinta alam adalah jangkar kehidupan zaman sekarang. Mereka memberi
hati mereka pada alam, merawat, menjaga, membuatnya jadi indah dan memaknainya
sebagai “aku yang lain”.
Hari-hari penuh makna ini didampingi
oleh Puket III STP Reinha, Alfonsus Mudi Aran, S.Pd,MM, pendamping pramuka
Kabupaten Flores Timur, Ignasius Tukan dan Emanuel Lamahoda. Ignas dan Eman
dengan gaya dan kekhasannya “memenuhi otak para mahasiswa” dengan
gagasan-gagasan dan praktek-praktek nyata seputar kepramukaan.
Alam semesta menjadi media kehidupan.
Alam juga menjadi sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan kehidupan.
Belajarlah ada dan menyatu dengan alam
semesta ini sebab dia adalah “diriku yang lain”.
No comments:
Post a Comment