Wednesday, January 28, 2015

Artikel_Kabar NTT


ADORASI EKARISTI ABADI DI MUSEUM MGR. GABRIEL MANEK, SVD

Oleh: Anselmus Atasoge

 

Tidak lengkap bagi para wisawatan rohani yang datang ke Larantuka kalau belum menyempatkan diri untuk berkunjung ke Museum Mgr. Gabriel Manek, SVD yang terletak di Biara Pusat Puteri Reinha Rosari (PRR) Larantuka, samping Gereja San Juan Lebao di Kelurahan Puken Tobi Wangi Bao.

Di museum ini, para suster konggregasi Puteri Reinha Rosari mensemayamkan “jenasah utuh” pendiri konggregasinya, uskup pertama Keuskupan Larantuka Mgr. Gabriel Manek, SVD. Jenasah Mgr. Gabriel dipindahkan dari pekuburan di Techny, IL, Amerika Serikat, 10 April 2007 ke tengah Kongregasi yang didirikannya di Larantuka, Kongregasi Puteri Reinha Rosari. Selain jenasah utuh Mgr. Gabriel Manek, SVD, di museum ini pun disemayamkan kerangka tubuh co-pendiri konggregasi PRR, Sr. Anfrida, SSpS.

Semenjak 29 Juli 2014,  di museum ini pun ditahtakan Sakramen Mahakudus. Umat Katolik Dekenat Larantuka secara bergilir setiap hari selama 24 jam datang berdoa dan menyembah Tuhan di tempat ini. Inilah sebuah ‘ibadah’ yang dalam tradisi Gereja Katolik disebut dengan nama ‘Adorasi Ekaristi Abadi’.

Di Keuskupan Larantuka, ‘Adorasi Ekaristi Abadi’ diperkenalkan oleh Pastor Hugh Thomas, CsSR dari Australia. Pastor Tom mengisahkan bahwa perjuangannya untuk memperkenalkan Adorasi Ekaristi Abadi merupakan bagian dari persembahan seluruh imamatnya kepada Bunda Maria, Ibunda Yesus. “Bunda Marialah yang mendorong saya untuk jalan ke mana-mana!”, kata pastor yang pada Juli 2015 genap 50 tahun usia imamatnya.

Ada banyak tempat wisata rohani di Larantuka. Sebut saja yang sudah mendunia yakni Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana. Yang terakhir yang sedang didirikan adalah Bukit Fatima di San Dominggo. Sekiranya Adorasi Ekaristi Abadi  dan Wisata Rohani di Larantuka tidak sekedar sebuah ungkapan dari sense of religious manusia-manusia beriman melainkan lebih dari itu merupakan sebuah jalan untuk untuk  memperindah cermin kehidupannya sebab imago animi vultus est, indices oculi (wajah menjadi cermin hati, sementara mata memperlihatkan apa yang ada di dalamnya). 

No comments:

Post a Comment